Edinburgh dan Pesona Kastil Tua Skotlandia


Whatever you think you can do or believe you can do, begin it. Action has magic, grace and power in it.

By Johann Wolfgang

Hello World!

Edinburgh, 2 April 2017

Meninggalkan Kota London yang mahal menuju Edinburgh, sebuah Kota di Scotlandia. Untuk menuju ke Edinburgh aku menggunakan pesawat terbang dengan harga promo yang jauh hari sudah dibeli.  Saat di London aku baru menyadari kalau ternyata Bandara di London itu ada 4 kalau tidak salah, kebetulan keberangkatanku menuju Edinburgh dari Luton Airport, London.  Dari Cambridge Heath aku harus mengeluarkan uang untuk ongkos kereta sebesar £21,2 ke Luton Airport. Disini aku merasa sedih ketika Ponds merobek sakuku si pejalan ala backpacker dengan uang terbatas ini. Catatan bagi diri sendiri untuk tidak backpackeran ke UK karena mahal cin! Tidak cocok bagi turis miskin sepertiku 😀

Jadwal keberangkatan pesawat ke Edinburgh jam 1 siang namun jam 10 aku sudah berada di Bandara, mending menunggu daripada telat pesawatnya. Masih segar diingatan ketika persiapan masuk ke Inggris. Saat di Imigrasi Inggris, tidak begitu ditanya-tanya tapi yang pasti antriannya lumayan. Jadi mendingan sediakan waktu 3 jam sebelum keberangkatan, apalagi pengalaman saat di Eropa dan Inggris di Imigrasi ketat banget, sepatu dibuka dan laptop saja harus di tempat khusus. Sehingga perlu menyediakan waktu yang lumayan untuk proses imigrasi. Namun Alhamdulillah proses imigrasi Inggris tidaklah ribet.

Perjalanan London-Edinburgh tidaklah terlalu lama, mungkin hanya 1 jam perjalanan saja dengan pesawat. Aku sampai di Edinburgh sekitar jam 3 sore, dan langsung mencari cara ke Old Town Edinburgh dari Bandara. Tak jauh dari Bandara Edinburgh, Scotlandia terdapat tram menuju Kota dan harga tiket tram tidaklah terlalu mahal bila dibandingkan dengan Kota London. Harga tram ke Kota Edinburgh dari Bandara seharga £5,5, berbeda dengan saat ke Bandara di London yang minimal 20 Ponds. Kalau tidak mau naik tram menuju Kota Edinburgh bisa menggunakan Bis.  Aku sendiri mencoba keduanya, pas pertama kali sampai di Edinburgh dari Bandara, aku memakai Tram dengan tujuan St Andrew Square. Namun pas pulangnya aku menggunakan bis ke Bandara Edinburgh. Untuk harga naik bis lebih murah sekitar 1 Ponds.

Lucunya tram di Edinburgh ini mengingatkanku pada Istanbul. Saat masuk ke dalam tram, tidak terlalu ramai. Kemudian aku dapat leluasa memandangi pemandangan dari kaca. Aku masih tak percaya impian untuk menginjakkan kaki di UNITED KINGDOM tercapai. Dengan seksama aku mengamati pemandangan sepanjang jalan mulai dari rerumputan hijau, perumahan orang Scotlandia hingga sapi yang sedang merumput di Edinburgh. Sesekali aku senyum sendiri mengingat kenekatanku berpetualang ke Negara Mahal KATANYA padahal uang terbatas. Bahkan jujur aku masih tak percaya berada di Edinburgh, Skotlandia. Dalam hatiku ‘mak anakmu liar kali kakinya”!!

#edinburg #travel #british #european #travelblog #aroundtheworld #uk #mydreamtoexploretheworld #backpack #wanderlust

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Di dalam Tram ketika aku mendengar orang British dan Scotland berbicara bahasa Inggris aku langsung senang. Maklum “bristish aksen” itu terlalu sexy buatku. Walau biaya hidup di Inggris tidak sesexy aksennya 😀

Berada di Scotlandia benar-benar mengobati rasa kekecewaanku terhadap London. Karena KOTA IMPIAN ku itu adalah mendatangi London dan itu sejak ada sejak kuliah. Alasannya sederhana hanya karena ingin melihat Big Ben. Walau pada ujungnya pas sampai di LONDON dalam benakku “yaelah gini doang, masih bagusan PARIS”, padahal udah lah mahal!. Untung di Scotlandia mengobati rasa kekecewaanku, tak sia-sia lah habis uang 5 juta hanya untuk VISA INGGRIS saja!

Sesampai di Old Town, Edinburgh, mataku langsung berkaca-kaca bahkan merasa sangat terkesan. Kota Edinburgh begitu antik serasa berada di FILM HARRY POTTER. Yah Kota Edinburgh ini memang menjadi inspirasi dari JK Rowling dalam membuat karya Harry potter. Kotanya penuh dengan kastil tua, gereja tua, halaman rerumputan serta bangunan-bangunan kuno. Belum sesekali mendengar suara music “khas SCOTLANDIA” dengan alat music khas serta pakaian khas dengan rok ala Scotland.

Tak sia-sia aku melakukan perjalanan jauh ke Scotlandia! Bayangkan betapa jauhnya jarak Padangsidempuan ke Scotlandia ini 😀

Saat berada di Olw Town Edinburgh, aku berhenti di St Paul, karena menunggu host dari Rb n B. Memang selama di Inggris aku memutuskan lenih banyak menggunakan RB N B dibandingkan dengan Couchsurfing. Khusus di Edinbugh, aku menginap selama 3 hari dengan RB n B. RB n B ini semacam tempat penginapan murah bila dibandingkan menginap hostel atau hotel. Ibaratnya menginap di rumah warga local namun harganya jauh masuk akal dan lebih murah. Selama 4 hari di Edinburgh, 3 hari dengan Rb n B dan 1 hari menggunakan Couchsurfing. Ternyata pengalaman menggunakan RB n B lebih asik daripada Couhsurfing selama berada di Edinburgh. Karena pas di Edinburgh rumah hostku sangat dekat kemana-mana bahkan berada di tengah OLD TOWN Edinburgh. Jadi kalau aku hendak kemana-mana dekat sekali.

Setelah ngegembel di UK selama 6 hari akhirnya aku memutuskan pindah negara yang bersedia menampungku! Edinburgh masih kota favoritku karena banyak menemukan makanan halal, kemana-mana bisa jalan, banyak castle, bangunan tua, ada laut, ada bukit, ke airport naik bus £4,5 kalau naik tram £5,5, sekali makan bisa £5-10 tapi ada juga £3, belanja di market £6 udah dapat macam-macam terus kotanya cakep dan antik terus pas disini avenger lagi shooting lagi! Sayangnya disini dingin meski spring 5 derajat yang setiap malam membuatku biduran terus nginapnya sih hratisan dan yang paling penting Kotanya itu full of wifi gratiss tiss tiss! Untuk buah? Murce £2 strawberry gede-gede! Semoga bisa kesini lg dengan uang segepok😜 #edinburgh #scotland #european #uk #europe #british #travel #journey #mydreamtoexploretheworld ✈️Edinburgh

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Hostku orangnya juga asik, jadi dia membawa ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket. Pertama kali ialah dia mengajak ke Edinburgh Castle yang jika ingin naik harus melalui jalanan mendatar. Menariknya Kota Edinburgh bak berada di Kota dengan istana besar. Aku merasa berada di Hogwarts, padahal aku paling tidak percaya dengan sihir. Aku menganggap ini adalah KOTA dengan ISTANA TUA yang mempesona. Bahkan jembatannya aja kece badai. Pokoknya berada di Edinburgh membuatku betah berlama-lama!

"Hey please pinch my cheek, kataku

What for?

To make sure that i am not dreaming in Edinburgh", kataku

Aku baru saja berada di KOTA HARRY POTTER..

Ternyata mimpi itu bisa jadi nyata 🙂

Rincian Pengeluaran BACKPACKER EROPA di Edinburgh

09:00-10:00 Persiapan dari penginapan ke Bandara. Harga tiket kereta dari Cambridge Heath-Luton Airport £21,2

10:00-12:00 Imigrasi, antri di Bandara Inggris dan tidak begitu ditanya-tanya

13:00-15:00 Perjalanan London-Edinburgh dengan pesawat

15:00-16:00 Tram dari Edinburgh airpot ke St Andrew Square £5,5.

16:00-18:00  Jalan kaki ke penginapan kemudian jalan ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Tempat wisata yang didatangi pada hari-10 di Eropa 

Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Total biaya pengeluaran pada hari-10 di Eropa = £21,2  + £5,5 = 26,7

Salam

Winny

Iklan

Keliling PARIS


Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

AlBaqarah;216

Hello World!

Paris, 29 Maret 2017

"What else can we do in Paris?", tanyaku kepada Thimo
"Paris has plenty tourists attraction, you give it to me", jawabnya

Ternyata benar sebagai tuan rumah di Negerinya, Thimo tahu betul tentang seluk beluk Paris meski dia bukanlah berasal dari Paris. Buktinya meski aku hanya 2 hari di Paris, Perancis sewaktu trip 1 bulan di Eropa sendirian, aku dapat mengelilingi Kota Paris, itu semua berkatnya. Mulai dari bangunan yang mirip Taj Mahal ala Paris hingga ke Eiffel. Setelah kami berjalan kaki mengitari Eiffel dari ujung ke ujung, maka kami melanjutkan perjalanan dengan Metro menuju ST. Paul.

Baca juga tentang pengalaman di Menara Eiffel

Peta Metro di Paris

Dari St Paul kami mencati toko teh yang merupakan tempat favorite Thimo. Kata dia sih “memiliki teh dari seluruh dunia”. Sebagai penyuka teh, tentu aku sangat antusias dibawa ke toko teh di Paris. Nah sesampai di Toko itu hal pertama yang aku lakukan adalah menanyakan jika ada teh dari Indonesia.

"Do you have tea from Indonesia?", tanyaku kepada pemilik toko teh

Memang kalau pas jalan-jalan di Luar NEGERI sono entah kenapa jadi jiwa Nasionalismenya tinggi. Padahal ya pas di toko teh cuma nanya doang alias basa-basi. “Beli?, kagak”!

"Yes we have from Java, kata pemilik toko"

Langsung aku kegirangan melihat teh dari Indonesia itu. Sampai si Thimo tertawa melihat tingkahku

"Well, you are in Paris, but you are looking for tea from Indonesia?"
tanyanya tak percaya

Setelah itu barulah dia menunjukkan teh kesuakaan dia. Walau aku lupa sih teh darimana yang dia suka. Yang pasti seingatku teh di toko itu lumayan lengkap bahkan ada juga dari India tepatnya teh darjeeling. Namun karena ada dari Indonesia aku anggap teh toko di Paris ini kece. Sisi lainnya aku jadi tahu tempat kesukaannya membeli teh di Paris. Disini aku merasa beruntung jadi orang Indonesia karena begitu gampangnya menemukan teh, bahkan di warung sebelah rumah aja tinggal sebut merek langsung deh dapat teh bahkan sehari-hari biasa minum teh manis, teh tawar. Kalau di Paris harus nyari ke “toko serba teh”, kan ribet ya?

Toko Teh di Paris

Dari toko teh bernama “Mariage Freres”, yang terletak di Mariage Frères, 30 Rue du Bourg Tibourg, 75004 Paris, France, kami naik Metro lagi menuju Palais Garnier – Opera National de Paris. Sayangnya kami melihat Opera Paris dari jauh saja sambil melihat nama-nama yang ada di bangunan. Padahal Operas Paris ini merupakan bangunan yang ada sejak abad ke 19 dan dibangun sekitar tahun 1669 dan dibangun oleh Charles Garnier. Bangunanya sendiri menurutku unik dengan hiasan emas di ujungnya serta kata di bangunannya itu loh “ACADEMIE NATIONALE DE MUSIQUE”, jadi gregetan pengen masuk.

Namun karena diuber waktu serta kondisi keuangan yang ala kadarnya, jadi mimpi menonton Opera kapan-kapan sajalah. Habis mahal cin, harga masuk ke Opera House Paris itu 15.5 Euro sih! Disini hayati sedih, untung hayati tidak pengagum musik kalau tidak bisa sakit hati gegara gagal nonton konser opera.

Di depan Opera House Paris

Setelah puas melihat opera dari kejauhan, sama kayak Cinta pertama yang tidak bisa dimiliki, akhirnya aku diajak lagi mengunjungi wisata Paris lainnya. Dalam hatiku ya “banyak juga wisata Paris ini”.

“Winny, lets go to see Tomb of Napoleon”, ajak Thimo

Karena memang aku anaknya ngikut saja akhirnya aku iyain aja, kalaupun dibawa nyasar kagak tahu.  Eh ternyata kuburan Napoleon itu ada di Museum Army.

Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris didirikan pada tahun 1905. Awalnya sebagai rumah sakit dan tempat tentara penyandang cacat yang dibangun oleh Louis XIV. Hal menarik dari Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris adalah Makam Napoléon di Museum ini. Napoléon meninggal tahun1821, di Pulau St Helena sampai Raja Louis-Philippe memerintahkan mengembalikan jenazahnya ke Paris tanggal 15 Oktober tahun 1840. Tapi makam Napoleon baru ada sejak tanggal 2 April 1861. 

Untuk masuk harga tiket masuk ke dalam Museum Army harus membayar 11 Euro, namun karena kami datangnya sore sehingga museumnya sudah tutup maka kami gagallah mengeluarkan uang 11 Euro.  Arsitek dari Museum ini sangat bagus serta aku suka sekali dengan lapangannya yang luas bahkan sampai-sampai museum ini memiliki penjagaan yang lumayan ketat, seketat hati abang itu.

Meski tidak jadi masuk ke dalam dan gak mau rugi, akhirnya photo dari luar saja cukup membahagiakanku 😀

Khusus Musée de L’Armée atau Army Museum aku sangat tertarik masuk karena penasaran dengan makam Napoléon  namun sayang aku belum berjodoh dengan Napoléon  hihi 😀

Notre Dome

Dari Museum Army Paris, akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Notre Dome, Paris.  Tentu saja lagi-lagi dengan Metro di Paris. Maklum sudah beli Metro pass selama 2 hari sehingga harus dimaksimalkan penggunannya. Kan lumayan harga Metro pass 2 hari 18.5 Euro!

Kalau penjelasan Thimo katanya Notre Dome ini adalah Pulau buatan namun entahlah itu benar atau tidak. Yang pasti aku sudah mengunjungi salah satu contoh arsitek gothic Perancis terbaik “Notre Dame de Paris”. Notre Dome Paris berada di sebelah timur Île de la Cité di Paris, Perancis.

Karena kedatangan kami pas sore hari di Notre Dome, Paris sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Kami hanya melihat dari luar saja bersama turis lainnya. Nah menariknya pas di depan Notre Dome kami melihat grup musik memainkan alat musik dengan piawai. Saking piawainya menjadi pusat perhatian turis. Kami kan heran “kok banyak kali orang berkumpul dengan musik”, jadi kami penasaranlah apa yang dilihat turis itu. Kok rame-rame? Nah ternyata gegara abang-abang dan kakak-kaka yang main musik di depan Katedra.

"Winny, do you know how to distinguish them and musician in Metro?" tanyanya

"Well, they are good selecting place in tourist area", jawabku
"Nope, they play well and with their heart", jawabnya

Disinilah aku melihat sisi lain dari Paris yang katanya KOTA FASHION, KOTA GLAMOUR namun tetap saja masalah metropolitan adalah sama dimanapun berada “metropolitan tetaplah metropolitan”.

Banyak imigran di Ibukota Negara demi mengais rezeki!

Pengamen juga ada bok di Paris, namun pengamennya tidak seperti di Jakarta kalau tidak dikasih uang bisa BETE, disini mah,  “main musik yah main musik aja “, kalau ada yang ngasih syukur, gak ada juga gak apa. Tidak hanya di depan Notre Dome saja aku melihat pengamen, di Metro juga banyak pengamen. Bedanya di Metro sedikit yang memberikan uang, sementara di tempat turis seperti Notre Dome banyak turis memberikan yang kepada musisi jalanan Paris mulai dari 1 Euro, 5 Euro bahkan ada yang ngasih 20 Euro. Sementara di Metro pas aku lirik uang di sekitarnya paling recehan Euro. Kasihan sih melihatnya, ternyata hidup di PARIS itu keras!

Sisi lain di Paris yang aku lihat selain pengamen adalah para penjual buah di Metro yang ketika polisi datang langsung berlari sambil membawa barang dagangannya terus pas polisinya tidak ada kembali lagi berjualan. Ini mengingatkanku akan satpol PP yang main kucing-kucingan dengan pedagang asongan. Ironisnya dari beberapa pedagang di stasiun Metro beberapa dari mereka meninggalkan daganganya yang penting dia tidak kena RAZIA. “MEMANG HIDUP ITU PERJUANGAN! UNTUK ITU SERING-SERINGLAH BERSYUKUR”

Lagi shooting di dekat Sungai Seine

Paris ini ibarat pembelajaran sekaligus mimpi bagiku. Pembelajaran bahwa jangan selalu menganggap kalau EROPA bakalan tajir semua, itu salah besar. Karena di Paris ada juga pengamen!

Nah kenapa aku mengatakan Paris adalah mimpi bagiku karena aku dapat melihat Sungai Seine, terutama ketika pulang dari Notre Dome Paris. Memang impianku adalah berjalan mengitari Sungai Seine.

Dulu pernah buat status seperti ini “waiting for me in Seine River“!!

Alhamdullilah ternyata kata-kata itu adalah DOA dan akhirnya gadis kampung sepertiku bisa juga menginjakkan kaki di Paris dan melewati Seine River bahkan sampai ke Thames River hingga ke Danube.

Selain melewati Sungai Seine seperti impianku, hal menariknya aku temukan di Paris ketika pas jalan melewati jembatan, tak jauh dari Notre DOME eh malah melihat ada orang shooting. Alhasil aku pura-pura lewat dong manatahu ikut kena shoot hahha 😀

Niat ngartis banget ya? Disini aku kelihatan norak banget dan kampungan hehehe “D

Padahal ocehanku pada Thimo waktu itu “does it posibble to see Chris Evan, Captain America shooting in Paris?”, harapku. Eh malah ketemu tante berambut pirang yang shooting.

Tapi lumayanlah melihat orang shooting di Paris sampai-sampai aku kemarok pengen masuk shooting juga.

Kami hampir 30 menit juga melihat orang shooting lalu memutuskan kembali ke Menara Eiffel karena aku masih penasaran dengan Paris di malam hari dari Menara Eiffel.

Masjid di Paris

Oh ya satu lagi di Paris itu ada Masjid juga loh dengan Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris. Lumayan banyak tempat makanan halal di area La Grande Mosque de Paris sehingga tidak usah khawatir mencari makanan halal di Paris.  Buatku sendiri La Grande Mosque de Paris adalah OASE di Paris.

Nah kalau dipikir-pikir 1 Hari di Paris ternyata aku bisa menjelajah banyak tempat sekaligius.

Catatan tentang Paris

1. Harga turis pass Paris untuk 2 hari buat Dewasa (2 DAYS PARIS ADULT PASS) €135, remaja €83, anak-anak €46.

2. Harga turis pass Paris untuk 3 hari buat Dewasa (3 DAYS PARIS ADULT PASS) €169, remaja €99, anak-anak €52.

3. Harga turis pass Paris untuk 4 hari buat Dewasa (4 DAYS PARIS ADULT PASS) €199, remaja €109, anak-anak €58.

4.Harga turis pass Paris untuk 6 hari buat Dewasa (6 DAYS PARIS ADULT PASS) €239, remaja €129, anak-anak €75.

5. Turis Paris Pass adalah semacam tiket untuk turis termasuk ke museum, free entry to Top Paris attraction include bus tour. Karena jika ingin lama di Paris ingin masuk semua ke wisatanya akan lebih murah beli “turis pass”. Namun karena aku turis begpacker ke Eropa aja modal 10 juta sebulan, jadi aku kagak beli turis pass adanya pengen beli abang pas aja tapi kagak dapat-dapat,  😀

Salam

Winny

Cerita di Eiffel Tower, Paris Perancis


So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable.”
By Christopher Reeve

Hello World

Paris, 29 Maret 2017

Masih  segar diingatanku ketika pertama kali melihat Tokyo Tower saat berada di Tokyo, Jepang 8 Maret 2015 silam. Kala itu dalam hatiku “Yah ALLAH hari ini aku melihat Tokyo Tower yang mirip dengan Eiffel Tower, dan semoga suatu saat nanti bisa melihat Eiffel Tower juga”.

Keinginan untuk ke Menara Eiffel di Paris, Perancis lantaran penasaran dengan bentuknya dan design serta rangkanya yang sebelas dua belas. Tapi karena baru melihat Tokyo Tower maka kala itu aku berandai suatu saat bisa ke Paris agar bisa membandingkan langsung kedua menara itu.

Dan Alhamdullilah impian itu terwujud 2 tahun kemudian untuk mengunjungi Menara Eiffel di Paris, Perancis.

Baca juga perjalanan Trip Tokyo Tower

Aku di Tokyo Tower Jepang

Saat di Paris, memang tidak akan afdol rasanya kalau tidak mengunjungi ‘EIFFEL TOWER”, landmarknya KOTA PARIS. Kan biasa kalau tidak ke icon nya, tidak berasa berada di Kotanya. Kalau istilahnya “no pic, hoax”.

Namun meski demikian ekspektasiku tidaklah ketinggian mengenai MENARA EIFFEL. Aku hanya penasaran membandingkannya dengan TOKYO TOWER, apakah mirip Tokyo Tower dengan Eiffel Tower? Akhirnya pertanyaan diri sendiripun terjawab ketika sampai di Paris.

Aku mengunjungi Eiffel Tower di hari ketiga di Perancis. Bersama Thimo yang merupakan warga lokal Perancis menemaniku selama di Perancis bahkan dengan kebaikannya aku diajak ke wisata Paris dengan waktu singkat serta banyak tempat yang dikunjungi di Paris. Sampai-sampai ke tempat yang tidak masuk dalam daftar kunjunganku di Paris saja aku dibawa, kalau aku jalan sendirian di Paris, tidak mungkin kesana.

Baca juga perjalanan antimainstream di Paris

Setelah dari Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kami pun naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang. Memang karena aku Muslim, Thimo sangat waspada untuk memastikan makanan yang aku makan itu halal. Setelah memutar beberapa restauran di area entah berantah yang  hanya Thimo saja tahu, akhirnya kami makan di restauran Jepang dengan menu shirashi+teriyaki seharga 24 Euro/2 orang. Setelah dari pagi keliling Paris maka istirahat sejenak untuk makan siang rasanya begitu menyenangkan. Barulah setelah kenyang kami melanjutkan mencari Metro terdekat menuju Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars demi melakukan tour Eiffel. 

Tulip di Paris

Dari Metro Champs de Mars kami berjalan kaki ke arah Menara Eiffel. Dari kejauhan Menara Eiffel sudah terlihat lalu pas sampai di bawah Menara Eiffel yang menarik perhatianku adalah “TULIP”.

Hahhhh Tulip??

Iya Tulip, jadi aku pertama kali kegirangan itu bukan melihat Menara Eiffel namun Tulip dekat dengan Taman di bawah kaki Menara Eiffel.

Kok bisa malah tertarik dengan tulip bukan Menara Eiffel?

Jawabannya sederhana karena aku mengira kalau Tulip hanya ada di Belanda dan karena saat backpacker di Belanda aku tidak menemukan tulip karena aku malah mencari Kincir Angin BELANDA.

Padahal misi di Belanda itu ada 2 yaitu melihat kincir angin dan melihat tulip. Satu misi berhasil maka ada satu misi lagi yang tidak berhasil. Habis  kalau mau lihat tulip itu mesti bayar di Taman Keukenhof, Amsterdam. Jadi karena harus bayar akhirnya  aku tidak ke Taman Keukenhof. Habis dalam hati ‘yaelah bunga doang, mending ke TAMAN BUNGA CISARUA”(terus dilempar handuk hehehe”.

Nah kebayang kan kenapa pas nemun TULIP gratisan betapa bahagianya aku apalagi nemunya persis di bawah Menara Eiffel langsung deh wajahku seperti bocah kecil yang mendapatkan uang haha 😀

"Here we are, and this is EIFFEL TOWER, and what do you think?" 
kata Thimo dengan semangat

"So so, kataku 

Mendengar jawabanku langsung muka kecut di muka Thimo. Dari situ aku belajar bahwa jangan pernah sekali-kali mengatakan biasa saja mengenai Menara Eiffel kepada orang lokal Perancis. Karena mereka memiliki jiwa Nasionalisme tinggi.

Do not you think its incredible? tanya Thimo lagi

Just imagine how they built it at that time, lanjutnya

Terus akupun berpikir mengenai pernyataan Thimo serta setuju dengan pendapatnya. Aku malah berpikir kira-kira berapa ya jumlah besi yang dibutuhkan serta jumlah orang untuk membangun menara Eiffel dengan keterbatasan peralatan dimasanya? Disini aku merasa bahwa betapa orang-orang zaman dahulu betapa pintarnya. Karena bangunan setinggi ini dibangun tahun 1889 merupakan sesuatu yang patut di acungi jempol.

Eiffel Tower, Paris

Saat berbicara dengan Thimo mengenai Eiffel, kami berjalan kakimencari tempat pengambilan photo Eiffel terbaik. Waktu itu kami datang siang hari dan cuaca lumayan terik meski suhunya tetap dingin buatku. Seperti biasa di tempat-tempat kesukaan turis, maka Menara Eiffel juga banyak sekali turis sehingga mau berjalan sejauh apapun “manusia” dimana-mana. Mereka rata-rata ingin berphoto dengan latar belakang Menara Eiffel. Jadi sabar-sabarlah mencari titik pengambilan photo MENARA EIFFEL agar tidak ada orangnya.

Beruntungnya aku pergi dengan Thimo karena sebagai warga lokal dia tahu persis dimana titik pengambilan photo Menara Eiffel terbaik. Sisi terbaik untuk melihat Eiffel berada di sebuah Taman yang lumayan agak jauh karena jarang ada turis kesana. Tentu saja tempat melihat sisi Menara Eiffel aku tahunya dari Thimo.

Itulah sebenarnya manfaat kita mengenal warga lokal dan memiliki banyak teman di manapun, karena percayalah orang-orang inilah yang akan membantu kita. Serta selalulah berbuat baik kepada orang lain karena mungkin bukan orang itu yang akan membalas kebaikan kita namun bisa saja kebaikan itu akan dibalas dari tangan orang lain.

Jadi berbuat baiklah 🙂

Sayangnya kami tidak masuk ke dalam Menara Eiffel karena bayar dan memang aku anti bayar. Aku cukup bersyukur sudah berada persis di bawah kaki Eiffel mulai dari jarak paling dekat hingga paling jauh sekali. Dan memang misi Menara Eiffel bukanlan menyentuhnya melainkan melihatnya saja. Cukup melihat dari luar saja membuatku bahagia kok 🙂

Lucunya walau awalnya aku mengatakan Menara Eiffel itu biasa saja namun ujung-ujungnya aku minta kembali ke Menara Eiffel pada malam harinya karena belum puas berlama-lama di Menara Eiffel, Paris. Disini lah aku dibully abis karena mengatakan “biasa” saja eh padahal “balik lagi ke Eiffel”.

Aku di Perancis

Eiffel Tower dalam bahasa Perancis adalah Tour Eiffel, /tuʀ ɛfɛl adalah ikon global Perancis dan menari terkenal di dunia yang dibangun diarea Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Menara Eiffel ini dibuka pertama kali tanggal 31 Maret 1889.  

Padahal Eiffel Tower pada mulanya dibangun untuk menjadi bagian dari pameran mahakarya dunia l’Exposition Universelle yang bertepatan dengan 100 tahun Revolusi Perancis. Lama pengerjaan Menara Eiffel 2 tahun dari tahun 1887 yang namanya sendiri dari nama arsiteknya “Gustave Alexandre Eiffel”. Walau Menara Eiffel bukanlah rancangannya si Eiffel melainkan rancangan anak buahnya bernama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier. Yah mirip kaya pribahasa “kerbau punya susu, sapi punya nama”.

Menara Eiffel bahkan sampai tahun 1930 merupakan menara tertinggi di dunia. Menara memiliki berat 15 ribu ton, dengan 3 lantai serta memiliki ketinggian 312,27 meter, ditambah tinggi antena menjadi 324 meter. Lantai pertama pada ketinggian 57 meter, lantai kedua 115 meter, dan lantai ketiga 276 meter.

Oh wow, untuk bangunan yang ada sejak tahun 1889 sungguh keberadaan menara ini memukau!

Menara Eiffel

Jadwal masuk ke Menara Eiffel

Jam 9:30-23:00

Setiap Jumat dan Sabtu di bulan September sampai jam 00:00

Tiket ke Menara Eiffel

Kalau dari luar saja gratis namun jika ingin masuk dan naik ke Menara khususnya Top Eiffel maka bayar.

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan lift sampai lantai 2

-Untuk dewasa 11 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 8,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 4 Euro

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan naik tangga

-Untuk dewasa 7 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 3 Euro

Harga untuk naik ke Top Eiffel Tower

-Dewasa 17 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 14,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 8,5 Euro

Cara ke Eiffel Tower

1. Dengan Metro

-M9 turun di Trocadéro dan jalan kaki 5 menit

-M8 turun di École militaire jalan kaki 5 menit

-M6 turun di Bir-Hakeim jalan kaki 3 menit

2. Dengan RER

Turun di Champs de mars jalan kaki 1 menit

3. Dengan Perahu

Turun di Eiffel Tower dengan perahu via Seine

4. Dengan Sepeda

5. Dengan mobil

Cara ke Eiffel (Source: Toureiffel.paris website)

Alamat Eiffel Tower

Champ de Mars,

5 Avenue Anatole France,

75007 Paris, France

Baca juga perjalanan lengkap di Eropa

Salam

Winny

Menelusuri Jalanan Terkenal di Dunia, Avenue des Champs-Élysées, Paris


Keep Going. Your hardest times often lead to the greatest moments of your life. Keep going. Tough situations build strong people in the end.

By Roy T. Bennett

Aku di Avenue des Champs-Élysées

Hello World

Paris, Maret 2017

Beruntung!

Aku yang tidak tahu jalanan di Paris beruntung karena Thimo menemaniku keliling wisata Paris. Padahal kalau berbicara Paris aku tahunya Eiffel atau Arch de triomphe. Lucunya aku ingin sekali ke bangunan simpang lima di Kediri yang mirip Arch de Triomphe, PARIS, namun malah ke Arch de triomphe beneran.

Alhamdulillah rezeki anak soleh 🙂

Metro Paris

Waktu masih jam 9 pagi ketika kami meninggalkan Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot. Jauh-jauh kami ke Metro Porte Maillot untuk mencicipi makan pastry seharga coklat 1,2 Euro/bijinya. Nama toko yang kami cari itu bernama  A la Reine Astrid’s Paris sebuah took kecil yang berada di avenue de la Grande Armée (17th arr).

"You have to try it, its chocolate “caviar,” really delicious one, kata Thimo dengan semangat"

Sebagai penyuka cokelat, akhirnya ajakannya pasti aku iyakan. Toh aku sendiri juga backpackeran di Eropa ini. Dan jujur aku tak paham jalanan Paris, kalau bukan bantuan Thimo mungkin aku sudah nyasar-nyasar di Paris.

Paris

Keluar dari Metro kami berjalan ke sebuah toko kue. Toko kecil dengan beraneka ragam macam kue dan cokelat. Kue-kue disusun rapi, dan sang penjaga toko membolehkanku mengicip kuenya. Apalagi ketika dia mengetahui aku dari Indonesia dan seorang diri melakukan trip di Eropa, seolah bersemangat menyambutku. Langsung deh aku ditawarin icip kue mungil-mungil padahal harga kuenya cukup fantastis buatku. Tapi karena gratisan nyoba tester kuenya, aku mah senang-senang aja. Lagian siapa sih turis yang ke Paris nyari kue? 

It’s me!

Kalau dipikir-pikir dengan harga 1 kue itu aku bisa makan pecal, nasi goreng di Indonesia. Disitu bathinku bergejolak saat melakukan perjalanan jauh, aku akan rindu dengan makanan Indonesia. Namun bagaimanapun juga aku tetap menikmati icip-icip kue cokelat di Paris, toh udah niat juga nyari tokonya yang jauh dari kata “turis”. Mungkin hanya orang lokal saja yang tahu tempat ini, kalau aku sendirian belum tentu kesini.

Thimo membeli 5 pastry dan yang paling aku suka yang rasa cokelat. Lucunya kami makan pastry itu berdiri di pinggir jalan. Untung lagi di Paris, jadi tidak kelihatan gembelnya 😀

Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalan keliling Paris menuju Arc de Triomphe. Transportasi yang kami gunakan ialah Metro, karena kami sudah membeli Metro pass selama 2 hari artinya bebas menggunakan Metro selama 2 hari dan dipastikan lebih murah jika ingin keliling Paris.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe atau Arc de triomphe de l’Étoile merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati jasa tentara kebesarannya yang berada di area Champs-Élysées.

Sewaktu aku sampai di Arc de Triomphe, pengunjung lumayan banyak. Tak heran karena arsiteknya yang unik serta sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal hanyalah sebuah monument dan sekelilingnya jalanan biasa. Tapi begitu menarik perhatian. Bahkan untuk masuk lebih dekat harus bayar lagi. Karena aku adalah pejalan kere karena backpacker ke Eropa modal nekat dengan membawa uang 600 Euro untuk 1 bulan, akhirnya memandangi dan photo dari jauh dengan  Arc de Triomphe cukup membuatku bahagia kok.

Aku kan anaknya mudah bahagia 🙂

Avenue des Champs-Élysées
Winny, you follow me, I will show you famous street in the world, kata Thimo
What is the that?, tanyaku
Its, Avenue des Champs-Élysées, kata Thimo

Akhirnya aku mengikutinya menuju Avenue des Champs-Élysées, tak jauh dari Arc de Triomphe.

Benar saja pas sampai di Avenue des Champs-Élysées, toko branded berjajar bahkan ada sebuah show cabaret. Tapi beda ya kabaretnya bukan seperti yang ada di Thailand. Hampir aku penasaran dan membeli tiket, kapan lagi melihat show megah di jalanan megah. Namun aku ingat akan kondisi keuangan yang tipis. 

Sebenarnya menurutku jalanannya sih biasa saja, hanya saja Avenue des Champs-Élysées, ibarat surganya shopping.

Dalam hati “this is really Paris“.

Untung aku bukan anak yang doyan shopping, kalau tidak mak, aku akan khilap.

Avenue des Champs-Élysées merupakan Paris must-see terdiri dari restaurant hingga toko ternama yang berada diantara Place de la Concorde dan the Arc de Triomphe.

Kesan ketika menginjakkan kaki di avenue terkenal di dunia, merasa bak model tapi perasaanku saja sih. Habis orang Paris pakai baju biasa saja tapi kelihatan keren. Apalagi pakai baju yang wow ya?

Gak heran sih Kota fashion 🙂

Avenue des Champs-Élysées

Rincian Biaya Pengeluaran di Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan pastry coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Salam

Winny

Menjelajah Wisata Gratis Singapura


Every life is a pile of good things and bad things. The good things don’t always soften the bad things, but vice versa, the bad things don’t always spoil the good things and make them unimportant

By Unknown

 

Hello World!

Singapura, September 2017

Dari museum air force Singapura, kami menuju Orchad Road, salah satu tempat di Singapura yang membuatku penasaran karena di tahun 2013 silam tidak sempat ke Orchad Road. Katanya Orchad Road ini surganya bagi si penyuka shopping dengan brand terkenal.  Cara kami ke Orchad dengan MRT menuju ke Orchad. Bus yang kami naiki berbeda dengan bus 94 yang pertama menuju museum.

Sesampai di stasiun MRT, kami masuk dan naik MRT North South Line (Jurong East-Marina South Pier, Red) bisa di NS22-Orchard atau NS23-Somerset turun di EW14+NS26-Raffles Place Stn.

Sesampai di area Orchad maka kesan “Plaza Indonesia”, “Grand Indonesia” alias PI GI Jakarta langsung dibenakku. Mall megah dengan pertokoan lengkap dengan barang bermerek dari berbagai negara. Untungnya aku tidak terlalu suka membeli barang bermerk tapi kalau dikasih sih mau 😀

Keluar dari area Mall yang menyatu dengan MRT, aku dan Bang David duduk di salah satu bangku yang ada di depan Orchad Road. Nah di Orchad Road perhatian kami tertuju kepada keramaian turis yang antri. Eh rupanya adalah penjual es krim potong Singapura. Akhirnya kami berdua pun membeli es krim potong rasa mangga seharga 1,5 Dollar Singapura. Makan es krim di salah satu temapt duduk di Orchad Road ternyata seru juga!

Walau cuma sebentar di Orchad Road rasa penasaranku terbayarkan. Cukup tahu kalau Orchad Road Singapura luamyan OK untuk bersantai dengan pepohonan rimbunnya.

Orchad Road
Orchad Road

Dari Orchad Road kami menuju ke Marina Bay Sands tempat wisata gratis lainnya di Singapura. Caranya dengan naik MRT North South Line bisa di Orchard/Somerset (Jurong East-Marina South Pier, Red) turun di Raffles Place. Dari Stasiun MRT Raffles kami berjalan ke Merlion Park, iconnya Singapura. Meski kedatangan jam 2 siang namun lumayan ramai turis disekitar Patung Merlion untuk sekedar berphoto.

Kami sempat juga bersantai sebentar di dekat Patung merlion lalu kami lanjutkan berjalan ke arah jembatan unik dekat Marina Bay Sands “Helix bridge Singapore”. Kami menuju Esplanade kemudian belum sampai di helix bridge kami malah berhenti disebuah foodcourt. Wow, hal baru bagiku mengetahui ada jajanan disekitar Esplanade, masih dekat-dekat dengan kawasan Marina Bay Sands.  Jajanan tersusun rapi lengkap dengan bangku serta beraneka ragam makanan mulai dari seafood sampai mie. Bang David malah memilih makan mie seharga 5 Dollar Singapura dengan minuman Calamary 1.8 Dollar Singapura dan aku memilh minum Leci blended seharga 2.5 Dollar Singapura.

Tempat Makan dekat area Esplanade Marina Bay Sands

Setelah kenyang barulah kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Herlix Bridge Singapura. Jembatan dengan bentuk yang melengkung. Jujur baru pertama kalinya aku berjalan menuju arah jembatan Marina Bay Sands. Jalan kaki sepanjang jembatan. Dan kalau dipikir-pikir lumayan jauh juga kami jalan kakinya.

Setelah sampai di ujung jembatan kami  turun tangga ke arah kanan menuju ke wisata gratis Singapura lainnya, berupa Taman.

Lah kok taman?

Iya taman yang juga termasuk icon nya Singapura karena berbentuk pohon dengan lampu lucu-lucu.

Marina Bay Sands
Singapura

Taman yang kami kunjungi itu bernama Gardens by The Bay yang lumayan luas. Kalau hanya di luar saja gratis namun ada beberapa taman yang jika masuk harus bayar. Kami malah duduk santai di taman Gardens by the Bay sampai menunggu magrib.

Bersantai di taman Gardens by the Bay seolah tidak ada beban hidup!

Lumayan agak lama kami berada di Gardens by the Bay, tapi kami begitu menikmati suasana Singapura sore itu.

Gardens by the Bay

Di Gardens by the Bay ini memiliki aneka hiasan yang lucu-lucu dengan cahaya lampu yang bagus. Penataan tamannya bagus, bahkan botol plastik dibuat hiasan disekitar taman. Tak heran kenapa begitu banyak turis yang menikmati senja di Gardens by the Bay. Sebagian ada juga yang berolah raga disekitar taman.

Sayang waktu kami di SINGPURA hanya sehari dan tidaklah cukup di Singapura jika ingin ke beberapa tempat sekaligus. Apalagi kalau berbicara taman begini yang lumayan luas. Akhirnya jam 7 kami meninggalkan taman Gardens by the bay menuju ke Bugis karena kami hendak ke Malaysia. Nah pulangnya kami berjalanan mengikuti jembatan sambil keliling taman. Dari jembatan kami masuk ke Mall Marina Sands Bay yang diatasnya berupa kasino. Kami berjalan menuju MRT terdekat karena kami berburu waktu ke Kuala Lumpur, Malaysia via Johor Baru artinya kami mau tak mau harus pergi dari Gardens By the Bay.

Gardens By The Bay

Trip bakcpacker ke Singapura dengan Bang David akhirnya berakhir di Taman. Yang paling tidak aku dapat menjelajah 3 wisata gratis Singapura yang di trip pertama Singapuraku aku tidak kunjungi yaitu Air Force Musuem Singapura, Helix Bridgde Singapore dan Gardens By The Bay. Dan itu cukup membuatku bahagia, simple banget kan bahagianya?

Salam

Winny

Museum Gratis di Singapura, Air Force Museum


Sometimes if you want to see a change for a better, you have to be the things into your own hands
By Unknown

Air Force Museum, Singapura

Hello World!

Singapura, September 2017

Ke museum air force Singapura yuk, begitu ajakan bang David

Kalau bukan karena bang David aku tidak tahu kalau ada museum khusus angkatan darat, udaranya Singapurra.

“Bayar gak masuk ke museum Singapuranya? tanyaku”

“Gratis, jawabnya”

Mengetahui museum force Singapura gratis langsung tanpa pikir panjang aku iyakan padahal aku tidak tahu dimana lokasinya. Malahan Bang David yang lebih tahu bagaimana cara ke museum air force Singapura padahal dia baru pertama kali ke Singapura tapi udah lancar jaya mengahapal apa saja wisata gratis Singapura.

Air force Singapura

Setelah sampai di Pelabuhan Harbour font Singapura, setelah sekitar 30 menitan berhenti di kapal karena ada polisi Singapura memeriksa kapal kami, karena kami ke Singapura via Batam maka kami langsung menuju imigrasi Singapura untuk ngecap passpor. Kantor Imigrasi Singapura lumayan keren untuk ukuran masuk dari kapal terus setelah langsung terhubung dengan mall Vivo City.

Dari mall kami langsung mencari MRT sekalian membeli tiket pass Singapura. Tiket pass Singapura untuk sehari harganya 20 dollar Singapura sementara aku mentop up kartu E-bizz singapura sebesar 10 dollar. Kalau ada yang menanyakan lebih murah mana beli e blizz apa turis pass Singapura maka jawabannya relatif dari tujuan perjalananmu. Kalau mau full jalan seharian keliling Singapura maka belilah Singapura pass karena bisa balik 10 dollar Singapura untuk kartunya sementara kalau pakai e-bizz beli kartunya 5 Dollar tapi bisa sampai 5 tahun. Karena e-bizz aku beli waktu 2013 eh masih bisa pakai ampe 2018 kata si ibu petugas. Tapi kalau dihitung-hitung sama saja karena sama-sama rugi 5 dollar Singapura untuk masing-masing kartu (versi itungan kami).

Nah dengan MRT kami turun di Eunos Station, lalu kami menuju tempat bus dan menemukan warteknya Singapura saat menunggu bus. Harga makanannya 3 dollar Singapura dan langsung bahagia menemukan tempat makan murah dan halal di Singapura. Terus kami sempat makan siang dulu sambel ngemper di stasiun bus.

Rasanya nikmat!

Makanan murah Singapura

Setelah kenyang kamipun mencari bus no 94 yang antriannya paling pojok. Kami tidak terlalu lama menunggu hingga bis datang. Dengan e-bizz aku membayar buss Singapura sementara bang David memakai turis Pass Singapura.

“Bang tahu jalan kesananya gak? tanyaku”

“Tenang, ikutin saja,” katanya

Padahal kalau dipikir-pikir siapa yang sudah kedua kali ke Singapura siapa yang baru pertama ke Singapura eh malah bang David yang hapal jalan.

Perjalanan dari halte bus dekat Stasiun Eunos ke Museum air force Singapura tidak terlalu jauh. Sesampai di museum air force sekitar jam 12 an dan kami sampai di Singapura itu di Harbour fonth sekitar jam 11an. Di pintu masuk ada tulisan “air force museum”. Lalu kami masuk ke dalam museum.

Air force museum

 

Masuk ke dalam museum di depannya sudah banyak jenis kapal terbang yang tidak dipakai lagi beserta informasinya. Bagiku yang tidak tahu apa-apa tentang angkatan udara maka menjadi menambah wawasan bagiku. Tidak hanya pesawat, bahkan misil dan drone mirip halikopter aja ada di Museum air force Singapura.

Jadi pesawat yang sudah tak terpakai lagi akan di buat di museum air force Singapura. Jadi dari luar kelihatan jelas kapalnya.

Tidak hanya itu di lantai 2 ada informasi mengenai sejarah Angkatan udara, darat dan laut Singapura di museum air force. Bahkan museumnya canggih, ada layar touch screen serta earphone untuk mendengar informasi serta simulasi penerbangan.

Nah kami sempat bingung bagaimana daftar masuknya karena pas di pintu utama hanya ada sanggar berisi kapap. Eh ternyata ada di tengah petugas sehingga kita hanya disuruh mengisi buku daftar tamu lalu naik lift ke lantai 2.

Air force Museum Singapura

Di lantai 2 tak kalah menariknya, ada video serta penjelasan lengkap mengenai angkatan udara Singapura. Bahkan ada juga baju yang dipakai oleh angkatan. Bahkan baju angkatan udarabcewek juga ada loh!

Keren kan?

Di lantai 2 lah aku merasa kalau Singapura membuat Museum itu serius sekali. Canggih dan informatif.

Air force Museum

Sayangnya karena berburu waktu serta kami sudah keliling museum akhirnya kami memutuskan meninggalkan museum air force. Awalnya bang David mengira aku akan bosan dengan museum angkatan udara Singapura namun karena belum pernah serta museumnya lumayan Ok jadi aku senang-senang saja.

Air Force Museum Singapura

Cara ke Museum Air force Singapura

1. Naik MRT RED east-west turun di EW7 Eunos Stn/Int. Bus SBS Transit 94 turun di Opp Air Force Museum
2. Atau yellow CC11 Tai Seng jalan ke Citimac Ind Cplx naik Bus SBS Transit 90 turun di Opp Air Force Museum

Harga tiket masuk Air Force Museum

Gratis

Salam

Winny

Trip Weekend Camping Keluarga ke Cibodas


Whenever you acthing, act as if the world were watching

By Thomas Jefferson

Camping Cibodas

Hello World!

Cibodas, September 2017

Ajakan trip untuk camping dari kak Wisnu ke Cibodas langsung aku iyakan tanpa berpikir panjang. Padahal Cibodas itu dimana dan bagaimana kesana aku tidak tahu, aku tahunya ikut saja. Dengan semangat ’45 aku mengajak teman-temanku untuk camping seperti Mba Ninik, Melisa, Kartina, hingga si Boreg Meta namun apa daya pas hari H mereka semua tidak jadi ikut karena suatu hal. Karena aku sendirian hampir rencana camping keluarga batal, namun akhirnya diputuskan jadi juga. Belum lagi drama hujan pas malam sebelum keberangkatan. 

Untung trip keluarga ini jadi. Dinamakan camping keluarga karena memang camping ini terdiri dari keluarga lengkap. Keluarga yang ikut untuk camping adalah keluarga kak Wisnu dan Kak Ridwan. Khusus trip bareng Kak Wisnu ini merupakan yang kedua kali untukku setelah Gunung Munara.

Cibodas
Cibodas

Untuk menuju ke Cibodas, aku nebeng dengan keluarga kak Ridwan dengan titik berkumpul di Cibubur junction dari awal jam 4 pagi menjadi jam 5 subuh. Dari Jakarta aku menggunakan taxi online langsung ke Cibubur kemudian jam 6an keluarga kak Ridwan datang lalu aku nebeng bersama mereka ke Cibodas. 

Nah karena edisi camping jadi aku paling heboh bawa peralatan lengkap mulai dari jaket hingga makanan hingga baw abaju lebgkap.

Asli niat banget!

Tapi yang paling salut kedua keluarga ini yang benar-benar membawa peralatan lengkap lengkip untuk kemah.

Perjalanan Cibubur ke Bogor lumayan lama karena macet, meski kami berangkat sekitar jam 7an nyampe di Cibodasnya malah jam 11an. Meski demikian tidak bosan dalam perjalanan karena pemandangan sejuk Puncak. Terus mba Febbi juga sangat ramah serta kami malah bicara tentang jalan-jalan sepanjang perjalanan ke Cibodas.

Camping

Sesampai di Cibodas, kami langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda.

Ternyata mendirikan tenda tak segampang yang aku bayangkan. Aku dan kelurga kak Ridwan kewalahan dalam mendirikan tenda. Apalagi menancapkannya, sesusah menancapkan cinta di hati abang itu. Apalagi mendirikannya dibutuhkan usaha ekstra. Hampir 1 jam juga dengan kebersamaan akhirnya kami bisa mendirikan tenda.

Setelah tenda selesai barulah aku dan Mba Febbi tidur baru kemudian aku tertidur saking capek dan tidur yang kurang. 

Saat acara camping, lumayan banyak juga yang camping apalagi anak sekolah yang sedang ikut acara sepertinya sih memperingati Hari Pancasila.

Barulah sore hari keluarga kak Wisnu datang. Malamnya kami makan bersama. Padahal harusnya kami hendak nonton film tapi karena keluarga Kak Doni gidla bisa ikut sehingga kami makan malam saja. 

Menu makan kami adalah Nasi Kebuli yang dimasak oleh si Mba dan mie. Makan ala sederhana di tempat dingin rasanya nikmat sekali. 

Barulah selesai makan kami saling tukar pikiran. Tapi lebih tepatnya aku curcol ama Kak Febbi (istri Kak Ridwan) dan Kak Wilia (istri kak Wisnu). Camping yang kami lakukan lebih kepada camping manja karena semuanya serba ada baik berupa kamar mandi, musholla hingga pasar. Sempat aku berpikir kalau campingnya akan sesusah ke hutan seperti Papandayan dulu namun ternyata tidak, area perkemahannya sangat manusiawi untuk membawa keluarga. Padahal kalau dipikir-pikir ya dulu waktu sekolah paling malas ikut acara camping eh setelah gede malah pengen camping. Yang lucu celoteh si Mba katanya ada kamar bagus-bagus malah ke lapangan bak pengungsi. 😁😁😁

Begitulah manusia, selalu mencari yang tidak dia punya!

Nah karena tripnya trip keluarga jadi aku merasa diperlakukan seperti keluarga. Dan baru pertama kali aku ikut camping ke Cibodas yang merupakan bekas lapangan Golf.

Oh ya uang izin mendirikan tenda di Cibodas itu Rp27.500 ditambah uang air Rp5.000 dan diluar tiket parkir kereta. Kalau yang tidak mau repot seperti membawa tenda maka ada kok tempat penyewaan tenda, sleeping bag, matras hingga sepatu di Cibodas. Bahkan makanan juga mudah, tinggal beli. Pokoknya camping kondusif sekali bagi pemula. Apalagi ya udara dan pemandangan sekitarnya itu luar biasa. Pantas saja orang suka ke area Bogor karena menghirup udara segar. 

Untuk camping sendiri sangat seru karena aku ditemani bocah-bocah lucu, Aila dan Akhar. Namun pas malam hari udaranya cukup dingin sehingga harus membawa jaket tebal dan selimut tebal. 

Yang lucu keluarga kak Ridwan bawa perlengkapan lengkap mulai dari bantal sampai selimut, begitu juga keluarga kak Wisnu. Benar-benar persiapannya mantap!

Cibodas

Sayangnya camping kami sebentar sekali padahal lumayan seru. 

Jadi pagi harinya setelah sarapan kami langsung persiapan. Khusus yang masak itu Kak Wilia dengan cekatan. Baru bangun eh kak Wisnu udah ngasih makan ke tenda kami. Mba Febbi dan aku langsung pangling. Aku merasa pemalas sekali, memang udara dingin itu paling asik makan dan tidur.

Hari kedua Camping

Di hari kedua, kegiatan kami adalah trekking menuju air terjun. Ternyata air terjun yang kami datangi itu satu kawasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Intinya kalau mau ke Gunung Gede bisa lewat Cibodas.

Gunung Gede

Ada beberapa wisata yang bisa dilakukan di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menariknya di papan pengumuman terdapat jarak tempuh untuk masing-masing tempat wisata. Bahkan ketika kami ke loket pembelian karcis masuk Taman Nasional Gunung Gede setelah melewati anak tangga yang menanjak, di loket kak Wisnu sempat bertanya mau ke air terjun yang dekat atau air terjun yang jauh. Untuk air terjun yang jauh akan mendapatkan dua spot wisata yaitu telaga biru dan air terjun Cibeureum. Tiket masuk air terjun Cibeureum Rp18.500 dan jika ingin ke air terjun Ciwalen biayanya Rp40.000 dan melewati canopytrail. Namun akhirnya kami memilih ke air terjun yang jauh setelah keluarga kak Ridwan memberikan saran ke air terjun jauh.

Loket Wisata Taman Nasional Pangrango

Maka perjalanan treking kamipun dimulai. Kami berangkat sekitar jam 9 pagi. Jalanannya lumayan menanjak namun ada jalanan setapak dari batu sehingga mudah untuk diikuti. Yang paling aku suka adalah udaranya yang bersih. 

Serasa menyatu dengan alam!

Selama menanjak kami ada kalanya istirahat. Sesekali mengumpulkan tenaga karena rutenya lumayan jauh. Pada hari itu kebetulan pengunjung lumayan banyak karena pas kami treking sering berjumpa dengan orang. Bahkan beberapa membawa tas gede, kelihatan hendak camping ke Gunung. Disitu aku salut dengan anak Gunung yang memiliki fisik yang tangguh bahkan membawa tas segede begitu.

Telaga biru
Butuh waktu sekitar 2 jam agar sampai ke Telaga Biru, sayang pas sampai kesana warnanya hijau bukan biru. Namun tetap indah untuk dipandang mata.

Dari telaga biru kami butuh berjalan lagi sampai melewati jembatan batu yang beberapa berlubang, kiri kanan dengan pemandangan hutan dan pepohonan. Yah ibarat cuci mata dengan keindahan alam! Barulah sekitar jam 1 siang kami sampai di Air Terjun Cibeureum.

Jalan menuju air terjun
Oh ya kami juga sempat lupa membawa makanan saat trekking ke Air terjun. Untungnya ada Bapak yang jualan makanan berupa gorengan serta minuman di area air terjun dan sebelum air terjun. Khusus minuman agak mahal karena harganya Rp10.000 padahal biasa beli Rp3000 namun wajar karena jauh berjalan ke hutan demi jualan air minum dalam kemasan.

Air terjun Cibeureum cukup menarik karena ada dua air terjun yang saling berdekatan. Dan diujungnya lagi ada satu dalam satu kawasan jadi ada 3 air terjun. Namun karena kelihatan jelas adalah 2 air terjun sehingga sering disebut air terjun kembar. Menariknya di lokasi air terjun tersedia toilet, Musolla dan penjual makanan serta tong sampah. Jadi lumayan lengkap fasilitasnya meski pas perjalanan kami masih melihat banyak sampah yang dibuang sembarangan. 

Sayangnya kami tidak lama-lama di air terjun hanya sekitar 1 jam saja karena kami hendak pulang. Lucunya pas pulang hanya membutuhkan waktu 2 jam saja padahal pas naik 4 jam eh di lokasi 1 jam saja. Walau demikian piknik singkat trip bareng kedua keluarga ini cukup seru.

Pas kami sampai di tempat semula itu jam 4 sore dan hujan turun deras. Dan tebak jam berapa aku sampai di Jakarta?

Jam 11 malam 😰

Air Terjun Cibeureum

Tips Kemah Cibodas dan mendaki

1. Area Cibodas cukup lengkap peralatan kemahnya jadi yang tidak memiliki peralatan kemah bisa menyewa di area perkemahan Cibodas

2. Untuk cara ke Cibodas Golf dengan menuju ke arah Puncak Bogor kalau dari bogor bisa ke Barangnisiang terus bisa dengan angkot warna kuning ke arah Cibodas, ingat lokasinya adalah bekas Golf jadi Bumi perkemahan Cibodas.

3. Bawa jaket tebal karena pas malam hari sangat dingin

4. Bawa sepatu dan makanan serta minuman saat trekking

5. Terdapat tempat mandi di perkemahan Cibodas jadi bisa mandi juga

6. Kalau bisa pas kemah jangan sendiri karena lebih seru beramai-ramai

Salam 

Winny