Pengalaman Kocak di Thatbyinnyu Temple, Burma


It is strange to be known so universally and yet to be so lonely

By Albert Einstein

Hello World!

Burma, Februari 2017

Setelah mengelilingi Old Bagan dan adegan gokil di depan Pagoda, akhirnya aku, Melisa dan Ade melanjutkan perjalanan kami ala backpacker di Bagan dengan sepeda motor listrik. Dengan cuaca yang panas kami berhenti di Pagoda yang menurut kami cakep. Bahkan ada satu Pagoda yang cukup mencuri perhatian kami yaitu Pagoda yang didepannya ada kaktus. Kaktus inilah bukti kalau di Old Bagan lumayan panas, dan satu lagi di Old Bagan itu lumayan gersang dan berdebu sehingga perlu membawa masker.

Sekali lagi mengelilingi Pagoda di Old Bagan cukup menyita waktu karena Pagodanya yang super banyak sekali. Jadi tidak mungkin mengunjungi satu persatu.  Bahkan dalam pemilihan Pagoda yang kami kunjungi berdasarkan Hingga kami menuju ke Thatbyinnyu temple di Old Bagan karena warna Pagodanya berwaran putih.

Di Thatbyinnyu temple, aku membeli buah potong karena pas di Old Bagan pas siang hari panas maka perlu banyak minum. Sementara si Ade dan Melisa mencoba minum es di depan Pagoda. Kali ini mereka minumnya kena zonk karena minuman mirip Cendol warna hitam ternyata diubek-ubek pakai tangan juga. Tapi si Ade dan Melisa minum juga cendol ala Myanmar yang diaduk dengan tangan. Karena sudah terlanjur dibeli dan haus juga akhirya si Ade minum juga cendol yang diubek-ubek tadi.

Dalam hatiku, untung gak beli minuman ubek pakai tangan. Tapi anehnya meski diubek pakai tangan, si Ade dan Melisa sehat-sehat saja, tidak terkena diare. Kalau ingat adegan ini malah ingin tertawa sendiri.

Setelah minum kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan siang. Tapi entah kenapa kami berteduh di dekat Thatbyinnyu Temple.

Nya Tolong dong ambilin photoku di depan Pagoda sambil bersepeda, kata Ade

Ini bisa mmephoto 10 photo dalam 1 detik, lanjutnya

Kayak gini ya caranya, kata Ade melanjutkan

Nanti setelah itu gantian aku ambilin photomu, katanya

Oh ya di ola Bagan, masyarakatnya memanfaatkan ban bekas menjadi tempat sampa. Tempat sampah dari ban bekas di Old Bagan cukup unik  kreasi sehingga indah untuk dilihat. Hal ini patut dicontoh, semoga di Indonesia bisa juga ya 🙂

Thatbyinnyu Temple

Kemudian saat mengambil photo Ade dengan latar belakang PAGODA eh tiba-tiba sepeda listriknya bannya bocor. Oh no, padahal kami belum makan siang dan belum ke New Bagan. Bahkan kartu Myanmar saja kami tak punya. Untungnya ada nomor telepon tempat peminjaman sepeda motor listrik di sepeda motor listrik.

Akhirnya dengan inisiatif aku mencoba meminta bantuan orang lokal untuk menelepon tempat penyewaan sepeda motor kami. Sayangnya orang lokal tidak bisa bahasa Inggris akhirnya pakai bahasa Tarzan dengan menunjukkan handphone dan sepeda yang bannya bocor Untungnya si orang lokal mengerti dan menelepon pihak penyewaan motor kami. Jujur disini kami sempat khawatir tapi kami tetap asik saja. Aku, Melisa dan Ade sempat bersantai ria di bawah pohon karena ban sepeda motor listrik yang bocor sambil menunggu montir datang.

Padahal kami juga tidak tahu dimana tempat ban bocor kami. Nah pas penungguan montir untuk memperbaiki sepeda motor, kami benar-benar menikmati kebersamaan malahan masih sempat photo suka-suka.

Penantian kami hanya 20 menit saja, montir kami datang. Disini kami melihat proses penggantian ban dengan lem. Kedua montir yang memperbaiki sepeda motor kami masih muda. Si Ade paling suka mengganggu mereka dengan Bahasa Indonesia, kadang ngomong pakai Bahasa Inggris padahal montirnya ngerti juga kagak. Aku dan Melisa tertawa saat Ade mengganggu mereka. Beruntung memang kami karena meski ban bocor dan tidak tahu dimana, tapi mereka dapat menemukan kami dan sigap memperbaikinya. Kalau tidak bisa dorong sepeda listrik dengan perut lapar.

Pelajaran yang berharga yang kami dapat ialah “gegara photo maka ban kami pecah”. Beginilah kalau sudah terkena selfie akut. Anehnya disitu kekocakan trip di Old Bagan, Myanmar kami. Kapan lagi coba merasakan ban pecah gegara asik berphoto tapi malah menjadi momen lucu-lucu bagi kami.

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Iklan

Jelajah Old Bagan dan New Bagan, Myanmar


Success in life comes when you simply refuse to give up, with goals so strong that obstacles, failure and loss act only as motivation.

By Unknown

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah sarapan dan perutpun kenyang dari makan mie ubek-ubek pakai tangan khas ala Myanmar, aku, Ade dan Melisa melanjutkan perjalanan ke New Bagan. Jujur ke New Bagan itu hanya mengikuti insting karena setelah puas melihat matahari terbit Old Bagan yang fenomenal, kegiatan kami berikutnya adalah acara bebas. Bahkan bebas dalam mencari objek wisata apa yang ingin kami kunjungi. Namun karena di Old Bagan banyak sekali Pagoda dari satu meter sudah ada Pagoda maka kami sedikit bingung Pagoda mana yang akan kami singgahi terlebih dahulu. Akhirnya kami berhenti di Pagoda yang menurut kami enak dipandang mata karena jika ingin mengunjungi satu persatu tidaklah mungkin mengingat jumlah Pagoda di Myanmar itu ribuan bahkan mungkin jutaan, jadi niat mengunjungi semua Pagoda dalam sehari itu dalam sehari adalah pekerjaan mustahil.

Saat makan Mie Melisa sempat menunjuk Wanita berleher panjang Myanmar,
dimana sebelumnya kami sudah puas bertemu di Inle. Si Ibu lewat dengan jalan kaki.

Win, Ade, lihat ada wanita berleher panjang, 
kata Melisa dengan semangat 45

Gegara  melihat wanita berleher panjang lewat maka kami yang awalnya niatin ke New Bagan malahan berubuah tujuan mencari wanita berleher panjang Myanmar. Wanita berleher panjang Myanmar kami temukan di salah satu penjual kain tenun. Entah kenapa namun rata-rata wanita berleher panjang di Myanmar yang kami jumpain bekerja sebagai penenun.

Baca juga pengalaman Wanita berleher panjang Myanmar

Bagan, Myanmar
La Min Aein, Long Neck Women Myanmar

Dengan motor listrik, kamipun berhenti di tempat tenun ibu berleher panjang. Hanya saja kami singgah hanya sebentar saja karena kami tidak ada niat untuk membeli tenunan serta alasan lain karena kami sudah puas bertemu dengan wanita berleher panjang di Inle, Myanmar.

Tanpa basa-basi akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dan menjauh dari tempat si ibu Myanmar yang sedang menenun menuju ke Pagoda yang kami lewati di pagi hari. Pemilihan Pagoda pun dikarenakan jaraknya dekat dengan tempat La Min Aein, wanita berlehar panjang yang kami singgahi serta kami tertarik melihat keramaian orang yang berada di kawasan Pagoda tersebut.

Bentuk Pagoda yang kami kunjungi setelah Pagoda untuk sunrise Bagan, mirip dengan Pagoda yang di India. Bentuknya bulat dengan warna merah bata. Mirip stupa dengan gaya yang khas. Jujur aku sangat suka dengan Pagoda yang kami datangi setelah Pagoda saat melihat matahari terbit. Kami bahkan sempat masuk kedalam komplek Pagoda untuk melihat apa yang ada di dalam Pagoda. Sekedar ingin menjawab rasa penasaran kenapa ramai pengunjungnya. Untuk masuk ke dalam Pagoda sebelumnya kami membuka sandal/sepatu dan kaos kaki kami karena peraturan di Myanmar jika ingin masuk ke area Pagoda/Candi maka harus membuka alas kaki.

Masuk ke dalam Pagoda, kami melihat beberapa biksu serta pengunjung yang beribadah.  Semakin berjalanan mengelilingi kawasan Pagoda, kami malah melihat hal menarik berupa “Patung Buddha yang dimandikan” oleh pengunjung. Hal ini tentu asing bagiku, Melisa dan Ade namun menambah wawasan kami.

“Lihat tuh Mel, Patungnya dimandiin, gak kayak kita gak mandi-mandi”, kata Ade

Mendegar ocehan Ade membuatku geli tak karuan karena memang kami belum mandi sejak dari perjalanan Singapura-Yangon-Inle dan Bagan. Untukku sudah 4 hari tidak mandi-mandi dan rasanya “butuh air segar untuk mandi”. Untuk Ade dan Melisa mungkin 3 hari belum mandi, sehingga melihat patung dimandikan itu rasanya iri setengah mati. Kami merasa seperti kambing, disini kami merasa pejalan hina hihihi 😀

Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Setelah puas cuci mata Pagoda Old Bagan, kami keluar dan meneluri Pagoda lainnya di kawasan Old Bagan karena memang saat berada di OLD Bagan maka jarak satu meter terdapat Pagoda. Kami pindah dari satu Pagoda ke Pagoda lainnya, kali ini kami memilih mundur ke Pagoda yang di tepi jalan yang sempat menarik perhatian kami. Memang rata-rata Pagoda di Old Bagan itu gratis, beberapa memang bayar namun kalau membayar uang masuk Kota Bagan maka masuk ke Pagodanya gratis. Lah kami adalah turis gelap sehingga kami mainnya ke Pagoda gratisan. Kalau kami masuk ke Pagoda yang turistik bisa-bisa kami dideportasi karena tidak memiliki bukti pembayaran tiket masuk Kota Bagan. Tapi tenang, Pagoda di Old Bagan cukup banyak untuk menerima hasrat gratisan kami.

Kendala saat menghampiri Pagoda di Old Bagan adalah susah mencari jalan ke Pagodanya, bahkan Ade dan Melisa berpikir dua kali bagaimana cara masuk, akhirnya kalau ada sedikti tanda-tanda jalan maka kami lewat kesitulah kami. Jalanannya pun berdebu, terus semak-semak belukar sampai duri-duri. Kalau ada jalanan aspal itu adalah jalanan utamanya, kalau ke Pagodanya harus melewati jalanan kecil setapak.

Pencarian Pagoda di old Bagan kamipun termasuk impulsif banget, singgah di Pagoda yang kami sukai saja. Saking banyaknya Pagoda yang kami singgahi, kami sampai tak tahu nama Pagodanya. Kami hanya melihat sekilas karena untuk informasi mengenai Pagoda pun menggunakan Aksara Myanmar.

Bye untuk memahami sejarah dari Pagoda di Old Bagan.

Old Bagan

Waktu kami menjelajah Old Bagan sangat terik matahari namun kami sangat menikmati perjalanan kami. Bahkan kami rela melewati semak-semak belukar demi bisa mendekat dengan Pagoda. Bentuknya yang unik seolah berkata “come closer”.., wkakak

Keunikan Pagoda di Old Bagan adanya patung Buddha di dalam Pagoda. Kami sempat penasaran ada apa di dalam Pagoda, ternyata ada Patung Buddhanya walau tidak semua Pagoda memiliki Patung Buddha di dalamnya. Kadang membuat kaget, lihat di dalam apaan eh ada patungnya.

Yang parah saat aku kebelet pipis di Pagoda Old Bagan. Nyari WC kagak ada terus kebeletnya minta ampun. Terus si Ade nakut-nakutin “jangan pipis sembarangan”, apalagi di Pagoda. Akhirnya jadilah menahan pipis. Dan sungguh menahan pipis tidak sangat menyenangkan, apalagi punya teman yang gokilnya minta ampun malah semakin memicu. Belum lagi adegan lucu kami saat berpose di depan Pagoda bersama Ade, asli kami kurang kerjaan.

Kami bertiga memang agak kurang kerjaan dimana kami benar-benar menikmati perjalanan Old Bagan kami. Malahan pas capek setelah beradegan lucu di depan Pagoda, akhirnya kami bertiga malah ngerumpi di depan Pagoda sambil berteduh. Mulai dari curhat perjalanan, kehinaan selama perjalanan hingga masalah kerjaan yang tak jelas. Memang sangatlah luar biasa kami bertiga jauh-jauh ke Old Bagan ujung-ujungnya malah curcol di Pagoda.

Aku cukup beruntung berjalan dengan dua teman yang seru habis:)

Old Bagan
Old Bagan
Melisa di old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Old Bagan

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Bersih-bersih di Pantai Karina Kepulauan Togean


Happiness lies in the joy of achievement and the thrill of creative effort

By Franklin D. Roosevelt

Hello World!

Togean, 2017

Tak jauh dari Danau Mariona “Ubur-ubur” Kepulauan Togean terdapat sebuah pantai dengan pasir putih bernama “Pantai Karina”. Pantai Karina masih terbilang jarang pengunjung, kalaupun ada kebanyakan turis mancanegara. Hal ini wajar karena untuk sampai ke Togean membutuhkan usaha ekstra tapi percayalah usaha menuju ke Togean sangat terbayar dengan keindahan Bahari Togean. Apalagi si pecinta laut, pantai serta kekayaan biota bawah laut maka dipastikan puas mengunjungi Kepulauan Togean.

Salah satu agenda dadakan kami untuk mengunjungi Pantai Karina setelah puas bermain dengan ubur-ubur. Bahkan guide kami Pak Saiful berenang ke Pantai Karina saking dekatnya dengan Danau Mariona.

Pantai Karina ini merupakan Pantai perawan dengan pasir putih, 
begitu kata Pak Saiful meyakinkan kami akan keindahan Pantai Karina.

Tentu saja kami tidak perlu ragu-ragu mengamini keindahan dari Pantai Karina. Bayangkan saja, dari kejauhan saja air laut dipermukaan tepi pantai begitu jernih saking jernihnya terumbu karang begitu jelas terlihat dari atas kapal. Kapal kecil kami yang memuat 10-15 orang jiak berdiri maka dari atas biru tosca laut serta terumbu karang, bahkan ikan yang berenang kesana kemari. Belum lagi pepohonan kelapa yang banyak ditemukan disekitar Pantai. Memang Pantai Karina cocok untuk menghilangkan penat dari rutinitas, edisi perjalanan ke Togean benar-benar liburan yang sebenarnya.

Mengunjungi Pantai Karina bak berada dalam film “Beach” ketika Leonado de Caprio tersesat dalam sebuah Pulau dengan hamparan pasir putih, namun yang mebanggakan pasir putih ini berada di INDONESIA. Memang Pesona Indonesia untuk alam nomor wahid, selalu membuat kejutan kepada siapapun yang mengunjunginya.

Kepulauan Togean

Setelah mulai dekat dengan Pantai Karina, perahu kamipun disandarkan lalu kami keluar dari perahu satu persatu. Berlahan-lahan kami turun melewati air pantai lalu mulai berjalan ke Pantai.

Sayangnya ketika berada di Pantai Karina dengan pasir putih, di sisi tepi-tepi pantai masih banyak sekali sampah. Sampah-sampah terbawa arus gelombang laut.

Ingin rasanya mengutuk orang-orang yang membuang sampah di laut menjadi kodok atau itik buruk rupa. Sekita hati hancur karena pasir putih Karina malah ternoda dengan sampah sembarangan yang dibuang ke laut.  Sampah-sampahnya pun bervariasi mulai dari botol plastik, bekas makanan hingga botol kaca tersapu dan berada di tepi pantai. Melihat sampah yang ada di Pantai Karina cukup membuat prihatin.

Dengan inisiatif Pak Saiful yang menjadi tourguide kami selama di Togean pun memulai memungut sampah satu persatu yang ada di Pantai Karina.

Tentu saja kami juga tidak mau kalah dengan Pak Saiful akhirnya kami ikutan nimbrung untuk memungut sampah  di Pantai Karina. Semua sampah yang terbawa arus laut ke Pantai Karina kami bersihkan bersama-sama.

Yah aksi bersih-bersih sampah di Pantai Karina pun dimulai…

Sampah-sampah yang ada kami pisahkan dan kata Pak Saiful sampah plastik akan didaur ulang oleh Pak Saiful dan masyarakat di Desa Katupat, Kepulaun Togean dibuat menjadi produk yang berguna.

Baca juga bagaimana cara mengolah sampah jadi uang

Sumpah sebenarnya geram sekali masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan ke laut padahal merusak pemandangan serta sampah plastik yang ada tidak terurai. Semoga kedepannya kita tidak lagi membuang sampah sembarangan apalagi ke laut. Ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku, untuk perduli lingkungan dan aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Karena kalau bukan kita siapa lagi?

Kepulauan Togean
Kepulauan Togean
Kepulauan Togean
Bersih-bersih di Kepulauan Togean
Kepulauan Togean

Kegiatan bersih-bersih sampah di Pantai Karina memang dadakan namun aku sangat berharap tidak ada lagi sampah di tempat wisata. Kadang membuatku miris sekaligus malu ketika yang memungut sampah itu adalah turis asing. Masa kita di negeri sendiri membuang sampah sembarangan?

Setelah bersih-bersih sampah impulsif yang kami lakukan barulah kami meminum kelapa segar yang ada di Pulau Karina sambil menikmati pemandangan indah laut. Meski kegiatan bersih-bersih kami lakukan singkat namun aku sangat bahagia karena dapat berkontribusi untuk menjaga lingkungan.

Yuk Cintai Lingkungan kita dan mulailah menjadi traveller smart dengan tidak membuang sampah sembarangan 😀

Salam

Winny

Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia


Love yourself first and everything else falls into line

By Unknown

Hello World

Vatican, April 2017

Sebelum melakukan trip 1 bulan di Eropa, baca juga pengalaman trip 1 bulan di Eropa, jujur aku tidak mengira kalau Vatican berada di Italia dan merupakan sebuah negara. Dalam bayanganku Vatican hanyalah sebuah Kota yang dibenakku jika Natal dipastikan akan selalu tayang di stasiun TV dengan Paus yang melambaikan tangan lengkap dengan jubah putihnya berlatar Gereja megah Vatican. Bahkan Vatican bukan tujuan utamaku ke Eropa namun saat berada di Italia barulah aku sadar kalau Vatican itu berada dalam wilayah Roma, Italia. Jadi mumpung di Italia yah sekalian ke Vatican.

Vatican sendiri merupakan negara terkecil di dunia dengan luasan hanya sekitaran 0,44 km pesegi dengan populasi penduduk 850 warga negara artinya populasi penduduk paling sedikit di dunia. Untuk bentuk negaranya berupa Monarki dengan kepala negara Uskup Agung Roma yang merangkap sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Vatikan, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah kota Roma, merupakan negara terkecil di dunia dengan luas hanya 0,44 kilometer persegi. Bahkan sejak 11 Februari 1929 Vatican sudah menjadi negara independen.

Untunglah saat berada di Roma aku memiliki kesempatan mengunjungi Vatican, sehingga tidak sia-sia aku menghabiskan sisa perjalanan Erapa itu paling lama di Italia.

Untuk menuju ke Vatican, negara suci umat Katolik sangatlah mudah terutama jika sudah berada di Roma. Waktu itu aku  turun di Metro Ottaviano dengan sekali perjalanan biaya Metro sekitar 1,3 Euro, jika 1 hour pass 3 Euro dan 24 hour pass 7 Euro (kalau tidak salah, habis lupa). Namun bagi yang lama di Roma dan ingin menjelajah semua wisata Roma maka sangat aku sarankan untuk membeli Roma Pass sehingga puas keliling Roma serta menggunakan transportasinya. Bicara transportasi di Italia itu cukup mudah loh, semua ada mulai dari Metro, kereta hingga bus.  Mempelajarinya pun mudah tinggal lihat di peta transportasi di Roma.

Peta Transportasi Roma (Sumber: Romemap360)

Keberangkatan ke Vatican pun tergol0ng cukup pagi karena dipastikan ramai pengunjung serta antusias turis. Walau sebelumnya tidak kepikiran kalau yang mendatangi Vatican itu antriannya “panjang”. Jam 8 sudah berangkat dari penginapan dari Coloseum, Roma kemudian naik Metro ke Vatican. Tujuan seharian memang menjelajah Vatican, karena kapan lagi mengunjungi negara paling kecil di dunia.

Sesampai di Metro Ottaviano, tempat berhentian jika ingin mengunjungi Vatican maka sedikit berjalan kaki menuju ke Vatican.  Jalan kaki dari Metro Ottaviano cukup asik karena banyak penjual souvenir yang murah meriah sehingga tak terasa jalan kaki. Petunjuk arahnya juga mudah, lihat saja turis kemana dan tinggal ikuti saja.

Sesampai di Vatican, betapa kagetnya aku  karena antrian untuk masuk ke dalam Vatican itu panjang pakai banget “panjannggggggg sekaliiiiiiii”. Belum cuaca yang terik tapi dingin, maklum saat kedatangan ke Eropa musim semi jadi meski kelihatan panas namun cuaca bisa 12 sampai 15 derajat Celcius. Asli melihat antrian super panjang rasa malas untuk masuk ke dalam Vatican pun mulai menyusut.

Dalam hatiku ngapain juga antri lama-lama untuk melihat sebuah Gereja, serius ini adalah kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Bahkan dari pertama kali sampai jam 9 pagi baru bisa masuk ke dalam gereja Vatican itu baru jam 12 siang, artinya sudah antri 3 jam. Untuk masuk ke dalam Gereja Vatican tidak dipungut biaya alias gratis tapi kalau mau cepat masuk tanpa ngantri maka harus bayar extra.  Aku sih ogah untuk membayar, mending ngantri walau dalam hati mendumel .

What is the good things that i can see inside the Vatican Church? tanyaku
That's the biggest and beautiful Church in the world, kata hostku
Trust me you will not regret once you enter it, katanya penuh semangat
Antrian Panjang ke dalam Vatican

Setelah 3 jam antri di St. Peter Square berbentuk zig-zag melebih zig-zag ular tangga, akhirnya tercium juga hawa-hawa pintu masuk ke dalam Gereja Vatican. Pengunjung harus melewati penjagaan yang ketat terutama tas dan badan melewati scanner. Barulah jika body detector tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan dan petugas merasa pendatang aman maka diperbolehkan masuk ke dalam Gereja yang katanya terluas di dunia.

Masuk ke dalam Gereja, isinya seperti Gereja pada umumnya di Eropa, bedanya di Gereja Vatican terdapat karya Michael Angelo yang fenemonal “Sistine Chappel”. Tapi karena harus bayar lagi untuk melihat Sistine Chappel Vatican, jadi aku agak ogah untuk masuk, aku kan pecinta “hratisan”. Disinilah aku merasa aku itu turis kere tingkat dewa. Begitulah memang kalau tidak terlalu antusias, kalau antias semahal apapun pasti dibayar. Lagian karena aku sudah melihat lukisan di Louvre membuatku antusiasku dengan seni berkurang, toh sudah puas di Louvre, Paris.

Melihat mukaku datar saat masuk membuat kekecewaan bagi teman perjalananku. Serius bagiku mengunjungi Vatican itu sungguh sangat biasa sekali (terus dillempar sandal karena kata-kata ini).

Padahal Sistine Chappel Vatican atau disebut Cappella Magna, berasal dari Pope Sixtus IV tahun 1477 dan 1480. Namun karena cintaku pada Euro jauh lebih tinggi akhirnya ya sudahlah…

Pintu masuk Gereja Vatican

Di dalam Basilica St. Peter Vatican, ada satu hal mencuri perhatianku yaitu ketika pengunjung antri untuk menyentuh kaki dari patung  St. Peter di dalam  Basilica, bahkan warna emas dari patung sudah memudar saking banyaknya yang menyentuhnya. Konon St. Peter dan beberapa pemimpin kristen makamnya berada di dalam Vatican. Untuk benar atau tidaknya aku kurang tahu, tapi saat melihat isi dalam Gereja memang ada tanda-tanda makam di Vatican.

Di dalam Basilica St. Peter di Vatican terdapat ruang-ruang untuk umat Katolik yang ingin beribadah tapi bagi pengunjung tidak boleh mengambil photo saat orang beribadah di dalam Basilica St. Peter di Vatican.

Keunikan lain dari Vatican adalah petugas penjaga Vatican dengan seragam yang unik berada di luar Basilica. Di dalam Vatican juga terdapat beberapa tentara yang bertugas menjaga keamanan Vatican. Sayangnya aku tidak melihat Pope alias Paus, padahal keren juga bisa melihat Paus secara langsung, kan selama ini lihatnya di TV doang. Kalau ingin lihat Paus harusnya datang pas perayaan besar keagamaan tapi dipastikan ramai sekali 🙂

Di dalam Basilica of St. Peter in the Vatican
Basilica of St. Peter in the Vatican

Hal menarik lain yang tak kalah populer dari senyum manis Monalisa di Perancis, adalah ‘Pietà’, St Peters, Rome (1499–1500) yang merupakan karya dari Michelangelo Buonarroti sejak periode Renaisans (Renaissance). Peita ini ditempatkan pada sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca sehingga terlihat jelas dari luar, ukurannya pun kecil saja. Sehingga pengunjung akan melihatnya dari luar. Aku sempat harus bersabar sambil nyempil-nyempil diantara pengunjung lainnya. Untungnya pengunjung Vatican kondusif sehingga tidak ada adegan jambak-jambakan apalagi marah-marah, rata-rata tenang dan sabar menunggu antrian.

Come here, you should see Pieta, the Virgin and Christ, 
The Rome Pieta is an emotionally charged incarnation of a mother cradling
her lifeless son, katanya dengan semangat

Padahal seriusan kalau tidak dikasih tunjuk aku tidak tahu kalau Pieta ini sepopuler dengan Monalisa. Hal ini wajar karena Michelangelo dan Leonardo da Vinci masih dalam satu periode yang sama. Pantas saja banyak sekali pengunjung ke Basilica St. Peter di Vatican serta paling banyak antri di depan Pieta. Bahkan pengunjung rela berpanas-panas, antri demi masuk kedalam Vatican. Memang kebanyakan tujuan turis ke Vatican ialah beribadah. Sementara aku tujuannya ialah menambah daftar negara yang dikunjungi dalam bucket listku hehe 😀

Pietà

Rincian Pengeluaran di Vatican

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 3 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Biaya yang dikeluarkan di Vatican = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Pemandangan dari luar Basilica of St. Peter in the Vatican

Selain melihat karya besar Michaelangelo, kegiatan di Vatican yang tidak boleh dilewatkan adalah mencoba es krim ala Italia yang super terkenal atau sering disebut “Gelato” tak jauh dari Vatican melalui pintu keluar tinggal lurus aja. Gelato di Vatican meruapakan gelato terenak yang pernah aku coba. Rekomended banget!

Menikmati Gelato dapat mengobati rasa capek setelah antian panjang masuk kedalam Basilica walau setelah itu amandelku pun kumat 🙂

Salam

Winny

Trip Lebaran ke Danau Siais Batang Toru, Sumatera Utara


You always have two choices

your commitment versus your fear

By Sammy Davis

Hello World!

Sumatera Utara, 30 Juni 2017

Sumetara Utara tempat kelahiranku memang memiliki sejuta wisata menarik mulai dari wisata alam hingga sejarah. Bahkan salah satu Danau terkenal di Indonesia itu ada di Sumatera Utara, Danau Toba. Namun jangan salah, Sumatera Utara tidak melulu Danau Toba loh, ada juga Danau yang tak kalah indahnya bernama Danau Siais di Batang Toru, Tapanuli Selatan.

Baca juga tempat wisata di MEDAN dan sekitarnya

Mengunjungi Danau Siais sebenarnya sudah lama terpendam terutama karena faktor lokasi yang tak jauh dari kampung halamanku, Padangsidimpuan. Serta tradisi mudik Lebaran tiap tahun membuatku ingin lebih mengenal potensi wisata disekitar kampungku. Namun barulah terlaksana Lebaran di tahun 2017. Untuk ide mengunjungi Danau Siais pun termasuk impulsif, karena pas acara nikahan Abang Herfina, kami berbincang-bincang ingin melihat Air Terjun di Siais karena kepo melihat Instagram tempat-tempat ngehits di sekitar Padangsidimpuan dan sekitarnya. Maklum jika sesama kaki panjang berkumpul maka yang dibicarakan adalah “jalan kemana”, apalagi Herfina, Ilham dan aku suka jalan-jalana. Berkat “Kepo” akhirnya aku, Ilham dan Herfina memutuskan mengunjungi Air Terjun yang ada di Siais, Batangtoru keesokan harinya sambil mencari teman yang lain. Nyakmat dan Illa (istri Nyakmat) tidak bisa ikut bersama kami, padahal kami sudah setengah lelah membujuknya untuk menemani kami ke Siais karena dia pernah kesana. Capek membujuk Nyakmat akhirnya kami nyerah lalu mengajak si Marwan untuk menemani kami ke Siais karena dia sudah pernah kesana. Janji pertemuan pun kami tetapkan jam 7 pagi, itulah saking semangatnya kami.

Pokokna kehe ita da manjalaki Aek terjun i, jam pitu da atcogot, 
kataku kepada Herfina dan Ilham
(Pokoknya kita pergi mencari Air Terjun, jam 7 besok)

Naron dikabarin buse olo, sambil janjian
(Nanti dikabarin lagi, sambil janjian)

Perjalanan Padangsidimpuan-Batangtoru

Lama perjalanan Padangsidimpuan-Batangtoru berkisar 2,5-3 jam perjalanan saja. Untuk cara akses ke Danau Siais ada dua cara bisa melalui Batang toru via Parsariran atau via Napa. Dua-duanya kami coba namun rute Napa tidak aku anjurkan karena lama perjalanan kami yang harusnya 2,5 jam malah menjadi 4 jam serta jalanan yang rusak parah.

Pas hari H akhirnya yang ikut trip ke Danau Siais adalah aku, Herfina, Ilham, Marwan dan Jay dengan 3 sepeda motor dari Padangsidimpuan. Rute pertama kami via Parsalakan dan janji jam 7 pagi molor menjadi jam 8 pagi. Sedikit jam karet serta miss komunikasi bagi kami. Sebenarnya pas aku sudah siap sedia jam 7 pagi namun karena tidak ada kabar dari temanku akhirnya aku bersantai ria hingga Herfina, Marwan, Jay tiba-tiba datang di rumahku.

Winny, ketabo natu Siais i, kata Herfina
(Winny, yuk ke Sias)

Wii, usakka najadi kataku sambil buru-buru siap-siap
(Wii, ku kia tak jadi)

Lalu akupun mengabari Ilham yang dari tadi sudah bersiap dan sedikit tergesa-gesa. Herfina sempat ngobrol dengan ibuku karena memang semalam sebelumnya aku sudah pamit ke ibuku ingin ke Danau Siais.

Maudokkon tu si Winny nakin marsiap-siap kehe, 
kata mamaku sambil bercerita dengan teman-temanku
(Sudah kubilang tadi ke Winny untuk bersiap-siap)

Naritik-rittik mattong amuda kan, kata mamaku 
menimpali melihat kenekatan kami jalan-jalan pas Lebaran
(Gila sekali kalian kan)

Agak nyelegit memang nasehat ibuku kepada kami. Namun kami dengan langkah seribu pamit karena Ilham sudah tiba serta menunggu kami di Gang rumahku, artinya perjalanan ke Danau Siaispun dimulai.

Danau Siais, Batangtoru

Belum sampai ke Siais, kami berhenti karena aku dan Herfina serta Ilham belum sarapan pagi. Tempat yang kami pilih untuk sarapan pagi adalah di PUNCAK PARSALAKAN dimana ada sebuah restauran dengan pemandangan Kota Padangsidimpuan dari atas. Pemandangan ini mengingatkanku pada perjalanan Medan-Gundaling. Di restauran ini kami memesan dengan kompak “Gado-gado” sementara Jay dan Marwan yang sudah makan pagi hanya memilih minum kopi saja. Penyediaan sarapan pagi memang agak lama namun sambil cerita-cerita masakan kami pun datang juga. Di tempat ini jugalah kami memesan makanan untuk bekal kami di Danau Siais, karena menurut pengalaman Marwan tidak ada warung makanan di Danau Siais. Sebelumnya, Ilham juga sudah pernah ke Danau Siais Batangtoru, artinya hanya aku dan Herfina yang benar-benar pertama kali ke Danau Siais.

Jam 9 pagi barulah kami melanjutkan perjalanan ke Danau Siais dengan sepeda motor alias touring.

Jalanan Padangsidimpuan ke Batangtoru lumayan bagus dan kami sempat melewati Parsariran, tempat pemandian yang sewaktu kecil jika ada libur sekolah maka kesini. Melewati Parsariran sedikit membuka kenangan masa kecilku. Beruntungnya aku memiliki teman yang kakinya panjang, sehingga ide gila apapun mereka bersedia menampung bahkan untuk ngetrip pas di Lebaran.

Jam 11 kami sudah sampai di jembatan Batangtoru, lalu kami membelok ke arah perkebunan karet karena kami sebelum ke Danau Siais ingin mengunjungi Ikan Keramat selokasi dengan Danau Siais. Walau Ilham sudah pernah ke Siais, namun dia belum pernah melihat ikan keramat makanya dia sangat penasaran dengan Ikan ajaib ini. Kalau kami sih senang sekali ke Batangtoru karena ngarep lihat air terjun malah kami mengunjungi beberapa wisata dalam sekali jalan.

Ibaratnya sekali mendayung tiga Pulau terlampau 🙂

Ikan Keramat

Ikan keramat di Desa Rianiate

Jam 11:30 kami sudah sampai di Desa Rianiate, Batangtoru, Tapanuli Selatan Sumetera Utara tempat lokasi ratusan ikan keramat. Walau sebelumnya kami sempat nyasar sedikit namun melewati perkampungan serta jalanan setapak, kami berhasil sampai di sebuah Sungai yang penuh dengan ikan. Letak ikan Keramat persis berada di belakang sebuah Masjid. Ikan keramat dalam Bahasa Batak yaitu “ikan mera” sejenis ikan jurung disebut keramat karena jika memakan ikan Jurung maka orang tersebut bisa terjadi sesuatu.

Konon ikan keramat di Desa Rianiate merupakan peliharaan seorang Syekh dari tahun 1939 dari Desa Tabayung, pesisir Barat. Beliau sengaja menaruh ikan keramat di sebuah Sungai kecil setelah mendapat mimpi untuk membersihkan Sungai yang kotor. Setelah beliau wafat, ikan tersebut masih ada hingga sekarang yang airnya bermuara ke Danau Siais. Meski ikan keramat jumlahnya banyak sekali di Sungai, penduduk tidak berani mengambilnya apalagi memakannya.

Kebteulan kedatangan kami pas siang hari di Ikan keramat, dari kejauhan saja kami dapat langsung melihat ratusan bahkan ribuan ikan yang berenang disepanjang Sungai.

Wii manyikur au maligina aha nagodang-godang, kata Herfina
(Aku merinding melihat ikannya yang besar sekali)

Ikan ahado lana on?, kata Herfina
(ikan apa sih ini?)

Ikan Mera gari dipangan nataboan on da tai inda tola dipangan jawab Ilham
(Ikan Mera enak kalau dimakan tapi tidak boleh dimakan)

Sebelum kami memulai mendekati ikan yang berada di Sungai melalui batuan kecil, kami berpapasan dengan pengunjung yang memberikan makan kepada ikan keramat. Marwan dan Herfina bahkan sudah membelikan makanan untuk ikan karena disamping Sungai terdapat penjual makanan untuk ikan. Tentu saja pas makanan dilempar, ikan langsung berebut. Aku sangat suka saat memberikan makan ikan-ikan keramat ini apalagi mulut ikan moyong pas dilempar makanan 🙂

Di depan ikan keramat

Setelah memberikan makan ikan keramat, Ilham dan Marwan segera mengajak kami melanjutkan perjalanan, karena hari ini juga aku harus balik ke Padang.

Wii nacepat ma ita le, kataku
(Wii, cepat kali kita)

Ho do ami pikirkon naron ketinggalan bus ko, kata Ilham sambil menceramahin
(Kau yang kami pikirkan nanti ketinggalan bus dirimu)

Sebelum meninggalkan tempat ikan kramat, kami sempat berbincang-bincang dengan warga sekitar. Menurut mereka banyak sekali orang berbondong-bondong memberikan makan kepada ikan sampai bernazar segala memberi makan. Kami sih tidak bernazar sama sekali karena kami cukup melihat ikan berenang bebas di Sungai liar saja sudah membuat kami puas. Kalau bernazar aku kepada Allah saja, minta diberikan jodoh sekeren Nabi Muhammad dan setampan Nabi Yusuf (ngarep hihi :D)

Danau Siais, Batang Toru

Selepas dari ikan keramat, aku mengingatkan teman-temanku untuk sholat Jumat terlebih dahulu namun mereka malah memilih mengqada sholat serta melanjutkan perjalanan ke Danau Siais. Mereka masih asik mengejar waktu!

Perjalanan ke Danau Siais, Batangtoru lumayan bagus hanya ada satu rintangan ketika kami melewati jalan terjal  disebuah Desa dengan perumahan sederhana nan elegan serta Siais dari jauh. Selebihnya jalanannya lumayan bagus kecuali ke air terjun yang agak-agak rusak.

Saat perjalanan dari Ikan Keramat ke Danau Siais cuaca begitu teriknya. Kami berlima seperti Babi panggang saking panasnya. Aku dan Herfina bahkan berubah jadi wanita bercadar saking takutnya gosong. Memang kami berlima kurang kerjaan seperti yang mamaku bilang. Sudahlan panas, masih juga suasa lebaran namun masih sempat-sempatnya menjelajah.

Ginjang pat dalam bahasa Bataknya 🙂

Namun keginjangan pat kami berbuah hasil (ginjang pat = panjang kaki) karena sesampai di Danau Siais mata kami dimanjakan dengan pemandangan kece.

Tidak sia-sia berpanas-panas ria demi ke Danau Siais di Batang toru!

Danau Siais

Untuk tiket masuk ke Danau Siais Rp2000 namun entah kenapa saat masuk kami diberikan tarif Rp5000 oleh petugas. Mungkin karena masih dalam edisi Lebaran!

Wii asi lima ribu Pak i, tai ditiket dua ribu do, 
kataku sedikit mengeluh kepada petugas
(kenapa harga tiket Rp5000, padahal di tiket Rp2000)

Si Regar do pak on, ulang heran da Pak kata Ilham kepada petugas
(Marga Siregar Pak, jangan heran ya Pak)

Mendengar keluhanku Marwan, Jay dan Herfina tertawa-tawa sambil melanjutkan touring kami mencari tempat duduk manja untuk istirahat dengan pemandangan Danau Siais di depannya.

Kami pun berhenti disebuah pondok, kami meihat warga sekitar memungut sampah dari Danau. Aku sempat bertanya untuk apa sampah itu, ternyata untuk dibakar oleh si Bapak. Kemudian aku mengajak makan bersama dengan si Bapak namun ditolak si Bapak. Di Pondok Danau lah kami memutuskan makan siang. Pemandangan Danau Siais begitu indah, tak kalah dengan Danau yang ada di Kosovo.

Boto amu dao ma au tu Kosovo an natarsarupo do uligi dohot Siais on, 
kataku kepada mereka
(tahu kalian jauh kali aku ke Kosovo, eh Danau nya sama juga kayak Siais)

Teman-temanku langsung ketawa mendengar ocehanku yang kelihatan sedikit lari hihi 🙂

Danau Siais

Makan siang sambil memandang Danau Siais sungguh kenikmatan tersendiri apalagi bersama teman. Sayangnya sampah begitu banyak di Danau Siais. Semoga kedepannya sampah yang ada di Danau Siais tidak ada lagi.

Meski kami dengan semangat membawa bekal makanan dari Padangsidimpuan, ternyata banyak warung disekitar Danau Siais sehingga tidak perlu khawatir untuk urusan perut.

Serasa piknik bersama teman-teman!

Untuk pemandangan Danau Siais tak kalah indah dengan Danau Toba, luasnya juga lumayan luas untuk ukuran Danau yang belum banyak orang mengetahuinya terutama di Sumatera Utara. Di sekitar Danau Siais masyarakat kebanyakan memancing ikan sementara anak kecil berenang bahagia di Danau Siasis. Sungguh masa kecil mereka yang bahagia!!

Jadi mungkin jika ada yang ingin menjelajah Tapanuli Selatan, maka bersiap-siap dengan alam yang indah. Berkemah juga patut menjadi daftar yang bisa dilakukan di Siais namun pastikan semua perlengkapan dan persiapan matang. Kalau kami berlima hanyalah pengunjung sekilas saja, sekilas lewat 😛

Danau Siais

Setelah kenyang, buru-buru kami melanjutkan perjalan ke Air terjun yang merupakan tujuan utamaku dan Herfina. Menurut Marwan butuh 1 jam perjalanan lagi dari Danau Siais ke air terjun. Kami sempat galau apakah ke air terjun atau tidak mengingat lamanya perjalanan apalagi matahari sedang pamer dengan panasnya. Ujung-ujungnya kami putuskan juga ke air terjun karena aji mumpung, kalau basah sekalian mandi, bergitu prinsip kami.

Sebelum ke air terjun kami sempat melakukan adegan bodoh di Danau Siais seperti adegan main dayung-dayung di Danau Siais, serta mencari tahu apa yang dilakukan para pemancing  dengan berjalan di atas kayu tipis persis di Danau. Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Air terjun di Batang Toru.

Jalanan Perbukitan

Batangtoru

Perjalanan Danau Siais ke air terjun Batang Toru memiliki pemandangan yang mampu membius kami. Perbukitan indah lengkap dengan pepohonan.

Si Ilham sampai takjub dengan bukit yang ada dan aku katakan kepadanya bahwa mirip seperti yang ada di China., terutama mirip seperti berada di Great Wall China.

Indonesia memang indah 🙂

Sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan air terjun mengalir dari perbukitan yang mirip batu kapur itu. Untaian perbukitannya juga begitu luas, sampai-sampai aku terheran-heran dan penasaran apa yang ada di atas perbukitan itu. Mungkin suatu saat harus kembali dengan mencari tahu ada apa di atas bukit, mata air seperti apa yang dapat membuat air mengalir disepanjang perbukitan itu.

Air terjun

Air Terjun Batang Toru

Sesampai di air terjun yang kami impikan, waktu menunjukkan jam 2 siang. Aku, Jay, Ilham dan Herfina memilih turun mendekat air terjun yang berada di atas bukit dengan pepohonan rindang. Air terjuinnya ada 3, debitnya tidak terlalu besar namun airnya begitu jernih.

Keputusan kami bertempat menuju ke air terjun merupakan pilihan yang tepat karena kami dapat bermain dengan air terjun bahkan melihat pelangi di samping air terjun.

Naisan kan airna, untung ma tuson ita, kataku
(Bersih kali kan airnya untung kita kesini)

Au pokona akkon marsuop do giotku kata Ilham
(Aku pokoknya pengen cuci muka di air terjun)

Jay buatma jolo potoku di jolo aek terjun on da kata Herfina
(Jay ambillah photoku di depan air terjun)

Yah bermain dengan air namun ujung-ujungnya kami berempat malan asik bernarsis ria di depan air terjun. Sementara si Marwan memilih untuk menjaga barang-barang kami.

Momeh kebersamaan bersama teman masa SMP dan SMA memang sangat membahagiakan 🙂

Air Terjun Siais
Air Terjun di Batangtoru

Puas bermain dengan alam serta basah-basah karena main air, kami berempat mendekati Marwan sambil ngopi cantik disebuah warung.  Tak sadar, ternyata jam menunjukkan jam 4 sore dan kami memulai perjalanan pulang melalui rute yang berbeda dari rute pertama. Tentu saja rute yang kami pilih pas pulang merupakan pilihan buruk mengingat motor yang kami pakai adalah motor untuk Kota tapi kami pakai untuk touring dengan jalanan membuat geram. Pelajaran berharga kami jangan sekali-kali membawa motor matic ke area terjal dengan jalanan rusak karena dipastikan dapat membuatmu tepos.

Meski pas pulang kami salah rute, namun yang pasti perjalanan trip Lebaran bersama teman-teman gokilku ini sangat menyenangkan dan penuh dengan petualangan yang seru 🙂

Ah untung pulang kampung!

Salam

Winny

Backpacker Keliling London dengan 2 Poundsterling


Sometimes, things may not go your way, but the effort should be there every single night

By Michael Jordan

Hello World!

London, April 2017

Salah satu Kota impian dari kecil yang ingin aku kunjungi adalah London. Paling tidak beberapa teman yang pernah aku jumpain terutama yang tinggal di Eropa pasti tahu kalau Inggris merupakan negara top list yang ingin aku kunjungi, bisa dibilang impian sejak masih SMP. Bahkan acap kali aku diberikan pertanyaan alasan menapa begitu terobsesi dengan London. Mungkin bisa jadi gara-gara efek sihir Harry Potter, maka aku “harus ke Inggris”.

Winny, Why London? 
Do not you know that London is expensive city in this world? 

Because British Accent is sexy, begitu jawabku dengan polosnya 
kepada siapapun yang penasaran kenapalah aku fans Inggris banget

Saking ngebetnya ke London, aku rela bela-belain ngurusin Visa yang priority, padahal yah, visa biasa saja sudah mahal apalagi yang prioritas. Alasannya sih sederhana karena mumpung lagi di Eropa maka sekalian saja ke Inggris. Sehingga walau mahal dibela-belain juga proses Visa Inggrisnya. Disini jadi pelajaran banget kalau ingin mengurus Visa Inggris dari jauh-jauh hari, jangan mepet-mepet.

Baca Pengurusan Visa Inggris

London Eye
Alasan klise lainnya kenapa harus mengunjungi London karena dialam benakku begitu keren gitu melihat Big Ben, apalagi kalau bisa naik bus tingkat merahnya itu. Bahkan dulu waktu ke Bukittingi di tahun 2010 demi mencari Babang Manis, aku sempat bela-belain lihat Jam Gadang dan berharap bisa suatu saat mengunjungi Big Ben sebagai perbandingan. Namun apa daya, ternyata imaginasi tak seindah kenyataan.

Ternyata mata uang Inggris tak sesexy aksen Bahasanya!!

Yah mata uang Poundsterling memang mata uang paling mahal bila dibandingkan dengan Euro maupun Dollar Amerika, itupun mata uangnya sudah turun dari Rp18,000 menjadi sekitar Rp16,000 namun tetap bagiku yang sudah backpacker turun tahta jadi begpacker itu termasuk “MAHAL”. Euro saja sudah membuatku keringat dingin apalagilah Poundsterling. Disini aku merasa sedih betapa kurs Rupiah sangat rendah!

Jadi selamat tinggal Misi “Backpacker di London”.

Memang London semahal itu?

Jawabanya sih relative karena mahal tidaknya itu tergantung persepsi orang, namun buatku biaya di London itu “iyes mahalnya”.

Sebagai gambaran, pas baru saja aku mendarat di London, buru-buru aku mengirim pertanyaan ke temanku yang dulu aku kenal di Bukit Lawang bernama Maura mengenai London.

Hey Maura, this is Winny, i will be arriving on this noon in London, 
can we meet up?, begitu pesanku dari aplikasi Whatsapp

Welcome to London, dear! Do not forget to buy London pass, 
it might be around £90, katanya.

Melihat informasi “£90”, langsung aku berpikir apa perlu memberli turis pass London seharga 90 Poundsterling?

Mak itu kalau di Rupiahkan jeti-jeti loh! Makanya tidak usah di Rupiahkan karena pusing sendiri jadinya.

Alhasil pas sampai di Bandara, aku menukarkan uang 100 Dollarku ke Pound sterling dan hanya dapat seuprit. Karena begitu keluar dari Bandara menuju ke stasiun kereta betapa shock jantungnya aku membayar £ 15 dari Bandara ke tempat penginapan di London.

Itupun baru sekali jalan saja!

Maklum sebagai pecinta “hratisan” dan tipe pejalan “murce-muriah ceria”, menghabiskan uang mahal-mahal di transportasi itu sungguh membuat hati memberontak. Hahaha 😀

Baru awal saja aku sudah kipas keringat duluan, yah London memang tidak cocok dengan pekerja kantoran tapi kantong mahasiswa sepertiku!

London
Tidak sampai disitu, pas hendak makan mencoba Fish and Co satu porsinya 10 Pound sterling, karena memang salah satu yang fast food yang terkenal di Inggris adalah fish and Co, bahkan kalau ke Inggris tidak makan fish and Co bukanlah ke Inggris katanya. Memang dari segi porsi sangat banyak dan mengenyangkan, namun kalau aku Rupiahkan yang 10 Pound sterling di Indonesia aku sudah bisa makan Sate, gado-gado, pecel, ayam penyet, Martabak dan lain-lain. Tapi ini bukan di Indonesia, ini sedang di London, Bu yang semua-semua serba mahal. Namun tetep meski mahal karena lapar yasudah makan saja. Apalagi aku adalah tipe pejalanan yang tidak bisa menahan lapar, biar mahal yang penting makan.

Untuk makanan di London, fast food adalah pilihan terhemat kalau sedang jalan-jalan di London, kalau restoran say no dah di London apalagi tipe pejalannya on budget. Sekali makan saja misal kaya di McD itu kena 4-5 Pounds, terus  belum harga satu botol minuman air itu syukur-syukur kena 1 Pounds, kadang-kadang kena 2 Pounds.

Transportasi Kota London juga tak kalah mahalnya. Bayangkan naik sekali tube (kereta api bawah tanah London) bisa kena 4 pounds meski itu jaraknya dekat. Bayangkan itu sekali stasiun aja dekatnya kena segitu apa gak bangkrut lama-lama di London. Uang 100 Dollar Amerika yang aku tukar aja tak sampai sehari sudah “ludes”.

Gara-gara tidak terima kemahalan akan Kota London, akhirnya memutar otak “bagaimana cara hemat keliling London”. Memang Tuhan itu sangat sayang kepadaku, karena pada akhirnya aku mendapat ilham untuk berhemat di London.

Sebelumnya aku sudah membuat tujuan wisata di London terutama yang dekat-dekat dengan Big Ben, barulah dari sana kemana-mana. Meski tujuan utama ke London ada dua yaitu mencari ATM BNI di London yang hanya ada satu-satunya di Eropa serta pergi ke Topshop mengambil barang pesanan Yuki. Untuk alamat Bank BNI di London berada di 30 King St, London EC2V 8AG, UK. Selebihnya random keliling wisata London. Dengan bermodalkan peta dari penginapan di London, akhirnya menggunakan kereta ala London yang sekali jalan bisa kena 3 Pounds menuju stasiun terdekat ke arah Big Ben.

London Map (From Web Myenglandtravel)
Belum sampai dan masih jauh dari Big Ben eh akhirnya pas asik-asik keliling London, tiba-tiba aku melihat sepeda berjajar nganggur yang ternyata disewakan. Sepeda yang berada di tepi jalan dan ada petunjuak bagaimana cara memakainya. Itu dari hasil melihat warga lokal yang mengambil sepeda dengan mudahnya, Harga sewa sepeda pun cukup membuat bibirku sumringah tak karuan hanya 2 Poudsterling saja seharian penuh. Namun bayarnya memang pakai CC alias kartu kredit.

Padahal aku tidak punya CC sama sekali loh!

Beruntungnya bisa dipakai sepeda dan ide gila keliling London bersepeda alias gowes cantik di London pun terjadi. Habis mau gimana rencana gowes di Indonesia malah kecapain gowes di London saking tak tahan degan mahalnya transportasi London.  Aku kan gak ikhlas memberikan 3 Pounds setara dengan Rp50.000 kalau kurs 1 Pounds = Rp16,000 untuk sekali jalan. Maka pilihan terbaik ada bersepeda keliling London. Padahal jangan tanya gimana cuaca di London saat April, dingin!! Belum pas hari-H hujan pula, makin menjadi-jadi dinginnya. Belum salah kostum yang aku pakai, ini asli semua demi jalan hemat di London.

Pertemuan dengan sepeda tadipun karena adegan setelah tidak berhasil mengambil uang di BNI, London. Disana tidak ada tanda-tanda ATM BNI adanya Bank itupun tutup karena hari Sabtu padahal sudah bela-belain jauh-jauh demi mengambil uang. Meski apes justru membuatku mendapatkan cara hemat keliling London dengan sepeda sewaan .

Asli, pikir dua kali sih kalau Backpacker ke London 😉

London
Jujur tidak pernah aku bayangkan bisa mengelilingi London dengan puas bersama sepeda. Kelilingnya pun sesuka hati kemana yang diinginkan. Seolah tahu jalan, padahal baru juga hari kedua di London, bak familiar.

Selama keliling London dengan bersepeda seharga 2 Poundsterling ada beberapa tempat yang bisa aku kunjungi terutama wisata London yang terkenal seperti:

1. Big Ben

Dengan mengayuh sepeda sambil mengandalkan peta offline di HP maka pilihan pertama adalah Big Ben, jam super terkenal dari London. Ketika sampai di JEMBATAN yang dekat dengan Big Ben, rupanya beberapa hari sebelumnya terjadi kejadian yang kurang mengenakkan disekitarnya. Sampai-sampai Yuki ngirim pesan untuk waspada mengenai teror yang terjadi. Untungnya pas aku ke Big Ben, aman jaya bahkan banyak juga pengunjungnya. Sayangnya cuaca kurang bersahabat karena agak mendung sehingga pas sampai di Ben Ben yang terucap dalam hati “Kok Big Ben biasa saja?”! Kalau menurutku itu Big Ben itu biasa. Begini nih kesahalan kalau harapan terlalu tinggi.

Bahkan warna Sungai Themes itu cokelat tapi yah memang bersih.

Entah kenapa aku merasa mengeliling London pada malam hari lebih menarik daripada siang hari.

Big Ben
2. Buckingham Palace

Buckingham Palace
Menuju Buckingham Place dari Big Ben tidak lah sulit dan lumayan dekat. Namun sayangnya pas sampai di Buckingham momennya tidak tepat karena sedang ada shooting di lokasi luar istana. Alhasil tidak leluasa melihat Buckingham dari luar. Bahkan untuk masuk ke area komplek Buckingham sepeda tidak diperbolehkan. Terpaksalah sepeda didorong pelan-pelan masuk di jalanan setapak yang sudah dibuat orang shooting. Sampai aku sempat sebel sama yang shooting karena merusak pemandangan saat di Buckingham. Memang mungkin saat ke London timingku tidak tepat. Alhasil melihat tentara ala Inggris pun gagal. Boro-boro membayangkan istana cantik dengan taman bunga indah di depannya seperti yang aku lihat di postcard yang ada yang aku lihat di depan Istana adalah kerumunan manusia ditambah kru yang sedang membuat film. Pupus sudah harapan melihat kegantengan Pangeran Harry apalagi mencium tangan Ratu Elizabeth. Bye dah impian! Hiks 😦

3. London Eye

London Eye and Bus
London Eye semacam bianglala yang tak kalah terkenalnya di London. Tapi seperti biasa karena takut ketinggian dipastikan aku tidak mau menaikinya. London Eye pun dekat dengan Big Ben sehingga sekaligus satu area dapat mengunjungi beberapa spot wisata terkenal di London. Padahal aku penasaran juga naik ke atasnya namun karena rasa takut lebih besar daripada keinginan, cukup melihat dari jauh saja sudah cukup.

4. Oxford Street

Oxford Street
Mengunjungi Oxford Street London memang karena permintaan Yuki, si butet Blogger yang sebelumnya sudah ke London. Hanya saja waktu itu dia tidak beli sehingga nitip aku ambilkan. Karena sayang teman akhirnya aku bela-belainlah bersepedamencari dimana letak Topshop sepanjang Jalan Oxford Street London. Tokonya pun susah sekali dicari sampai ada nyasar-nyasar 3 kali keliling, padahal kondisi sepatu juga tidak bersahabat.

Iya lagi-lagi sepatuku rusak, asli setiap perjalanan aku selalu mengalami sepatu rusak. Bahkan sepatu yang aku beli di Jepang dan baru sekali pakai tetap tak bertahan namun apa daya pas gowes rusak parah. Kebayang kan betapa menyedihkannya bersepeda dengan keadaan sepatu rusak.

Pas di dalam Topshop banyak sekali harga miring yang cukup membuatku hampir “hilap”. Bayangkan satu sepatu saja Rp500.000 yang paling murah itupun sudah diskon gede-gede. Untung pertahananku cukup tinggi sehingga tidak membeli sepatu di Topshop ini. Kalau di Jakarta Oxford Street ini seperti berada di area Segitiga Emas Jakarta Kuningan-Thamrin-Sudirman yang penuh dengan shopping mall.

Walau jujur ada enaknya ketika berjalan di area Oxford Street London karena merupakan area untuk shopping. Walau dipastikan aku hanyalah kurir barang saja namun lumayan cuci mata toko-toko.

Oxford Street London memang cocok bagi si Shopaholic!

5. British Museum

British Museum
British Museum di London merupakan tempat yang sangat aku suka. Memang tak seindah dan selengkap di Louvre Museum di Paris namun mengelilingnya seru sekali. Bahkan aku melihat Mummi asli di Bristih Museum. Kerennya lagi masuk ke dalam British Museum itu “hratis” alias gratis tis tis.

Apa gak senang hatiku!

Alamat British Museum :

Great Russell St, Bloomsbury,

London WC1B 3DG, UK

Semua wisata top London yang aku kunjungi kesemuanya hasil gowesan, dan memang tidak hanya itu saja tempat yang aku kunjungi selama di London. Memang sedikit capek tapi mengingat murahnya apapun kulalakukan. Kan keren keliling London murah meriah dengan sepeda, sambil olahraga sambil hemat pengeluaran 🙂

Itinerary Trip London, April 2017

08:00-09:00 Naik Kereta £3 kemudian sewa sepeda seharian £2,membeli makan di supermarket £8,85

09:00-22:00 Keliling London dengan sepeda mulai dari Big ben, Parliament, British Museum, London Eye, dan lain-lain

Tempat wisata yang didatangi di London Benua Eropa: Big ben, Parliament, British Museum, London Eye

Total biaya pengeluran di London = £3 + £2  + £8,85 = £13,85

Nah jika ingin berhemat keliling London maka bisa mengikuti pengalamanku tapi dengan catatan siap-siap dengan mengayuh sepeda yang lumayan menguras tenaga serta nyasar-nyasar dikit dan tentu saja siapkan mental.

Kapan lagi coba gowes di London dengan £2 ?

Salam

Winny

Mie di Obok-Obok Pakai Tangan di Old Bagan, Myanmar


Life was always a matter of waiting for the right moment to act.

By Paulo Coelho

Hello World

Februari, 2017

Setelah kami mendapatkan Golden Sunrise Bagan yang terkenal dengan Balon Udaranya, akhirnya kami memulai perjalanan di Bagan sesungguhnya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya di Cerita Mengejar Sunrise sudahlah tidak ada jalan naik ke Pagoda dan harus dibantu oleh dua orang turunnya pun kesusahan. Pas turun itu aku benar-benar merasa seperti “Atcacibang” (Bahasa Batak: seekor hewan bisa naik tak bisa turun). Kalau salah turun bisa BERABE maklum aku belum memiliki asuransi jiwa jadi aku tidak mau mati konyol. Untungnya aku berhasil turun dengan selamat dengan usaha yang tak biasa. Benar-benar jadi pelajaran berharga untuk tidak manjat-manjat di Pagoda. Barulah setelah berhasil turun aku berusaha memulihkan jiwa dari rasa takut akan ketinggian.

Satu persatu turis yang mengincar matahari terbit di Old Bagan mulai meninggalkan Pagoda, menyisahkan kami bertiga yang melakukan aksi gila dengan memutari Pagoda tempat kami mencari sunrise. Tentu saja ide gila ini diprakarsai oleh Ade. Aku dan Melisa hanya ngikut saja 😀

Yuk kita buat Video mengitari Pagoda dengan G* Pr* ku, katanya

Ternyata pusing-pusing Pagoda beramai-ramai itu seru sekali, benar-benar lagi liburan dan piknik. Setelah puas kami bertiga melanjutkan perjalanan dari Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan. Tujuan selanjutnya kami adalah mencari sarapan pagi untuk mengisi perut kami yang sudah mulai memberontak. Namun jangan tanya kemana arah peralanan kami, kami hanya mengikuti kata hati. Kata hati kami menuntun kami ke arah New Bagan.

Dari perjalanan Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan menuju ke New Bagan ternyata banyak sekali Pagoda disekelilingnya sepanjang mata memandang. Memang tak salah kalau Old Bagan merupakan “Rajanya Pagoda”. Jarak satu meter ada Pagoda, tidak ada pagar sehingga pecinta Pagoda bakalan puas di Old Bagan. Aku yang pecinta Pagoda ampe eneg saking banyaknya Pagoda di Old Bagan bahkan untuk mengunjunginya satu persatu tidak mungkin dalam sehari.

Kalau dilihat-lihat, Pagoda di Myanmar ini hampir mirip dengan Pagoda di Muara Takus, Riau walau aku belum pernah ke Riau. Bentuknya juga bervariasi, namun jangan samakan seperti Candi yang ada di Jawa seperti Candi Prambanan karena tidak begitu bentuknya. Saking banyaknya Pagoda di Old Bagan, kami memilih untuh singgah seenak hati kami saja. Dimana ada Candi yang kami lihat cantik dan bentuknya unik, maka kami akan singgah. Disinilah keseruan perjalanan di Myanmar kami, tanpa beban, meski cuaca terik dan panasnya Kota Bagan.

Sarapan Pagi di Old Bagan, Myanmar

Dalam perjalanan ke New Bagan, kami berhenti disebuh tempat peribadatan bernama Manuha Phaya. Di dekat Manuha Phaya terdapat pasar dadakan serta penjual makanan, sehingga sepeda motor listrik kami parkir disekitar Manuha hingga kami memutuskan makan saja di warung terdekat persis di depan Manuha Phaya. Yang dijual adalah mie dengan aneka bumbu serta tempatnya seperti warung, berlokasi tepat di pinggir jalan. Memang agak ngeri-ngeri sedap mencari makanan halal di Bagan, Myanmar.

Jadi pas melihat mie, pikiran kami adalah halal dan tak mungkinlah bumbunya mengandung B2. Anggap saja itu adalah pemikiran polos kami karena pas ditanya apakah halal atau tidak, penjual tidak mengerti Bahasa Inggris apalagi Bahasa Inggris kami pas-pasan. Alhasil kami seret bangku terus menaruh barang kami di meja sambil mengerumuni tukang penjual mie. Mie di Bagan mirip dengan Mie di Indonesia bedanya tekstur dan bumbunya. Kami memilih makan mie karena selera gitu melihatnya pas si Ibu penjual dengan lihai menyediakan makanana kepada pembeli.

Mie ala Old Bagan. Tekstur mie nya kayak di sini. Yang membedakan bumbunya. Sangat khas. Ada kemiripan dengan rempah yang di Thailand. Kuahnya pakai sup kepiting. . Yang mau ane ceritakan kisah pas beli mie ini.👇👇 . Selesai liat sunrise, kita cari sarapan. Banyak warung jual sarapan pagi. Kayak di Indonesia lah ya. Dan pilihan kita jatuh pada warung yang jual mi ini. Selera gitu liatnya. Giliran gw yg pertama pesan. Si ibu gak bisa bahasa Inggris, jadi main tunjuk2 aja. Yes No Yes No. Si Ibu udah bikin mie ke piring, dan dari gesturnya dia nanya mau pake apa. Karena banyak pilihan topping bumbu dan isi. Maksud ane, mau bilang campur aja semua. Ane tunjuk dah semua. Tangan ane muter2. Ade bantu dan mengeluarkan kata "mix" Bapak yang berdiri dekat ibu menyambut kata "mix" dan sambil menjelaskan dengan gerakan. Mungkin dipikiran kita sama dan kita senang langsung bilang YES YES. RIGHT. Si bapak langsung menjelaskan ke si Ibu. Hitungan detik, mie+isi lainnya yang udah dipiring langsung di "MIX" alias di obok-obok si Ibu pake 5 jarinya. Ane shock, speechless. Langsung bilang OK OK enough stop stop sambil senyum. Ade dan Winny ngakak abis dan bilang "untung bukan gw yang pertama Mel" Belajar dari yg pertama, makanan Winny dan Ade gak diobok2😂. Ane makan juga sampe habis. Lupakan obokan tapi mienya enak sih. Enak antara kelaperan atau karena obokan tangan si Ibu. . . . . . . . . . . #bagan #myanmar #food #foodtravel #photo #travelphotography #wanderlust #travel #traveller #backpacker #photography #foodgraphy #travelaroundworld #travelasia #noodles

A post shared by Melisa Sianipar (@melisa.sianipar) on

Yang pertama kali memesan Mie adalah si Melisa. Mie yang dia pesan sudah berada di piring dan si ibu sebenarnya ingin menanyakan pakai bumbu apa karena banyak sekali bumbunya. Eh Melisa gak sadar Bahasa tubuh si ibu sehingga Melisa main tunjuk ke semua bumbu dengan tangan memutar serta berkata “mix”. Padahal si ibu cuma ngerti “Yes”, “No” aja. Alhasil si suami si Ibu mengerti arti “mix” mendekati si Ibu sambil menjelaskan permintaan si Melisa namun salah kaprah.

Awalnya kami kira si Bapak mengerti kalau permintaan Melisa adalah mencampur semua bumbu sehingga dengan semangat kami menjawab “Yes”, “Right”. Kemudian tak sampai hitungan detik, setelah bumbu dimasukkan ke Mie langsung mie si Melisa benar-benar di Mix tapi di mix “pakai tangan si ibu”. Yah Mienya diubek-ubek pakai tangan si ibu tanpa alas tangan. Langsung aku dan Ade tertawa terbahak-bahak melihat muka Melisa yang speechless sambil berkata OK Enough Stop. Hahahahahahhaa 🙂

Mie Ubek-ubek pakai tangan di Bagan, Myanmar

Kami berdua dengan kompakan mengatakan “untung bukan gua yang pertama Mel”. Memanglah kami ini teman apa, udahlah si Melisa setengah jijik melihat Mienya diubek pakai tangan malah kami ketawain sampai mau pipis rasanya. Asli adegan ini membuat kami tertawa puas melihat kejadian konyol ini. Tambahan kami malah godain si Melisa hati-hati kena diare, bawa obat diare gak. Anehnya meski di ubek pakai tangan, mie si Melisa habis juga. Entah doyan apa lapar, tapi yang pasti mienya emang enak. Bahkan ada sup kepitingnya lagi, dan diberikan cuma-cuma.

Belajar dari pengalaman Melisa, aku dan Ade menunjuk bumbu kami tanpa ada kata Mix sehingga mie kami berhasil tanpa ubekan alias obok-obok tangan dari si ibu penjual. Memang kebiasaan penjual di Myanmar ketika ke warung saat menyediakan makanan maka penjual akan mengaduk makanan dengan tangan kosong kemudian diberikan kepada pembeli. Jadi kalau ke Myanmar jangan lupa membawa obat diare, karena iya kalau penjual makanannya ingat cuci tangan, kalau kagak mah entah apa-apa yang dipegangnya. Untungnya pas si Ibu yang mengubek Mie si Melisa cuci tangan sih.

Tuh Mel dia cuci tangan, kata Ade

Aku masih senyum-senyum sendiri melihat ketidakterimaan mienya si Melisa diubek pakai tangan.

Mie Old Bagan, Myanmar (Photo by Melisa)

Setelah puas makan mie, kami memesan kelapa muda yang kebetulan ada disekitar penjual mie obok-obok alias diubek-ubek pakai tangan. Minum kelapa dengan lingkungan Bagan yang agak dusty benar-benar surga tersendiri. Apalagi setelah makan mie maka minum kelapa nikmat sekali. Setelah kenyang barulah kami membayar sarapan kami. Untuk harga sarapan mie kami 2600 KS/3 orang dan harga kelapa 3000 KS/3 orang.

Catatan:

Ks adalah singkatan mata uang Myanmar bernama Kyat Myanmar biasa disingkat KS ada yang menyingkat MYK. Untuk di kurs Rupiah tergantung rate namun agar mudah tinggal dibagi satu nolnya, Untuk 1 KS = Rp10-Rp11.

Sarapan pagi di Old Bagan

Setelah kenyang makan, kami melanjutkan ke Manuha Phaya. Masuk ke dalam Manuha Phaya sendal harus dilepas dan begitu banyak pengunjung yang mayoritas beribadah. Di dalam Manuha Phaya terdapat sleeping Buddha yang mengingatkanku akan Hatyai, Thailand. Tentu saja sleeping Buddha bukan seperti yang di Bangkok, berbeda. Disini si Melisa sangat semangat mengelilingi Manuha Phaya. Mungkin ini efek dari Mie Ubekan tangan si Ibu Myanmar sehingga dia kelebihan energi. Aku dan Ade mengitari sekedarnya saja dan kurang bersemangat, maklum kami sudah melihat sleeping Buddha dan standing Buddha yang cukup oke, sehingga yang biasa saja membuat kami tidak begitu antusias.

Namun walau demikian kami menganggap bonus mengunjungi Manuha Phaya, Old Bagan karena ibaratnya pergi ke pelosoknya Old Bagan malah menemukan hal baru. Apalagi kondisi ramai-ramainya warga lokal, tentu kami penasaran ada apa sampai banyak yang mendatangi Manuha. Ternyata kebanyakan pengunjung untuk beribadah, jarang ada turis, kalau ada itupun yang nyasar atau penasaran dengan keramain yang ada di Manuha.

Manuha Phaya
Manuha Phaya

Setelah dari Manuha kami pun melanjutkan perjalanan Old Bagan. Pagi hari kami diisi dengan pengalaman nasi ubekan tangan. Ternyata backpackeran ke Myanmar seru karena orang yang dibawa juga seru 🙂

Salam

Winny

Mengejar Sunrise di Old Bagan, Myanmar


Every sunrise gives you a new beginning and a new ending. Let this morning be a new beginning to a better relationship and a new ending to the bad memories.

By Norton Juster

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Nya, pokoknya bagaimanapun caranya kita mesti dapat sunrise Bagan 
dengan balon udaranya, begitu kata Ade

Iya misi kami ke Myanmar memang ingin melihat matahari terbit dari ribuan Pagoda di Old Bagan, Myanmar lengkap dengan balon udaranya. Aku pun tentu ingin sekali melihat hot balonnya Old Bagan setelah gagal melihat hot ballon di Cappadocia, paling tidak bisa mengobati rasa kecewa setelah gagal di Turkey.

Untuk itulah kami sengaja memesan tiket bus dari Inle berangkat jam 8 malam agar sampai di Bagan jam 3 pagi. Saat sampai di Terminal Bus Bagan yang pertama kami lakukan adalah memesan tiket pulang khususnya Melisa. Aku dan Ade menemani Melisa mencari bus ke Yangoon karena setelah seharian menjelajah Bagan maka Melisa kudu pulang ke Yangoon sementara aku dan Ade masih melanjutkan perjalanan ke Mandalay.

Pembelian tiket bus kami pun jatuhnya on the spot, tapi jangan khawatir banyak kok loket bus yang buka meski kedatangan kami itu pagi sekali. Buktinya Melisa dapat memesan tiketnya ke Yangoon, sementara aku dan Ade belum membeli tiket kami karena waktu kami lebih fleksibel daripada Melisa.

Saat di terminal Bagan, kami sempat galau untuk transportasi kami ke Bagan karena ada 3 pilihan, yaitu

1. Dengan menyewa mobil seharga 60,000 Ks/3 orang dengan catatan kami tidak perlu berpanas-panas ria dan tidak perlu membayar uang masuk Kota Bagan seharga 20,000 KS/orang dan diantar dari dan ke terminal Bagan.

2. Dengan naik taxi ke tempat penyewaan e-bike kemudian nyewa e-bike seharian dengan catatan kami mengeluarkan dua biaya, sewa taxi dari dan ke terminal Bagan serta sewa e-bike

3. Dengan menyewa sepeda dari terminal seharian dengan catatan dipastikan kaki kami pasti gempor karena jarak yang jauh.

Akhirnya opsi yang kami pilih adalah pilihan kedua dengan naik taxi ke tempat penyewaan e-bike terdekat dengan catatan mengatakan kepada pihak driver taxi agar kami tidak melewati petugas pembayaran Kota Bagan.

Sunrise di Bagan

Perlu diingat bahwa untuk masuk ke Kota Bagan, maka turis wajib membayar uang masuk sekitar 20 dollar perorang atau setara dengan 20,000 KS. Dengan membayar uang masuk Kota Bagan, maka bisa masuk gratis ke beberapa Pagoda di Bagan.  Kami sempat hanya ingin membayar 5,000 KS/3 orang tapi si driver taxi hendak membawa kami ke petugas untuk membayar, akhirnya cincai-cincai dengan driver taxi kami agar kami tidak melewati petugas. Si Bapak driver pun tahu jalan tikus tanpa harus membayar uang masuk Kota Bagan, sehingga hasil cincai-cincai tadi,  biaya taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang.

Artinya kami turis gelap ke Bagan!

(please jangan ditiru karena belum tentu seberuntung kami).

Akhirnya kami bertiga tidak membayar 20,000 Ks/orang.

Perjalanan dari Highway bus Station ke Nyaung-U di pagi buta benar-benar blank, tanpa tahu jalan, semua kami serahkan ke si Bapak untuk mencari tempat penyewaan sepeda motor. Padahal kalau si Bapak bawa kami entah kemana kami juga tak tahu. Saat perjalanan dari terminal ke Nyaung-U,  si Bapak berusaha merayu kami untuk menyewa taxinya seharian 600,000 Ks kepada kami namun kami tolak karena beliau tidak mau 500,000 Ks.

Akhirnya sampai di tempat penyewaan e-bike, kami mendapat harga sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike. Tentu saja penyewaan e-bike di jam 3 pagi masih ada yang buka, benar-benar beruntung itupun hasil gedar gedor pintu si empunya dengan bantuan Pak Driver Taxi, meski dia sedikit kecewa tidak berhasil merayu kami menyewa taxinya. Pemilihan penyewaan 2 e-bike pun ada alasannya karena kami hanya bertiga saja, artinya aku bisa dibonceng Melisa atau Ade untuk menghemat biaya sewa e-bike.

Catatan: Untuk mengelilingi Bagan transportasi umum berupa tuk-tuk, taxi, mobil pribadi, sepeda atau  sepeda motor listrik (e-bike). Setiap mode transportasi memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Awalnya kami sempat ragu naik e-bike karena takut sudah jauh eh bateri habis, kan bisa berabe pas motor mogok karena bateri habis. Kan gak lucu mendorong sepeda ke Nyaung-U dari Old Bagan. Tapi tenang, ternyata e-bike bisa tahan 8 jam sehingga kalau hanya keliling Old Bagan dan New Bagan lumayan cukup serta kalau kehabisan baterai atau ada apa-apa, tinggal telephon yang punya langsung siap sedia membantu.

Sunrise di Old Bagan

Dengan 2 buah e-bike lah pada jam 3.30 pagi kami memulai mencari spot Sunrise di Old Bagan. Padahal itu kami baru nyampe dan jaraknya masih agak jauh serta untuk jalan, jujur saja kami buta sama sekali. Kami hanya mengadalkan peta buta dari tempat penyewaan sepeda motor listrik serta peta offline Bagan. Cara kami mencari spot sunrise pun seperti orang kesetanan, sempat aku dibonceng Melisa kemudian aku membonceng si Melisa kemudian ada saatnya si Ade yang bonceng aku dan ada saatnya Ade bonceng Melisa, ganti-gantian. Tapi yang pasti saat aku membonceng si Melisa, si Melisa paling anti.

Sini Win, aku aja yang bawa, aku takut dirimu yang nyetir, 
begitu kata Melisa

Tidak hanya itu ada beberapa spot yang mewajibkan membayar terpaksa kami skip karena kami adalah turis gelap tanpa tiket masuk. Alhasil kami sempat seperti orang linglung mencari spot sunrise di Bagan.

Nya, pokoknya kalau aku gak dapat Sunrise di Bagan, aku sedih, 
begitu kata Ade

Akhirnya tak heran pas naik e-bike kami bertiga ngebut seperti orang kesurupan. Bahkan aku dan Ade jatuh dari e-bike sementara si Melisa tidak tahu kalau kami dibelakang terjatuh. Belum lagi kami harus melewati semak-semak belukar, akhirnya jam 5 pagi kami menyerah dan mengikuti turis asing hingga kami berhenti di suatu Pagoda.

Dan kami beruntung mendapatkan apa yang kami cari 🙂

Sunrise Old Bagan

Awalnya Ade ingin memanjat Pagoda untuk melihat sunrise Bagan dengan balon udara namun karena tidak ada seorangpun kesana dan susah akhirnya kami masuk ke Pagoda yang ramai orang bulenya. Tentu saja di peta buta katanya “free hot spot sunrise Bagan“, namun tetap bayar pas naik ke atas Pagoda dengan biaya “seikhlasnya”. Naik ke Pagoda pun tantangan tersendiri karena tangganya yang kecil serta gelap, tanpa cahaya, hanya handphone sebagai andalan. Tiba di atas Pagoda ternyata “ramai”, ramai turis.

Turis yang menunggu Sunrise Old Bagan, seperti kami!

Nah pas diatas ternyata ada lagi puncak Pagoda, ada 2 orang bule yang naik ke atas dengan peralatan kamera yang super lengkap namun lucunya satu temannya tidak bisa naik, akhirnya dibantu si Ade untuk manjat. Disini si Ade kumat mengejek sang bule, katanya “bule tak bisa manjat padahal badannya kekar”. Si Melisa saat mancat Pagoda juga lihainya “Masyaallah”, cekatan padahal miring serta terjal dan kecil. Naiknya gampang gitu, belum si Ade juga naik mudah. Yang paling parah adalah aku, tahu sendiri aku takut dengan ketinggian eh malah mencoba naik. Sumpah itu saat naik darahku hampir muncrat, dan tak berani naik. Hingga dibantu oleh Ade dan Melisa dan dua orang entah siapa. Pas diatas rasanya aku seperti atcacibang (nama istilah hewan di Batak yang tidak bisa aku bahasa Indonesiakan tapi artinya bisa naik tapi tidak bisa turun). Jangan tanya aku sungguh tak berani lihat bawah dan dalam hati “Mak, gimana turun ini”.

Nama Pagoda yang kami naiki itu adalah Law Ka Ou Shawng, dan dari 2 orang jadi 5 orang hingga ramai sekali di top op top Pagoda. Bahkan kami sempat disenter oleh petugas untuk turun sambil diteriakin dari bawah “oy” padahal sunrise belum nongol. Eh turis yang sudah ramai termasuk kami bukannya turun malah bersembunyi di balik Pagoda. Beberapa ada yang turun dan beberapa termasuk kami sungguh bebal. Memang tidak baik sih naik ke atas puncak Pagoda selain dari faktor safety juga takut Pagodanya roboh.

Jadi jangan ditiru mancat-mancat Pagoda demi matahari terbit ya!

Trip Old Bagan, Myanmar

Rencana Rincian Biaya di Bagan

Date Time Activity Cost Remarks
25-Feb-17 03.00-03.30 Arrived and prepare for a long journey 20000 MYK Entrance Fee
25-Feb-17 03.30-04.00 Go to E bike Rent center by Taxi 10000 MYK  
26-Feb-17 04.00-05.00 Rent E bike 6000 MYK  
25-Feb-17 05.00-05.30 Hunting sunrise still trying to find best place to see sunrise at bagan
25-Feb-17 05.30-08.00 Enjoy Sunrise and Air baloom
25-Feb-17 08.00-17.00 Explore Bagan
25-Feb-17 17.00-18.30 Hunting sunset at Shwezigon Pagoda
25-Feb-17 18.30-19.30 Back to e bike rent center
25-Feb-17 19.30-20.00 Prepare for Next Destination (take bath, charge gadget, charge camera)
25-Feb-17 20.30-02.30 Go to Mandalay by Ok Express Minibus 9000 MYK
Total Cost 45000 MYK

Tidak lama kami menunggu balon dari ribuan Pagoda di Old Bagan dengan latar matahari terbit. Saat balon udara keluar tiba-tiba Melisa Panik karena maklum dia kamera baru.

Melisa: Winny, gimana ini settingan cameraku
Aku: Sorry Mel, aku gak tahu, cameraku N**kon, dirimu kan Ca***
Melisa: aduh gimana ini Win, mulai gerasak gerusuk
Aku: melirik bule disamping kami yang tadi ditolong si Ade dengan merk yang sama dengan kamera canggih lengkap dua lensa, Mel minta ajarin si bule itu kan kamera kalian sama
Melisa: Win, gak berani, minta tolong lah Win tanya dia
Aku: Akhirnya kasihan melihat si Melisa akupun ngomong “Sir, can you please help my friend to setting her camera”
Si Bule: Okay
Melisa: Tersenyum manis karena dibantu si bule settingin kamera barunya dan dapat hot ballonnya

Meninggalkan Melisa yang asik dengan belajar dengan Bule, aku dan Ade malah mencoba mendapatkan photo dengan Hot Balon Bagan lengkap dengan latar belakang balon udara, sunrise dan Pagoda Old Bagan.

Ternyata menikmati Sunrise di atas Pagoda Law Ka Ou Shawng dapat membuat senyum mekar kami mengembang, tidak sia-sia kami jatuh dari E-bike 😀

Sunrise Bagan

Actual Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Salam

Winny