Mencari Buku Terbesar Dunia di Kuthodaw Pagoda, Myanmar


Everything you want is on the other side of fear

-Anonymous-

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat sunrise di Mandalay Hill, aku dan Ade mencari Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Awalnya kami penasaran seperti apa kiranya buku terbesar di dunia. Tentu sangat keren bisa melihat buku terbesar di dunia karena keinginan untuk melihat Alquran besar di Palembang belum kesampaian. Menurut tempat peminjaman motor kami, salah satu tempat yang wajib kami kunjungi di Mandalay adalah Kuthodaw Pagoda. Lokasinya pun dekat dengan Mandalay Hill.

Yang lucu adalah cara mencari Kuthodaw Pagoda dengan navigasi sekedarnya. Kami sempat tidak yakin bahwa tempat yang sudah kami kunjungi adalah Kuthodaw Pagoda. Sederhananya bangunannya dari luar dipagari tembok putih dan banyak turis yang berdatangan. Untuk masuknya pun agak ribet karena kami hanya melihat dari sisi luar hingga dengan usaha ekstra kami dapat menemukan pintu masuk Kuthodaw Pagoda.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Masuk ke dalam Kuthodaw Pagoda tidak perlu biaya administrasi, karena memang tempat ini juga menjadi tempat ibadah bagi warga lokal Myanmar. Dari luar pintu depannya mirip Pagoda dengan kiri kanannya berwarna putih. Untuk masuk harus membuka sandal/sepatu dan kaos kaki karena memang wajib hukumnya jika memasuki Pagoda/Candi di Myanmar. Udara waktu itu cukup panas, sehingga kami harus menahan rasa panas di lantai Kuthodaw Pagoda. Namun cukup seru masuk kedalam apalagi melihat keramaian pengunjung Kuthodaw Pagoda.

"Nya, mana sih buku besarnya", celoteh Ade kepadaku

Sedikit heran juga menjawab pertanyaan Ade karena sepanjang kami menelusuri ke dalam tidak ada tanda-tanda buku besar. Hingga kami semakin masuk kedalam Kuthodaw Pagoda tetap tidak menemukan buku besar. Akhirnya kami mulai curiga kalau buku besar yang dimaksud berada di dalam Pagoda putih yang berjajar. Karena memang Pagoda putih seolah melindungi sesuatu. Selebihnya di dalam Kuthodaw Pagoda ada Pagoda dengan warna keemasan yang ditutup bungkus karena sedang direnovasi.

Aku bahkan sempat tertidur sejenek pas kami duduk di dalam Kuthodaw Pagoda, menyerah mencari buku terbesar. Padahal cuaca panas, mungkin ini efek dari kecapean setelah perjalanan dari Bagan ke Mandalay.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar
"Nya, jangan-jangan ya bukunya di dalam Pagoda putih itu", kata Ade

Lalu kami berdua pun mendekat ke dalam Pagoda putih yang berjajar menghias Kuthodaw Pagoda. Dugaan Ade benar adanya ternyata buku besar itu berada di dalam Pagoda dan berisi seperti buku dari semen dengan tulisan yang kami tidak tahu, dengan aksara Myanmar.

Ini mah gak cocok buku besar, cocoknya buku luas, 
kata Ade dengan sedikit merasa "zonk"

Wwkwkwk, betul anggukku

Memang ekpektasi tidak selalu sama dengan kenyataan. Karena kami menganggap buku gede yang bisa dibaca ternyata hanyalah semen bertulis di dalam Pagoda. Namun tak apa, cukup menjawab rasa penasaran kami. Dan kapan lagi dikerjain oleh suatu bayangan? 🙂

Ade di Kuthodaw Pagoda

Akhirnya karena merasa zonk dengan buku yang tidak kami bisa baca, si Ade malah mengajak untuk berphoto disamping Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Meski sedikit kecewa karena tidak bisa membaca namun justru disitu letak keseruaan perjalanan Mandalay kami. Kapan lagi menghayal duduk manis dalam Pagoda sambil baca buku gede namun pada kenyataannya buku tersebut berada di dalam Pagoda tersusun sehingga alhasil bukan membaca malah menjadi berphoto.

Kan seru?

"Nya ambil photoku diantara Pagoda itu ya terus aku pura-pura jalan", kata Ade

Pendapatnya lagi-lagi benar karena bagus Pagoda putih itu. Apalagi dtambah dengan sentuhan pepohonan.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Puas dengan Kuthodaw Pagoda meski gagal membaca buku besar, aku dan Ade pun keluar dari Pagoda. Kami mencari makan diluar pagoda yang ujung-ujungnya kami duduk santai di depan Pagoda sambil menikmati minuman. Minuman yang kami pesan adalah lemon tea sambil melihat Kuthodaw Pagoda dari luar, merasa kami dikerjain oleh Pagoda.

Mandalay ternyata memiliki cara tersendiri untuk menyambut turis seperti kami. Dalam pikiranku teringat Melisa bahwa pilihannya untuk memilih Inle daripada Mandalay selama di Myanmar adalah benar adanya, tentu saja dari pendapatku. Toh setiap orang beda minat dan kesukaannya.

Salam

Winny

Iklan

Singgah Sebentar di Hamburg, Jerman


Once you love something, you can never stop loving it

By G David

Hello World

Germany, April 2017

Hari ke-14 di Eropa, aku berada di Bremen, German. Perjalanan di German termasuk singkat padahal aku sangat suka dengan keramah tamaan orang German. Terlebih ketika aku sendirian di Bandara Internasional, Bremen dari Edinburgh, Scotlandia. Petugas Bandara dengan seyum kepadaku serta dari mimik wajahnya terlihat jelas keingintahuannya mengenai diriku kenapa bisa seorang diri berada di Eropa. Dia sempat menanyakan apa yang membuatku nyasar di Bremen, wanita sendirian.

Memang agak jarang ada turis asal Indonesia yang datang ke Bremen. Biasanya turis akan datang ke Berlin, Hamburg atau Kota besar lainnya di German. Pemilihan ke Bremen pun karena tiket yang paling murah dari Edinburg itu adalah Bremen. Alasan lain adalah karena aku menganggap antimainstream perjalanan ke Bremen. Secara kalau ditanya, “kamu ke mana di German?”, terus aku jawab “Bremen”, kan anti mainstream 😀

Di Bremen, German aku  sudah mendapatkan host Bremen bernama Daniel.  Si Daniel bahkan dengan baiknya menjemput di Bandara, karena aku tidak tahu jalan. Terus di apartemen Daniel ternyata aku memiliki kenalana, yaitu cewek asal Polandia bernama Victoria, yang juga sedang di host oleh Dadiel.

Karena Daniel harus bekerja maka yang menemaniku adalah Victoria. Nah selain Daniel aku juga memiliki host lain bernama Frank.  Frank inilah yang paling baik hati membantuku mengantar ke terminal bus Bremen, German menuju perjalananku berikutnya yaitu ke Praha.

"Pick up service coming", begitu kata Frank ketika datang menjemputku dan Victoria

Barangku sudah aku kemas secara cepat, serta sarapan bersama Victoria sambil cerita-cerita. Victoria yang bosan di apartemen Daniel ikut serta mengantarku ke Terminal. Memang aku beruntung karena aku tidak mengenal siapapun di Bremen, German namun dengan cepat berkenalan dan cepat akrab dengan kedua orang ini.

Jujur, sedikit menyesal bagiku meninggalkan German dengan cepatnya karena ternyata di German seru apalagi aku baru mendapatkan teman baru. Bahkan menurut Daniel kalau Victoria sedikit aneh eh malan asik aja diajak ngerumpi, sampai kami gosipin host kami sendiri. Habisnya hostnya menyuruh kami memakai mesin cucinya yang semua tombolnya pakai Bahasa German, alhasil kami berdua berbingung berdua.

Kan kurang asem!

Setelah Frank datang, aku dan Victoria sudah siap sedia menuju terminal Bus Bremen. Aparteman Daniel kami kunci lalu kami menuju mobil Frank. Victoria duduk di bangku depan,  sedangkan aku duduk santai di belakang bersama tas dengan beban 15kg.

Dalam perjalanan aku mengamati Kota Bremen, antik serta ada sedikit rasa puas dapat mengunjungi Kota yang pernah menjadi pasar tembakau dunia. Bangunannya tertata rapi serta jalanannya juga mulus. Jarak menuju ke terminal tidaklah jauh, hanya berselang 20 menit saja. Baru juga bersantai eh tahu tahu sudah sampai di terminal.

Hal yang aku suka dari German adalah teknologinya canggih. Canggihnya ada hiasan Kota bisa bergerak secara otomatis. Padahal kesannya Kota “tua” tapi “canggih”.

Sesampai di terminal Bremen, Frank memarkirkan mobilnya lalu kami bertiga berjalan kaki dari tempat parkir. Untuk terminal Bremen lumayan indah dan ramai. Di terminallah kami makan pagi, dan pilihan kami adalah Kebab Turkey, hasil pilihanku karena itulah yang ada tulisan “Halal”. Bertiga kami memesan Kebab sambil makan di terminal. Namun tempat terminal busku bukan di tempat kami makan siang, berbeda tempat. Awalnya aku mengira terminal itu adalah tempat bus berada, ternyata bukan. Yasudah akhirnya menikmati makan siang bersama Frank dan Victoria.

Lagian jadwalku menuju ke Praha dari Bremen jam 1 siang, artinya aku, Frank dan Victoria masih ada waku untuk jalan-jalan sekitar Bremen.

Tidak hanya itu, aku sudah memiliki tiket bus dari Bremen ke Hamburg dengan menggunakan Flix bus, hasil pinjaman CC temanku si “Ade” di Indonesia karena aku tidak bisa membeli tiket Flixbus secara online karena tidak punya kartu kredit.

“We should eat girls”, begitu kata Frank kepada kami.

Tentu saja kami mengiyakan karena kami juga lapar terus dapat traktiran pula sama Frank, kan namanya beruntung 😀

Nah saat memilih makanan, penjaganya tahu senyum-senyum melihatku memesan makanan serta sok-sok an mengucapkan terimakasih dalam bahasa German yang aksennya aksen Batak banget.

“Danke”

Setelah kenyang, kami pun meninggalkan Terminal. Kalau aku tidak jadi ke Praha, Frank dan Victoria ingin mengajakku menonton film German di Bioskop Bremen. Sempat membuatku merasa iri setengah hati karena tidak bisa menonton film German di Negara Germana di Bioskop German (sedikit lebay).

Sorry Winny, you do not have time for cinema, kata Frank

Ah mungkin lain kali bisa nonton di German 🙂

Victoria dan Frank lalu mengatarkanku ke Terminal Bus, tak jauh dari tempat kami makan siang. Entah kenapa sedikit rasa sentimen ketika berpisah dengan dua orang yang baru aku kenal. Tapi perjalanan backpacker Eropa seorang diri harus berlanjut. Maka babak sendirian menunggu bus di terminal di Kota Bremen pun terjadi.

Jadwal keberangkatan busku terlambat. Untuk mengurangi rasa bosan akhirnya aku menuju ke dalam tempat pembelian tiket bus dari Praha ke Vienna karena aku harus membeli tiket menuju negara di Eropa lainnya yang hendak aku kunjungi. Memang untuk memesan tiket bus secara langsung di kounter di Eropa bisa dilakukan apalagi dalam kasus tidak memiliki kartu kredit. Aku lega bisa mendapatkan tiket ke tempat tujuanku berikutnya. Llau aku keluar dari tempat pembelian tiket dan menunggu bus di luar.

Cukup lama aku menunggu kedatangan bis, ditambah udara German yang dingin meski kelihatan terang benderang. Satu persatu orang berdatangan dan pergi. Aku yang sendirian menunggu bus hanya bisa menikmati pemandangan sekitar, kadang berdiri dan kadang duduk selonjoran di lantai.  Penungguannya tidak seperti terminal bus, hanya ada tanda kecil kalau itu tempat menunggu bus.

Akhirnya cukup lama menunggu, bus datang lalu satu persatu dari penumpang di panggil untuk masuk ke dalam bus. Ini pertama kalinya aku menggunakan bus selama di Eropa, dan itu sendirian. Hal yang diperhatikan adalah nama bus, jadwal dan nomor bis jangan sampai salah apalagi salah jadwal 😀

Dari hasil google banyak yang menyarankan untuk menggunakan Flixbus namun ternyata pas di Eropanya banyak juga loh bus yang nyaman dan harganya Ok. Kalau flixbus enak pas beli jauh-jauh hari karena BISA DAPAT HARGA DISKON namun pas di hari H belinya harganya agak mahal. Untuk fasilitas adanya wifi gratis dan ada minum di bus namun bayar lagi. Berbeda dengan naik bus Regio jet yang dapat minum gratis serta murah. Tapi daripada tidak ke Praha maka aku bersyukur juga bisa mendapatkan bis ke Praha dari Bremen.

Perjalanan darat dari Bremen ke Praha pun dimulai…

Di dalam bus yang sudah ada nomor duduk dan masuk ke dalam bus harus diverifikasi oleh petugas. Dalam perjalanan Bremen ke Praha sangat menyenangkan karena aku seakan mengelilingi German secara keseluruhan.  Dari kaca jendela aku melihat jalanan German, mulai dari rumput biasa, hingga daerah industri. Dari tiket, kami akan berhenti dan berganti bus di Hamburg selama 30 menit.

Inilah salah satu keuntungan naik bis di Eropa karena bisa melihat banyak daerah di Eropa apalagi pas hari masih terang. Nyaris aku tidak tidur selama berjalanan dan benar-benar menikmati perjalanan Bremen-Hamburg dengan jalan darat.

Kami sampai di Hambug sore hari, pas bus berhenti di Hamburg, lantas aku dengan sigap keluar dari bus dan membawa tasku untuk keliling Kota Hamburgh. Dari stasiun bernama Zental Omnibus Bannhof aku keluar, menyeberang jalan menuju Gereja yang aku lihat saat di kaca jendela bus. Misinya ingin melihat Hamburg sebentar. Karena waktu hanya 30 menit maka aku tidak mau menyia-nyiakan untuk melirik Kota Hamburg.

Di Kota Hamburg sangat ramai dan banyak bangunan tua, serta ada bus bertingkat yang lucu. Tidak hanya gereja bahkan terdapat pasar. Kesemua tempat wisata di Hamburg yang aku kunjungi memang tak jauh dari terminal bus. Walau singkat terlihat jelas kalau Hamburg lebih ramai daripada Bremen. Aku sempat tergoda untuk makan di Hamburg di dekat Gereja yang aku lewati. Namun karena waktu, niat makan aku kurungkan.

Tidak hanya itu, Hamburg memiliki peta wisata sehingga bagiku yang pertama kali ke Hamburg bisa melihat rutenya, hanya saja karena tidak ada waktu maka aku hanya sekilas lihat saja. Kemudian dengan tergesa-gesa kembali ke Terminal bus untuk menunggu panggilan namaku. Kan gak lucu ketinggalan bus 🙂

Walau singkat di Hamburg, German aku cukup senang sempat berjalan keliling Kotanya dengan tas gedeku.

Bremen, 6 April 2017

08:00-10:00 Persiapan ke Praha

10:00-11:00 Diantar ke Terminal bus dan ditraktir makan oleh Frank dan jalan bareng teman dari Polandia

11:00-13:00 Menunggu Flixbus ke Praha, ongkos tiket bus ke Praha dari Bremen 20 Euro (minta beliin Ade Putra)

15:00-00:03 Perjalanan darat Bremen-Praha

Tempat wisata yang didatangi pada hari-14 di Eropa

Terminal bus Bremen

Total biaya pada hari-14 di Eropa 20 Euro

Salam

Winny

Sunrise di Mandalay Hill, Myanmar


Everybody loves. Everybody loses. And we’re all better for it.

By Chrissy

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat ritual pembersihan Patung Buddha Mahamuni di Mandalay, aku dan Ade melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, Myanmar untuk melihat sunrise yang katanya titik tertinggi di Mandalay. Dengan bantuan peta offline yang sudah di download kami menuju Mandalay Hill dengan sepeda motor yang kami sewa. Cukup nekat memang kami berhubung kami tidak tahu jalanan di Mandalay serta suasana masih subuh saja.

Nya, ini yah di Indonesia saja kagak berani naik motor ya,
ini di jalanan Negeri orang aku berani, 
kalau tahu mamaku aku dimarahin, celoteh Ade

Memang Mandalay Hill merupakan titik tertinggi melihat Kota Mandalay dari atas bahkan sunrisenya cukup terkenal. Padahal jujur saja aku tidak ada ide seperti apa Mandalay Hill itu. Belum lagi aku memberikan arah yang salah karena kelemahan dalam membaca peta. Aku tidak bias membedakan mana “kiri” dan “kanan” yang sempat membuat Ade dan Melisa heran bagaimana bisa aku bertahan backpacker sendirian ke Negeri orang padahal baca peta saja tidak becus. Untungnya meski nyasar beberapa kali kami sampai di Mandalay Hill.

Ketika sampai di Mandalay Hill, kami sempat ragu apakah  tempat yang kami kunjungi adalah benar Mandalay Hill karena tidak ada tanda-tanda temple atau cara ke bukit yang seperti Ade bayangkan. Bahkan kami sempat  bertanya dimana MANDALAY HILL itu padahal jelas-jelas kami di Mandalay Hill. Bahkan sempat naik ke sebuah tempat seperti pasar terus turun lagi saking tidak yakinnya hingga menanyakan orang kesekian kalinya dimana tempat Hill itu. Rupanya Mandalay Hill melewati pasar yang telah kami lalui, sebuah pasar untuk membeli oleh-oleh tepatnya. Hill tempat sunrise Mandalay berada di area Su Taung Pyae Pagoda dan masuk ke dalam harus membayar uang retribusi 12,000 KS. Agak enggak membayarnya namun karena sudah jauh-juah serta perjuangan melewati jalanan yang menanjak akhirnya kami membayar juga. Di dalam Pagoda hanya ada penjaga saja sementara kami duduk di luar Pagoda menunggu sunrise.

"Nya, berkabut, sedih deh padahal udah jauh-jauh kesini", kata Ade

Yah trip Myanmar kami memang banyak banyak tujuan wisatanya terutama Kota-kota yang ingin kami kunjungi.  Salah satunya sunrise dari Mandalay Hill. Karena melihat kabut menutupi pemandangan Kota Mandalay dari atas, akhirnya kami memanfaatkan dengan memphoto Temple saja. Hingga akhirnya jam 6 an, sunrise yang ditunggu pun ada. Kabut sudah mulai berhilangan dan membuat Ade mulai bahagia.

Ya ampun Nya, aku kira tadi tidak ada sunrise di Mandalay Hill, 
dalam hati gue gila udah jauh kesini malah lihat kabut, 
katanya dengan penuh semangat

Memang sunrise yang kami tunggu agak sedikit mengerjai kami. Seolah tidak ada namun ternyata ada, warnanya orange dan bulat serta dari atas kelihatan Kota Mandalay. Hanya saja karena aku takut ketingian sehingga untuk dekat ke tepi amit-amit. Selain itu memang kami datangnya agak kecepatan ke Mandalay Hill. Karena waktu kedatangan terhitung jari jumlah pengunjung kemudian setelah mulai sunrise barulah banyak pengunjung yang berdatangan. Yang lucu ada turis Bule entah dari Negara mana malah mempotret kami, mungkin dikira kami warga local Myanmar, padahal jelas-jelas kami tidak memakai Thanaka layaknya orang Myanmar. (Thanaka = bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan kesehariannya suka memakai bedak dingin baik wanita maupun pria).

Setelah puas melihat matahari terbit dari Mandalay Hill, kami pun berkelililing untuk melihat spot terbaik di Mandalay. Dan melihat sunrise di Mandalay memang melebihi ekpektasi kami karena kami merasa urutan Kota untuk dikunjungi di Myanmar itu adalah Inle, Bagan kemudian Mandalay (versi kami). Jadi kami tidak terlalu berharap kalau sunrise yang kami lihat bakalan Ok, namun kami salah karena sunrise di Mandalay lumayan ok apalagi dengan latar belakang Pagoda serta melihat Kota Mandalay dari atas Bukit.

Untuk naik ke Su Taung Pyae Pagoda ternyata bisa menggunakan lift, selain tangga yang kami lewati. Belum lagi banyak Pagoda disekiatar Mandalay Hill, sehingga yang penyuka wisata Pagoda bisa puas melihat Pagoda di Mandalay hill. Namun tentu saja Pagodanya berbeda bentuknya seperti yang ada di Bagan, Pagoda di Mandalay lebih mirip seperti yang di Thailand, dengan bentuk runcing serta warna keemasan.

Anehnya meski kami tahu ada lift untuk turun, kami malah memilih menuruni tangga dan kembali melewati pasar dadakan dengan oleh-oleh khas Mandalay melewati beberapa Pagoda di dalam area Pagoda.

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Melihat Ritual Pembersihan Patung Mahamuni pada Mandalay, Myanmar


Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!

By Bob Marley

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Jam 4 pagi tepatnya aku dan Ade sampai di Mandalay dari perjalanan Bagan. Masih segar diingatan ketika kami sempat dijemput dengan mobil yang mirip dengan angkot dari penyewaan sepeda. Di tempat penyewaan sepedalah kami mandi sambil menunggu jemputan. Itung-itung rekor tidak mandi selama 4 hari terpatahkan juga di Old Bagan. Kami sempat berpikir apa iya mobil yang mirip angkot ini ke Mandalay, walau dalam peta jarak antara Bagan dengan Mandalay cukup dekat. Untungnya dugaan kami tidak benar, karena mobil yang mirip angkot itu adalah jemputan saja karena pada kenyataannya kami menuju Mandalay dengan bus yang lumayan kondusif. Di Old Bagan jugalah aku dan Ade berpisah dengan Melisa karena Melisa akan sendirian ke Yangoon demi mengejar pesawatnya menuju Jakarta. Aku dan Ade masih memiliki dua hari lagi di Myanmar, artinya kami bisa mengunjungi Mandalay, Myanmar.

Tujuan utama kami ke Mandalay selain melihat Sunrise dari Mandalay Hill, Myanmar adalah melihat patung Buddha Mahamuni dimandikan. Kalau bukan karena Ade aku tidak tahu kalau ada patung Buddha dimandikan di Mandalay. Istilah untuk dimandikan ini adalah Bahasa khasnya si Ade. Karena ketika di Old Bagan pada pagi hari kami telah melihat patung Buddha kecil dimandikan nah saatnya kami melihat Patung Buddha besar dimandikan.  Akan lebih tepat jika dipakai istilah pembersihan Patung Buddh. Patung Buddha itu berada di Pagoda MAHAMUNI, salah satu wisata yang wajib dikunjungi di Myanmar. Alias jika ke Myanmar top listnya adalah melihat Patung Mahamuni, jadi tidak dianggap ke Myanmar jika belum ke Patung Mahamuni, katanya ya 😀

Bus kami sampai di Kota Mandalay, Myanmar jam 4 pagi dimana jalanan sepi, beberapa anjing berkeliaran di jalanan bahkan taxi yang mengantar kami ke tempat penyewaan sempat bingung mencari alamat  yang kami tuju. Hingga akhirnya setelah dua kali mutar daerah sama, barulah kami diantar ke tempat sesuai dengan alamat tujuan kami. Jadi tidak salah alamat! Kedatangan kami memang cepat namun pihak penyewaan motor kami sudah siaga menunggu kami. Sebelumnya Ade sudah berkomunikasi dengan pihak penyewaan sepeda motor demi keliling Mandalay. Kalau tidak, bakalan gigit jari kalau sampai di Mandalay, Myanmar apalagi pas pagi hari sekali.  Untunglah pemilik membukan pintu dengan ramah kepada kami meski terlihat jelas mukanya masih mengantuk. Kami meminjam motor matik seharian dan menitip tas kami kepada seorang gadis keturunan Chinese di Burma. Rumahnya lumayan luas lengkap dengan dekorasi seni serta tempat penginapan sekaligus penyewaan sepeda/motor di Mandalay. Dia juga yang memberikan peta kepada kami serta menjelaskan kemana saja ketika berada di Mandalay. Walau penjelasan Objek wisata Mandalay tidak 100% kami hapal. Kami hanya mengikuti daftar OBJEK WISATA MANDALAY di bucket list kami.

Untuk menjelajah Mandalay kami menggunakan map offline yang sudah didownload sebelumnya. Tidak seperti Kota Bagan dan Inle yang mewajibkan turis membayar uang masuk kedalam KOTA, maka masuk ke Mandalay tidak perlu bayar. Lumayan menghemat biaya perjalanan kami 🙂

Mandalay

Setelah sepeda motor, kunci dan dua helm diberikan kepada kami mak kami memulai perjalanan menjelajah Mandalay. Ade yang mengendarai motor dan aku yang memberikan aba-aba jalan. Salahnya ternyata aku tidak begitu bisa membedakan belok “kiri” atau “kanan” sehingga sempat membuat si Ade gondok alias menahan esmosi tingkat tinggi.

Nya, tau gak sih mana kiri dan kanan?
kata Ade dengan sedikit dongkol ketika aku salah memberikan arah

Sementara kalau aku yang membawa motor juga tidak bisa. Akhirnya aku dan Ade sempat nyasar-nyasar arah di pagi hari sementara kami hendak mengejar pemandian Buddha di pagi hari.

Disini aku merasa sedih tidak bisa membaca Google map, hiks!

Dengan susah payah barulah kami sampai di tempat Patung Mahamuni setelah memarkirkan sepeda motor yang tak jauh dari pasar. Pasar ini merupakan satu komplek dengan Pagoda Mahamuni, Mandalay tempat patung Mahamuni berada.

Seperti biasa, aku dan Ade melepaskan sandal kami lalu berjalan menuju tempat ritual harian pembersihan patung Buddha Mahamuni di Mandalay. Kami memang agak telat ketika sampai di Patung Mahamuni karena turis sudah banyak sekali duduk manis di lantai sambil melihat ritual pemandian. Sementara dari Layar TV besar kami melihat pemandian Buddha sudah dimulai.  Patung Buddha berada di tengah dari Pagoda Mahamuni, Mandalay dengan posisi duduk diatas takhta lengkap dengan mahkota serta baju kerajaan.

Mandalay

Untuk melihat ritual pemandian patung Buddha maka harus membayar administrasi. Serta ada area yang tidak boleh dimasuki oleh wanita, khusus laki-laki saja terutama area pemandian dan di depan pemandian. Wanita diperbolehkan dari jauh. Ade menyuruhku duluan masuk ke dalam Pagoda menembus keramaian turis dan penduduk lokal. Aku tidak menyangka kalau sepagi ini, ramai pengunjungnya. Bahkan aku sempat salah masuk ke dalam area laki-laki yang membuatku dicegat petugas sekaligus menyuruh untuk membayar biaya masuk Pagoda. Namun karena sudah terlanjur masuk dan lihat serta ingin keluar akhirnya aku tidak jadi membayar. Lalu aku menghampiri Ade yang menunggu di luar untuk gantian masuk ke dalam melihat langsung prosesi pemandian Patung Buddha sambil aku mengingatkan untuk pembayaran jika ingin melihat prosesi.

Pilihan untuk menonton prosesi dari layar memang tepat karena di dalam begitu desak-desakannya serta tidak begitu jelas kelihatan ritualnya, maka melihat dari luar lebih dari cukup. Sekalian cuci mata melihat antusias dari masyarakat Myanmar yang datang dari berbagai daerah menuju ke Mandalay sambil membawa persembahan untuk Pagoda Mahamuni. Beberapa diantaranya adalah Biksu sambil berjalan menuju kedalam Pagoda, beberapa ibu-ibu seperti Inang-inang di Sumatera Utara dan beberapa adalah remaja yang memakai bedak dingin di mukanya, khasnya orang Myanmar.Kegiatan mengamati orang jauh lebih menarik buatku karena melihat sisi lain dari Myanmar. Meski telat datang di acara pembersihan Buddha biasanya jam 4 sampai jam 4.30 pagi namun aku mendapatkan hal lain.  Belum lagi, Ade juga sempat menyaksikan ritual pembersihan.

Yah kami memang cukup beruntung 🙂

Ritual Harian Pembersihan Patung Mahamuni

Ritual pembersihan Patung Mahamuni dimulai dengan bunyi tabuhan. Diikuti kedatangan biksu yang berpakain putih menuju area Patung Mahamuni. Pembersihan dilakukan oleh beberapa orang. Ritualnya sederhana “basuh” lalu “kering”. Pertama Biksu membersihkan patung Buddha kemudian mengeringkannya. Pembersihan Batung Buddha secara keselurahan secara berlahan padahal tinggi Buddha yang terbuat dari perunggu ini mencapai 4,5 meter. Setelah dikeringkan lalu patung buddha dibasuh dengan minyak Cendana baru kemudian dikeringkan lagi dengan handuk. Setelah itu baru diberi wewangian.Keunikan dari ritual pemandian Patung Buddha adalah handuk dari pembersihan patung Buddha diberikan kepada mereka yang beribadah di dalam.

Hanya sekitar 20 menit saja Ade keluar dari hiruk pikuknya turis penonton acara pemandian patung Buddha di Mandalay. Ade menuju tempat duduk manisku di lantai penuh kepuasan melihat kehidupan pagi warga lokal Myanmar, aku terkesima dengan kerajinan mereka yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti proses pembersihan Patung Mahamuni.

"Nya, yuk ke Mandalay Hill!", lanjut Ade
Yuk, kataku

Kamipun meninggalkan keramaian Pagoda Mahamuni di pagi hari menuju perjalanan mengejar sunrise ke Mandalay Hill karena kami sudah sah travelling di Myanmra dengan mewujudkan what to do in Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

 

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny

Sunset di Shwesandaw Pagoda Old Bagan, Myanmar


Very little is needed to make a happy life, it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Bagan Plains with the Dhammayangyi on the left
Pemandangan Dhammayangyi Temple

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah adegan ban bocor telah diperbaiki oleh dua montir dadakan dari tempat penyewaan sewa karena selfie akut, perut yang lapar tidaklah bisa berbohong. Belum lagi cuaca yang panas membuat kami memutuskan kembali menuju ke New Bagan untuk mencari makan siang. Dengan dua sepeda motor listrik yang kami sewa, kami bertiga kembali bersepedahan kearah New Bagan. Memang kami masih penasaran dengan New Bagan, Myanmar. Ditambah susah sekali mencari makanan disekitar Old Bagan yang penuh dengan Pagoda.

Untuk sampai ke New Bagan, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Old Bagan. Awalnya kami hendak makan di sebuah Restauran dengan pemandangan laut namun ketika melihat harganya yang “Aduhai” akhirnya kami membatalkan serta secepat kilat dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu dan mengambil sepeda motor listrik kami di parkiran. Ujung-ujungnya setelah capek mencari sana-sini kami berhenti disebuah cafe yang agak ramai. Tujuan kami untuk bersantai ria setelah seharian berpanas-panas di Old Bagan.

Ban Bocor di Old Bagan

Kami pun melihat menu makanan dan memilih makanan berdasarkan kesukaan. Di restauran di New Bagan, aku mendapatkan makanan yang agak “zonk” karena salah memilih “sup sayur ala tom yam” yang aku pesan murni sayuran tanpa rasa. Sampai-sampai si Ade dan Melisa terkekeh-kekeh melihat ekpresi makanan yang aku pesan ketika datang tidak sesuai dengan harapan. Beruntunglah Melisa dan Ade membeli makanan yang agak mahal namun rasa lumayan. Ini jadi pelajaran buatku kalau ke Myanmar jangan pernah pesan yang namanya “tom yam” atau “soup vegetable” karena harga menentukan rasa. Apalagi memesan makanan yang murah, siap-siap rasanya sesuai dengan harga.

Bayangkan saja sayur tok dengan kuah ala-ala 😦

Lokal Myanmar (Photo: Melisa)

Setelah kenyang makan di New Bagan, barulah kami kembali ke Old Bagan untuk mengejar sunset Old Bagan, harapannya  sebanding fenomenalnya dengan sunrise Old Bagan.

Nah pas perjalanan pulang si Ade kebelet ke toilet, untungnya ke tempat peribadatan tempat makan mie ubek-ubek pakai tangan tadi pagi ternyata memiliki toilet. Makanya Ade sempat berhenti sementara. Kalau tidak, entahlah nasib si Ade menahan kebelet sepanjang jalan.

Oh ya untuk perjalanan bersepeda motor listrik sepanjang Old Bagan-New Bagan cukuplah seru karena Pagoda dan templenya yang bertaburan dengan ukuran yang berbeda-beda. Bahkan kami sempat berhenti disebuah Pagoda yang mirip istana dengan tembok berbentuk persegi panjang sekelilingnya. Bak kami berada di masa lampau, seperti itulah keseruannya. Tapi jangan ditanya apa informasi dari Pagoda tersebut karena tulisannya tidak kami mengerti. Bahkan Ade mengatakan “tulisan cacing” yang susah dimengerti. Namun kami maafkan karena Pagodanya yang cukup indah.

Old Bagan

Setelah itu kami bertiga menuju ke Shwesandaw Pagoda untuk melihat sunset Old Bagan, Myanmar. Jujur saja, pemilihan Pagoda ini karena kami melihat begitu banyak orang, jadi kami hanya mengikuti rombongan turis yang banyak. Kamipun memarkirkan sepeda motor listrik kami dengan sembarangan lalu mengikuti rombongan turis.

Nah saat Aku dan Ade mengikuti rombongan turis ternyata si Melisa berpisah dari kami karena hendak mengambil photo Shwesandaw Pagoda dari depan. Agak cukup lama aku dan Ade menunggu Melisa di tangga menuju ke Shwesandaw Pagoda. Hingga menunggu sekitar 30 menit lalu Melisa kelihatan

Mel, kemana dirimu?, tanya kami
Tahu gak aku tadi katahuan gak punya tiket, wkwkwk katanya dengan tertawa lepas

Where is your ticket to Bagan?, tanya petugasnya kata Melisa
I left at hotel, kataku
Kalau gak bisa mate kata Melisa

Dirimu sih Mel, pisah dari kami

Aku kan tadinya mau ngambil photo eh malah ketahuan, katanya

Akhirnya aku dan Ade tertawa melihat kejadian yang baru dialami Melisa. Untung muka kami kayak muka lokal yah Mel, untung dirimu gak dideportasi 😀

Shwesandaw Pagoda

Setelah berkumpul akhirnya kami menaiki tangga yang super membuat bulu kudukku berdiri. Tahu sendiri aku paling phobia dengan ketinggian. Kalau bisa ngesot, maka ngesot deh biar sampai keatas. Belum kemiringan tangganya sangat curam dan miring. Perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk sampai ke Puncak, ditambah ramainya antrian hendak naik. Kalau bukan disemangati Melisa dan Ade mending aku tidak usah melihat matahari terbit dari atas Pagoda daripada menahan ketakutan. Tapi anehnya aku sampai juga dipuncak Shwesandaw Pagoda dengan usaha yang luar biasa.

Sesampai di atas Shwesandaw Pagoda begitu ramai, ramai turis yang juga menunggu sunset dari Pagoda. Bahkan kami harus berkeliling Pagoda memutari untuk mencari celah menikmati Pagoda di Bagan dari atas. Melisa dan Ade bahkan berphoto di ujung Pagoda seolah tak takut mati. Sementara aku yang duduk disamping saja membuat nyali sudah kecut ditambah keringat dingin dan deg-deg syer yang luar biasa, lebih deg-degan dari Cinta pertama. Begini rasanya kalau penakut akan ketinggian. Sumpah saat Melisa berdiri di ujung Pagoda dengan gaya Yoga membuatku takut, takut dia terjatuh. Belum juga tingkah si Ade yang tidur nyenyak diatas Pagoda, ampun DJ!

Kami menunggu sunset

Setelah puas berphoto dengan latar belakang Pagoda ala Old Bagan, akhirnya kami kembali menuju tempat melihat sunset diantara turis yang super padat. Sunset Old Bagan sangat bagus, sebagus saat sunrise hanya saja tidak ada balon udaranya. Walau kami harus rela berdesak-desakan diantara keramain turis dan bersempit-sempitan demi “photo sunset Old Bagan”. Memang dibalik photo indah ada turis ramai yang menunggu.

Sunset di Old Bagan berbeda karena adanya latar belakang ribuan Pagoda serta pegunungan dan bersembunyi dibalik sebuah air.

Pemandangan apik!

Tidak sia-sia berjuang naik dengan tangga miring yang menggetarkan jiwa serta kesumpekan turis.

Sunset Old Bagan dari Shwesandaw Pagoda
Nya, aku senang akhirnya bisa lihat sunrise dan sunset 
sekaligus di Old Bagan, Myanmar, kata Ade dengan bahagia

Yah perjalanan Old Bagan, Myanmar kami memang penuh cerita.

Salam

Winny