Memberi makan Merpati di Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Myanmar


I wanna write ‘I miss you’ on a rock and throw at your face so you know how much it hurts to miss you.
By Anonymous

Hello World!

Inle, 2017

Aku, Ade dan Melisa berjalan tergopoh-gopoh keluar dari Pagoda warna-warni sambil menuruni perbukitan melalui anak tangga dari semen. Pemandangan kiri kanan kami adalah pasar tradisonal yang cukup menarik, menarik karena kami bisa melihat kegiatan warga lokal sehari-hari. Belum juga sampai ke dermaga ala-ala itu, Melisa dan Ade harus berhenti sebentar ke toilet. Perlu uang beberapa Kyatt Myanmar agar bisa masuk kedalam toilet, sementara aku diluar saja menjaga barang-barang mereka. Akhirnya kamipun berjalan melewati pasar berlantai tanah menuju ke perahu. Didalam perahu, kami duduk manis dan menyerahkan tujuan wisata berikutnya kami kepada dua guide dengan umur yang sekitar SMP dan SMA. Sebenarnya Mrs Muh Kyi telah memberikan peta untuk kami dengan penomoran tujuan wisata kami namun tetap saja kami mengacak tujuan wisata kami. Maklum kami mah gampangan, gampang dibawa-bawa 😉

Karena hari sudah mulai siang, perut kami sudah mulai keroncongan, rasa lapar tidak bisa dibohongi. Namun kami harus menahan lapar beberapa saat karena perahu kami sempat berhenti di sebuah pembuatan tembaga dan perak.  Pembuatan tembaga/ perak tersebut masih tradisional, seorang Bapak menggunakan alat sederhana dengan sistem pembakaran ala kadarnya lalu memperlihatkan cara dia membuat perak. Anehnya yang terlintas dibenakku saat si Bapak menunjukkan kelihainnya dalam mengolah perak/tembaga adalah Kota Yogyakarta, walau belum pernah langsung melihat proses pembuatan tembaga di Yogyakarta entah kenapa aku memikirkan Yogya.

Sayang, kami tidak lama-lama di tempat pengrajin perak/tembaga walau kami disuguhi teh baknya seorang tamu, karena kami harus mencari makanan. Alhasil kami tidak membeli apa-apa dari hasil kerajinan tangan di tempat pengrajin tembaga. Maklum selain menguber waktu, harganya lumayan mahal untuk kami yang backpacker ke Myanmar ini!

Kamipun keluar dari pengrajin dan melajutkan perjalanan.

Di dalam perahu si Ade memberikan Bahasa Isyarat kepada dua guide kami “ food”, begitu katanya sambil mengepal tangannya ke mulut seolah mau makan kepada mereka. Membawa si Ade saat perjalanan memang ada gunanya, karena tingkahnya yang lucu, dia juga bisa mencairkan suasa meski itu cuaca panas dan perut sudah memberontak. Sedikit lupa dengan caranya melawak 😀

Sontak mereka mengerti dan membawa kami ke sebuah restaurant disamping Danau, dekat dengan Phaung Daw Oo Pagoda, tempat dimana memberikan makan kepada merpati.

Setelah kapal bersandar, kamipun melewati jembatan dari kayu dengan pemandangan Danau dengan warna cokelat dibawahnya. Kalau aku bilang warna Danau ini lebih mirip seperti sungai dibatasi oleh sisi kiri kanan. Perlu usaha keras untuk menuju sebuah restauran yang berwarna cokelat dari kayu, berjalan hati-hati di jembatan tadi. Unutk lokasi makannya pun berada di lantai 2, disinilah kami memesan makanan.

Pesananku jatuh kepada yang berkuah-kuah sementara Melisa dan Ade lebih suka menjelajah makanan khas Myanmar walau ujung-ujungnya mereka memesan nasi. Selang beberapa waktu pesanan kamipun datang dengan rasa yang lumayan enak walau harganya sebelas dua belas dengan harga di PI/GI Jakarta. Hanya saja untuk makanan dengan gaya restauran, lumayan ramah di kantong karena kami menganggapnya tempat wisata yang notabenenya selalu mahal. Makan siang di Inle ini kami dikenai biaya 8000 KS/ 3 orang.

Untungnya aku dan Ade bukanlah orang yang tidak susah untuk makan, mengingat kami berdua adalah Muslim dan negara yang kami kunjungi adalah Burma. Sepanjang bukan B2, atau sejenisnya mah kami makan. Paling penting kami usahakan memilih sayuran apabila kami merasa curiga jika itu daging-dagingan.

Tapi so far mau makan apa selama perjalanan di Myanmar, baik-baik saja!

Makan siang di Inle

Rencana Rincian Perjalanan Inle

Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon atraction 500 MYK buy c500orn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat atraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK
Melisa dan Ade di Inle

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Melisa di Pagoda

Setelah kenyang, dengan berat kaki kamipun melangkah ke Pagoda yang terletak di seberang Danau. Pagoda itu terlihat menarik dari atas restoran, mirip seperti Pagoda di Thailand. Pagoda itu bernama Phaung Daw Ooo Pagoda. Kesanalah kami berjalan melewati jembatan kayu yang sama. Dari jembatan ke Phaung Daw Ooo Pagoda terdapat pasar yang menjual souvenir ala Myanmar. Namun kami tentu saja hanya melihat-lihat saja sambil lewat jalan ke Pagoda. Belum sampai di depan Pagoda, ibu-ibu lokal menjajakan jagung kepada kami untuk diberikan kepada merpati. Namun kami tetap berjalan lurus masuk kedalam Pagoda, keinginan untuk memberikan makan ke merpati kami tunda sebentar. Karena tas tidak boleh dibawa ke dalam Pagoda, akhirnya aku menjaga tas Ade dan Melisa dan menjaganya sambil membeli kartu pos di depan Pagoda. Seperti biasa jika ingin masuk kedalam Pagoda di Burma, sepatu dan kaos kaki harus dilepas. Itulah syarat utama yang tidak boleh dilupakan selama di Myanmar.

Gimana, bagus gak? Tanyaku kepada Ade dan Melisa 
ketika mereka telah selesai melihat ke dalam Phaung Daw Ooo Pagoda

Nya, cewek tidak boleh dekat-dekat, 
hanya boleh dari tepi saja, kata Ade kepadaku

Aku pun masuk ke dalam Pagoda dan ternyata benar, untuk dekat ke dalam hanya lelaki saja, untuk perempuan dari jarak jauh.

Ade di Pagoda

Setelah itu kami bertiga pun berjalan ke sisi kanan Phaung Daw Ooo Pagoda, dan menanyakan harga jagung karena kami ingin bermain dengan merpati. Ternyata harga jagung untuk makanan merpati sama dengan yang di rincian perjalanan Myanmar yang dibuat si Ade, “500 MYK” alias “Rp5000” saja. Akhirnya kami membeli jagung untuk kami bertiga demi photo dengan merpati.

Jagung kami terbangkan dan bergaya ala-ala candid dengan merpati, seperti masa kecil kami kurang bahagia atau malah terlalu bahagia

haaha 🙂

Bayangkan usia kami yang bukan belasan lagi malah bermain dengan merpati itu rasanya agak kekanakan namun disitu letak kebahagiannya. Anehnya banyak sekali merpati dijadikan daya tarik wisata di beberapa negara, sampai-sampai aku pernah berbagai cerita tentang merpati di berbagai negara. Siapa sangka di Myanmar lagi-lagi aku bermain merpati untuk kesekian kalinya, dan entah kenapa setiap mempermainkan merpati itu sungguh lucu, walau kasihan si merpatinya sih. Untung hanya merpati, kalau hati abang dipermainkan gimana 😀

Puas dengan bermain merpati kamipun melanjutkan perjalanan di Danau Inle dengan seribu cerita!

Salam

Winny

Iklan