Keramahtamaan Penduduk Desa Kabalutan, Kepulaun Togean


Destiny has two ways of crushing us – by refusing our wishes and by fulfilling them.

By Henri Frederic Amiel

Togean (Photo: Wira Nurmansyah)

Hello World

Togean, 2017

Pernahkah dirimu memiliki pengalaman saat mengunjungi suatu tempat di arak-arak sekampung oleh bocah-bocah saking senangnya melihat kedatanganmu?

Kalau aku pengalaman diarak-arak sekampung baru pertama kali kualami ketika mengunjungi Kepulauan Togean tepatnya saat aku dan teman Blogger seperti Wira, Bobby, Vely, Ridho dan Dan si Hello Mister mengunjungi Kabalutan, sebuah Desa di Kecamatan Walea Kepulauan, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Saat kunjungan kami ke Desa Kabalutan, kami keluar dari perahu anak-anak suku Bajo dengan ramah tamah menyapa kami bahkan kami diikutin. Tidak hanya itu, anak-anak yang kebetulan berenang di Laut mengejar kapal kami ketika mendekat ke arah dermaga dari kayu. Tidak sampai disitu, baru juga kami bersandar, nyanyian merdu dari kapal pun kami dengar. Dari jauh dia bernyanyi “sampai mati”, begitu katanya!

Mendegar nyanyian polos itu kami semua tersenyum. Kamipun memulai perjalanan untuk mengelilingi Desa Kabalutan dimana rumah mereka berada di atas laut. Rumahnya dari kayu mangapung sepanjang lautan serta jembatan kecil untuk mengelilingi.

Togean (Sumber: Ridho)

Memang ada Suku Bajo di Kabalutan?

Jawabannya ada suku Bajo “orang laut”, yaitu suku yang memiliki kebudayaan yang terikat kuat dengan sumber daya laut di Kepulauan Togean.

Penduduk Kabalutan menggunakan perahu untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lain. Penduduknya lumayan banyak bahkan saat kami berjalan kami menjadi daya tarik para bocah-bocah yang kebetulan baru pulang sekolah. Anak-anak Desa Kabalutan dengan antusiasme mengikutin kami.

Yang lucu saat anak-anak yang gembira ketika aku membelikan mereka es untuk 50 orang Rp50.000. Sontak mereka berkata “horeeee”. Melihat ekpresi mereka sungguh membuat hatiku senang.

Yah salah satu yang aku suka ketika mengunjungi suatu tempat adalah bisa berbaur dengan warga lokalnya bahkan kalau bisa berbagi.

Sayangnya aku tidak tahu kalau di Kabalutan banyak anak suku Bajo kalau tidak aku akan membawa buku-buku buat mereka. Kan lumayan memberikan buku bermanfaat bagi mereka, semoga ada kesempatan kembali ke Kabalutan dan membawa oleh-oleh buku bagi anak-anak di Desa Kabalutan.

Anak-anak yang mengikuti kami terasa sekali betapa mereka penasaran kepada kami. Intinya keramahtamahan Penduduk Desa Kabalutan terasa sekali.

Suku Bajo di Desa Kabalutan membuat rumah (Photo Wira Nurmansyah)

Di Desa Kabalutan minimal dua bocah menggandeng tangan kanan kiri kami. Padahal ini bocah-bocah baru masih berpakaian sekolah. Dari satu rumah ke rumah lain maka ada saja anak yang nempel kepada kami. Menariknya saat kami melewati sebuah rumah, terdapat satu anak remaja yang berbahasa Inggris kepada kami karena dikira turis asing dari teras rumahnya. Alhasil si bocah yang mengajak berbahasa Inggrispun ikutan mengikuti kami. Vely saja dianggap sebagai artis Korea, hihi :D, tak hanya itu si Wira juga digandeng anak bernama Sandra dan tak mau lepas.

Ah hati jadi “melting” ketika berada di Desa Kabalutan, Kepulauan Togean.

Nah untuk yang beragama Islam tidak perlu khawatir karena di Desa Kabalutan terdapat musholla sehingga bisa menjalankan ibadah. Hanya saja tidak ada mukenah dan sajadah serta sarung di Musholla. Untungnya aku dan Wira dibantu oleh masyarakat  Kabalutan dengan meminjamkan mukenah kepadaku dan sarung untuk Wira. Tentu aku dan Wira senang karena kami dipinjamin peralatan sholat. Walau penduduk Kabalutan sempat bingung ketika aku mengucapkan “mukenah” karena di Kabalutan tidak disebut mukenah.

Musholla di Desa Kabalutan (Sumber: Wira Nurmansyah)

Keramahtamaan Suku Bajo di Desa Kabalutan tidak hanya pada daya tarik bocah-bocah yang mengikuti kami sepanjang jalan, bak kami artis, namun juga kepada antusias masyarakatnya ketika kami tanya. Disini kami belajar banyak hal, salah satunya bagaimana membuat rumah diatas laut. Di Desa Kabalutan inilah kami melihat bagaimana cara membuat rumah penduduk Desa Bajo yang berada di atas laut. Ternyata pembuatan rumah penduduk Desa Kabalutan, Kepualauan Togean dilakukan dengan gotong royong dengan menggunakan tali. Kayu diikat ke sebuah kayu lalu ditarik dari berbagai arah minimal dengan 5 orang.

Disini aku merasa bersyukur karena budaya “gotong royong” di Indonesia masih tertanam.

Aku bahkan tidak menyangka kalau pembuatan rumah Desa Bajo itu sangat susah namun dengan kebersamaan bisa dilakukan. Tak sia-sia kami jauh-jauh datang ke Pulau Togean, meski melalui darat, udara, laut dari Jakarta-Palu-Ampana-Togean 2 hari perjalanan terbayar dengan apa yang kami dapatkan di Togean.

Kabalutan

Tak hanya mengelilingi Desa Kabalutan, kami juga sempat naik ke sebuah Bukit Karang. Untuk sampai ke Bukit karang kami harus menginjak karang yang agak tajam. Saat naik ke bukit, aku heran karena bocah-bocah naik dengan lincah tanpa alas sementara aku kesusahan karena sandal tidak memadai. Sementara bocah-bocah suku Bajo dengan lihai bahkan ada juga yang membawa tentengan berisi es untuk dijual.

Disini aku merasa kalah sama bocah hehe 😀

Hal lain yang kami lakukan di Desa Kabalutan dengan mengunjungi pasar. Namun apa daya kami datang telat sehingga pasarnya tutup. Nah saat di pasar ini salah seorang bocah yang tadi berbahasa Inggris denganku diam-diam membelikanku minyak wangi dan aku dikasih sebagai kenang-kenangan.

So sweet banget kan?

Desa Kabalutan

Pengalaman menarik lainnya yang aku dapatkan di Desa Kabalutan ketika memborong makanan untuk anak-anak di Desa Kabalutan. Jadi, ada juga pengalaman ketika melewati warung yang berjualan buah manisan. Harganya Rp1000 satu terus aku borang Rp20.000 untukku dan anak-anak yang mengikuti. Yah itung-itung berbagi rezeki kepada mereka. Nah pas bayar rupanya aku salah ngasih uang kepada si pemilik warung. Maklum uang Rupiah keluaran baru belum aku hapal, jadi uang yang Rp20,000 aku kasih malah Rp2000 hingga seorang bapak berlari kepada sambil berkata “Nona uangnya Rp2000 harusnya Rp20.000”.

Sontak ini malu banget, lalu dengan segera aku mengambil uang kepada si Bapak dan untungnya si Bapak maklum. Tidak hanya itu aku sepanjang perjalan mengelilingi Desa Kabalutan asik sekali memborong makanan, emang sih in hobiku doyan makan kalau mengunjungi suatu tempat. Yang terakhir malah mencoba telur tusuk hasil traktiran kak Wira. 😀

Desa Kabalutan

Tonton Video perjalanan Togean kami yang menarik

1. Video Togean dari Dan si Hello Mister

2. Video Togean dari Ridho

3. Video Togean dari Wira part 1

4. Video Togean dari Wira part 2

Baca juga tulisan tentang Togean

1. Jatuh Cinta dengan Togean

2. Daur ulang sampah plastik menjadi produk berguna di Togean

3. Semua demi ubur-ubur di Togean

Liburan di Togean menjadi liburan terasik yang pernah aku alami apalagi bertemu dengan bocah polos di Desa Kabalutan, mengetahui tentang masyarakat Suku Bajo, bagaimana pasarnya hingga menjadi artis dadakan!

Hayooo siapa yang mau ke Togean?

Salam

Winny

Iklan

Menikmati Pasar Tradisional dan Candi di Inle, Myanmar


“You will never find time for anything. You must make it.”

By Charles Buxton. M

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Setelah puas melihat aksi Nelayan di Inle, kapal kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Tradisonal di Inle. Sepanjang perjalanan aku mengamati rumah apung yang ada di Danau Inle, Myanmar. Dalam hatiku “serasa di Kalimantan”. Dalam perjalanan, sesekali perahu kami berpapasan dengan turis di perahu, kadang kala perahu harus berhenti karena jalanan yang sempit. Kadang satu perahu harus mengalah agar bisa lewat. Sudah lama rasanya tidak menikmati pemandangan Danau yang berbeda. Bahkan saking menikmati berada di perahu kecil, sempat membuatku mengantuk, alhasil kutarik selimut yang disediakan guide kami untuk menutup kepalaku dari panasnya matahari. Pilihan menyewa perahu seharian demi wisata Inle memang merupakan pilihan yang tepat apalagi harga sewa seharian untuk kami bertiga lumayan murah. Yah itulah kadang gunanya jalan-jalan dengan teman karena bisa sharing cost.

Sesampai di Pasar Tradisional Inle, kapal kecil kamipun merapat. Dari kejauhan sudah terlihat di Puncak Bukit sebuah Pagoda dengan warnanya yang tak biasa, perpaduan antara kuning, putih dan cokelat. Waran kuningnya seperti emas sehingga ketika pantulan cahaya mengenainya membuat mata silau. Tempat pemberhentian kami bernama Taung Toe untuk melihat pasar dan Candi.

Ketika keluar dari perahu maka kami melihat jelas pasar tradisonal yang menjual berbagai hal. Yang terlintas dalam pikiranku teringat akan Indonesia. Karena waktu masih pagi saat kedatangan kami, maka di Taung Toe inilah kami langsung mencari makanan khas Myanmar. Alhasil setelah melewati jalanan setapak kecil dengan sisi kanannya Danau, kami berhenti di sebuah warung yang menjual aneka gorengan. Yang lucu gorengan yang kami beli itu bernama “Cireng” alias aci di goreng.

Aku, Melisa dan Ade pun memilih makanan sambil minum di warung berbaur dengan warga lokal. Saat makan anjing pemilik berkeliaran yang sempat membuatku takut, takut dijilat. Untuk sarapan ala gorengan Myanmur pun cukup murah hanya 2300 KS/3 orang. Barulah setelah kenyang kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Candi sambil melewati pasar tradisional.

Saat di Pasar tradisonal Taung Toe, aku sempat ngiler lihat mie namun apa daya karena mengejar waktu kami tidak berhenti. Kami malah berhenti saat membeli sarung khas Myanmar bernama “Longyi”.  Saat membeli Longyi, beberapa anak Myanmar mendekati kami, penasaran dengan kami. Padahal dari segi wajah, wajah kami mirip dengan mereka, bedanya kami tidak memakai thanaka alias bedak dingin.

Berada di Pasar tradisional Taung Toe menarik karena melihat aktivitas masyarakat lokal sehari-hari. Sehingga naik ke puncak CANDI juga menarik. Di atas bukit, banyak sekali Candi. Inilah candi warna-warni yang pernah aku kunjungi. Yang lucu saat kami berada di bagian Candi berwarna kuning, disini kami berbaur dengan turis asal Italy. Mereka kaget ketika Ade mengatakan kalau cameranya bisa mengambil photo 60 gambar dalam 1 menit. Bahkan saat kami berpose sesuka hati dengan Candi sempat membuat kami jadi bahan tontonan. Mungkin dia heran dengan tingkah narsis kami yang tingkat akut.

Saat di Candi juga kami masuk kedalam, seperti biasa sandal dan kaos kaki harus dilepas saat memasauki kawasan Candi di Myanmar. Di dalam Candi terdapat patung Buddha dan di dalam candi kecil di luar juga terdapat Candi lengkap dengant informasi dalam tulisan Myanmar yang tidak bisa kami baca. Memang informasinya minim namun terobati dengan pemandangan dibelakangnya.

Sayangnya perjalanan Candi di Taung Toe singkat namun seru, seru saat pengambilan photo. Bahkan pose ala-ala kami banyak sekali mulai dari photo ala Yoga, ala galau sampai ala Myanmar.

You just have 1 hour in this market, 
begitu kata guide kami dengan menunjukkan angka 1 di tangannya

Namun jangan tanya berapa lama kami di Pasar Taung Toe karena saat pulang kami harus buru-buru kembali ke kapal kami karena kami masih harus mencari wanita berleher panjang di Inle.

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery. 

Salam

Winny

Semua demi Ubur-ubur di Danau Mariona Kepulauan Togean


“The only person you are destined to become is the person you decide to be.”

By Ralph Waldo Emerson

Danau Mariona (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Hello World!

Togean, 2017

Wira, pokoknya dirimu aku booking buat mengambil photoku dengan Ubur-Ubur,
begitu kataku kepada Wira dengan tegas.

Bobby, dirimu juga ya ambil photo cantikku dengan Ubur-ubur pakai cameramu,
kataku kepada Bobby

Itulah betapa saking semangat ’45 nya aku tak sabar untuk berphoto dengan Ubur-Ubur di Togean. Karena dengan pasti aku melihat ada agenda mengunjungi Danau dengan Ubur-ubur saat traveling ke Togean.

Hah??? ada ubur-ubur di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah?

Jawabannya ada dan aku juga baru tahu kalau Togean tepatnya di Danau Mariona memiliki ubur-ubur yang tak menyengat. Padahal kalau ingat ubur-ubur yang tertanam di benakku adalah Danau Kakaban di Kalimantan Timur yang belum aku singgah. Eh siapa sangka aku memiliki kesempatan untuk dapat melihat langsung Ubur-Ubur di Togean.

Danau Mariona

Sebagai orang Indonesia kita harus bangga dengan keindahan wisata alam Indonesia. Bahkan setidaknya sudah ada 3 Danau untuk habitat ubur-ubur di Indonesia yaitu Danau Kakaban di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Danau Mariona di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah dan Danau Lenmakana di Misool, Raja Ampat. Itu baru yang diketahui loh, belum lagi daftar Danau Ubur-ubur di Indonesia yang belum diketahui.

Sayangnya seribu sayang baru 1 Danau yang aku kunjungi yaitu Mariona.  Semoga ada kesempatan mengunjungi sisa Danau Ubur-ubur lainnya.

Danau Mariona Togean, Danau Ubur-ubur tak menyengat

"Danau Mariona berasal dari nama seorang wanita dari Francis, Mariona Bazin", 

setidaknya itulah yang disampaikan Pak Saiful, guide kami selama berada di Togean.

Mariona ini mengatakan kalau Danau Ubur-ubur hanya ada di Kakaban kepada Pak Fajar, saudaranya Pak Saiful. Kemudian Pak Fajar pun menepisnya dengan membawa Mariona ke Danau yang penuh ubur-ubur tak menyengat. Sehingga Mariona lah menjadi turis pertama yang datang ke Danau Mariona sehingga namanya menjadi nama sebuah Danau. Padahal aku ngarep namaku dipakai di sebuh Danau juga hihi 😀

Togean

Kedatangan kami ke Danau Mariona setelah puas dari Pantai Karina yang memiliki pasir putih. Jarak Pantai Karina tidaklah jauh ke Danau Mariona. Sesampai di Danau Mariona, kapal kami pun mendekat ke dermaga kayu, pemandangan cantik telah menyambut kami berupa air jernih dengan terumbu karangnya.

Yah Kepulauan Togean memang rupawan dengan karang-karangnya.

Setelah kapal kami disandarkan, kami turun dari kapal dan berjalan menuju ke sebuah Danau yang terletak di sebelahnya melewati jembatan kayu.  Di tepi Danau dibangun tempat istirahat yang alasnya kayu beratap merah untuk wisatawan, disinilah kami bersantai dan makan siang.

Danau Mariona sendiri warnanya hijau disekilingnya pepohonan, tempat ubur-ubur berada. Warna ubur-uburnya pun bervariasi mulai dari bening (transparan) sampai warna kuning. Kalau dilihat dari atas, maka Ubur-ubur kelihatan jelas di permukaan air. Yang paling mudah dilihat adalah ubur-ubur tranparan, hal ini aku bisa lihat langsung dari atas tanpa berenang.

Kata Pak Saiful kalau musim hujan, ubur-ubur akan berada tepat di permukaan air namun karena pas kami datang cuaca panas sehingga ubur-ubur lebih suka kedalam. Memang ubur-ubur sensitive dengan panas.

Danau Ubur-ubur, Togean (Sumber Ridho)

Nah pas sesampai di Danau Mariona, tempat ubur-ubur maka akupun lagi apes. Apes tidak jadi nyemplung karena masalah wanita. Padahal dari hari pertama di Togean aku sudah sok-sokan membooking Wira dan Bobby untuk mengambil photoku.

Alhasil sirna sudah keinginan untuk berphoto dengan ubur-ubur!

Bukannya apa-apa, salah satu wish list dalam bucket list ku adalah berphoto dengan ubur-ubur. Ecek-eceknya ala-ala instagram gitu.  (ecek-ecek = pura-pura)

Tapi apa daya keinginan itu pupus!

Ubur-ubur (Sumber: Wira Nurmansyah)
Ubur-ubur di Danau Mariona (Sumber: Ridho)

Bahkan melihat Dan, Ridho, Bobbi dan Wira berenang di Danau Mariona, Togean membuatku cemburu setengah mampus. Untung Vely juga kebetulan tidak ikut berenang sehingga aku ada temannya. Berdualah kami mengamati jellyfish dari atas, alias si ubur-ubur.

Walau jujur yah melihat saja itu melelahkan 😛

Nah pas kami lagi asik-asik bersantai di Danau Mariona, Togean maka berdatangan lah sekumpulan turis dari luar negeri. Memang kebanyakan turis yang datang ke Togean adalah rata-rata turis Eropa. Para wisatawan ini dengan santai sudah siap sedia dan langsung ke Danau Mariona.

Danau Mariona (Sumber: Ridho)

Selama mengamati Danau Mariona diTogean, memang wisatawan perduli karena rata-rata tidak memakai kaki katak, palingan hanya kacamata dan alat bantu bernafas snorkeling.

Gak kebayang kalau aku yang tidak bisa berenang di Danau Mariona, Togean!

Oh ya saat berenang di Danau Mariona, Togean  usahakan jangan memakai alat snorkeling seperti kaki katak karena ubur-ubur sangat rentan.

Togean

Setelah puas berenang maka kamipun beramai-ramai makan siang sambil menatap keindahan Danau Mariona, Togean. Di sela-sela makan siang, tiba-tiba keluarlah ide dari si Wira.

Win, dirimu kan gak bisa tuh photo dengan ubur-ubur, 
kepalamu dicelupkan saja sambil berphoto dengan ubur-ubur, katanya

Eh ide gila dia yang awalanya hanya iseng-iseng aku iyakan. Sehingga terjadilah adegan mencelupkan kepalaku ke Danau sambil kakiku dipegang. Jadi ide itu disambut, terus Pak Guide kami dengan senang hati memegang kakiku kemudian aku celupkan kepalaku terus Ridho dan Bobby sudah siap sedia untuk mengambil photoku. Sementara ubur-ubur sudah berada di dekatku.

Entah beberapa kali aku mencelupkan kepalaku ke Danau, bahkan jadi bahan tontonan para wisatawan. Mungkin dalam hati mereka “gila ini cewek, demi photo”. Alhasil aku menjadi tontonan gratisan!

Awalnya aku mengira photo dengan ubur-ubur mudah ternyata susah, susah karena aku tidak bisa menahan nafas. Selain itu aku tidak boleh dekat sekali dengan ubur-ubur karena memang ubur-ubur tidak boleh dipegang.

Belum 5 menit menahan nafas, maka aku harus kembali. Yang kasihan yang megang kakiku. Disini benar-benar penuh usaha, karena resikonya aku bisa jatuh ke Danau!

Melihat usahaku demi photo dengan ubur-ubur spontan teman-temanku ketawa terpingkal-pingkal. Apalagi hasil photonya asli membuatku senyum kecut ala Monalisa.

Hasil photonya jreng jreng “Siluman ubur-ubur”

Semua demi ubur-ubur!

Aku jadi manusia ubur-ubur tak apalah!

Niat banget gak sih?

(PS tolong adegan mencelupkan demi ubur-ubur jangan ditiru)

Togean (Sumber: Wira Nurmansyah)

Walau gagal total berphoto cantik ala-ala renang bareng dengan ubur-ubur, dan menjadi manusia ubur-ubur di Togean tidak mematahkan semangatku untuk kembali ke Danau Mariona, Togean karena keindahannya. Dapat alamnya juga asik untuk melarikan diri dari penatnya hiruk pikuk Ibukota.

Satu lagi pelajaran yang aku petik dari Danau Ubur-ubur ialah untuk belajar berenang, yah siapa tahu nanti bisa berphoto lagi dengan Ubur-ubur. Supaya siluman ubur-ubur berubah jadi putri cantik jelita 😉

Alamat Danau Mariona

Kepulauan Togean

Tojo Una-Una 

Sulawesi Tengah

Salam

Winny

Belajar Mengolah Sampah Plastik di Desa Katupat, Togean


“If you want to succeed in your life, remember this phrase: That past does not equal the future. Because you failed yesterday; or all day today; or a moment ago; or for the last six months; the last sixteen years; or the last fifty years of life, doesn’t mean anything… All that matters is: What are you going to do, right now?”

By Anthony Robbins

Hello World

Togean, 2017

Mataku tertuju kepada sebuah dompet ukuran sedang dengan tulisan “Togean” di depan ruang makan Fadhila Cottage. Ruang makan itu terbuat dari kayu dengan tatanan meja sederhana nan luas, didepannya hamparan laut dan pasir putih. Aku mendekat ke dompet tersebut dan ada yang janggal dari dompet itu, bukan karena warna genjreng merahnya namun kepada bahannya, bahannya bukan dari kain. Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, seorang Bapak menghampiriku

Ini dompet dari hasil daur ulang sampah plastik, 
begitu kata si Bapak

Lalu aku mengamati poster disudut lain dari ruang tamu, ternyata sebuah organisasi nirlaba dari Perancis bernama Everto membantu masyarakat Togean untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan yang berguna.

Kalau berniat, nanti saya bawakan ke Katupat untuk melihat langsung pengolahannya,
kata si Bapak memberi tawaran

Tentu saja aku sangat antusias dengan saran si Bapak karena aku sangat kagum dengan orang-orang yang bisa mengolah sampah menjadi bahan yang berguna apalagi bisa sampai dijual.

Bahkan aku IRI dengan orang-orang yang berperan dalam menjaga lingkungan meski itu dari hal kecil!

Togean (Sumber: Wira Nurmansyah)

Bak gayung bersambut, ternyata kesempatan melihat pengolahan sampah dapat terwujud disaat kunjungan terakhir kami di Kepulauan Togean. Setelah puas diving di Reff 1 Kepualau Togean, tak jauh dari California kami kembali ke Pulau Katupat.

Perahu kami pun bersandar di dermaga sederhana di Pulau Katupat. Turun dari perahu, seperti biasa karang terlihat jelas dari jembatan memanjakan mata kami. Menelusuri jembatan dari kayu, kami pun berjalan ke sebuah rumah. Meski udara panas namun kami tetap semangat untuk melihat aksi warga Togean menjaga lingkungan.

Pak Saiful tourguide kami langsung memanggil ibu-ibu lokal untuk memperlihatkan kepada kami bagaimana caranya mengolah limbah plastik menjadi barang yang berguna.

Dengan cekatan ibu-ibu tersebut memasukkan tali plastik ke dalam jarum lalu dijahit dengan teliti sesuai dengan produk yang diinginkan. Lamanya pekerjaanya pun tergantung besar kecilnya produk. Kalau tas ukuran kecil pengerjaannya bisa 1 minggu, untuk gantungan kunci bisa sehari. Harga untuk produknya pun bervariasi mulai dari harga Rp25,000 hingga ratusan ribu tergantung tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan.

Tahun lalu kami menjadi juara 3 lomba pengolahan limbah Piala Presiden,
 begitu kata Pak Saiful
Kita memiliki komunitas dan memungut sampah
lalu di daur ulang menjadi produk berguna, lanjutnya

Aku yang senang melihat hasil karya ibu-ibu penduduk asli Pulau Katupat, Togean pun ikut membeli dompet kecil dengan harga Rp25.000 dan gantungan kunci berbentuk cabai Rp25.000. Temanku Vely memborong topi pantai dengan harga Rp50.000 sementara si Dan, Hello Mister langsung membeli dompet terbuat dari plastik kopi memborong 4 buah dompet Rp200.000.

Hasil Olahan Sampah di Pulau Katupat

Aku sungguh sangat beruntung karena dapat melihat langsung demo proses pembuatan daur ulang sampah. Dibawah organisasi Everto, masyarakat Togean diberdayakan untuk menjaga lingkungan, sehingga sampah dari plastik akan di ubah menjadi produk yang berguna seperti topi, dompet, mainan kunci hingga tas.

Bahkan bahannya dari sampah plastik!!

Masyarakat Kepualaun Togean mengambil sampah plastik yang ada kemudian dibersihkan lalu diayam menjadi produk berguna. Hasil dari produknya dipajang di berbagai Cottage sekitar Togean misalnya di Fadhila Cottege karena Pulau Katupat persisi di depan Fadhila Cottege.

Selain mendapat keahlian baru dalam mengolah sampah, masyarakat Kepulauan Togean dapat menambah penghasilan dari karya tersebut. Lumayan untuk mendapat penghasilan tambahan apalagi produk tersebut dijual untuk wisatawan, walau kebanyakan pengunjung Togean adalah wisatawan mancanegara seperti Perancis.

Mengolah Sampah Plastik (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Tahukah kamu berapa lama penguraian dari berbagai sampah jika dibuang sembarangan di laut?

-Tissu toilet terurai 2-4 minggu

-Koran dan majalah terurai 6 minggu

-Sisa apel, dos karton, karton jus terurai 1-5 bulan

-Tali kaoas, foto-foto, bungkusan korek api terurai 3-14 bulan

-Tripleks, punting rokok, pakaian  terurai 1-3 tahun

-Kayu yang dicat terurai 13 tahun

-Kaleng kemasan gabus terurai 50 tahun

-Pelampung gabus terurai 80 tahun

-Alumanium, baterai terurai 200 tahun

-Popok, tas kresek, botol plastic terurai 400-450 tahun

-Jarring ikan, pukat, tali pancing nion terurai 600 tahun

-Botol kaca terurai tak dapat ditentukan

Melihat fakta betapa susah dan lamanya sampah terurai terus apa kita masih berani buang sampah sembarangan?

Hasil pengolahan sampah plastik (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Masyarakat terpencil di Kepaualaun Togean, Sulawesi Tengah saja bisa memanfaatkan sampah plastik dan turut berpartisipasi dalam mengolah sampah menjadi produk yang berguna, masa kita yang membuang sampah pada tempatnya saja tidak bisa.

Kan malu!!

Masa kalah sama ibu-ibu. 😉

Meski kunjungan ke Togean tanpa memiliki signal Hp namun berkunjung ke Togean merupakan pengalaman berharga bagiku. Di Togean, aku mendapat pembelajaran untuk lebih sadar akan lingkungan, dan lebih menjaga kelestriannya, karena kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi?

Alamat Pulau Katupat

Balaesang Tj, Donggala

Kepulauan Togean

Sulawesi Tengah

Siapa yang sudah pernah mendaur ulang sampah?

Salam

Winny

9 Hal yang bisa dilakukan di Pekalongan dan Kabupaten Batang


“Impossible is not a fact… it’s an opinion. What’s impossible only remains so until someone finds a way to do what others are sure can’t be done.”

By Anthony Robbins

Hello World

Pekalongan, Mei 2017

Pekalongan dan Batang merupakan nama daerah di Jawa Tengah yang patut dikunjungi karena kedua tempat ini memiliki tempat menarik loh, mulai dari museum hingga alam. Bahkan aku tidak pernah menyangka kalau berkunjung ke Pekalongan dan Batang bisa menjelajah tempat baru serta yang paling penting “antimainstream“. Apalagi jarak Jakarta ke Pekalongan tak begitu jauh dan mudah untuk diakses, sehingga pas liburan tiba maka Pekalongan dan Batang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi.

Bagi yang ingin berkunjung kedua tempat di Jawa Tengah ini maka paling tidak ada 9 Hal yang bisa dilakukan di Pekalongan dan Kabupaten Batang (berdasarkan pengalaman jalan-jalan ke Pekalongan dan Batang)

1. Belajar Membatik di Komunitas Pembatik Rifaiyah, Kabupaten Batang

Belajar Membatik (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Untuk pertama kalinya dalam hidupku mencoba membatik dan itupun aku lakukan di Kabupaten Batang. Dengan membatik aku jadi belajar tentang “proses” dan mengambil hikmah bahwa kesabaran dan ketelitian dalam membatik sangat penting. Dengan belajar membatik maka sebenarnya kita ikut berpartisipasi dalam menjaga warisan leluluhur kita, apalagi dengan belajar membatik bisa menambah talenta kita sendiri.

Jadi sambil liburan sambil menambah ilmu!

Kan lumayan kalau misalnya kita pamer ke orang luar sambil berkata ” i can show you how to make Batik“.

Kalau ada yang nanya “what is Batik“, maka jangankan menjelaskan defenisi Batik, ngebatik aja bisa!

Kan jadi bangga tuh!

Iya ngak?

Jadi sesekali belajar membatik itu perlu untuk membuktikan rasa cinta terhadap Indonesia dari hal kecil dengan bangga akan peninggalan Indonesia berupa Batik! Kan ada kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, maka kenalilah Batik Indonesia 🙂

Baca juga pengalaman membatikku

2. Mendapat Informasi tentang Batik di Museum Batik Pekalongan

Museum Batik, Pekalongan

Kalau di Kabupaten Batang bisa belajar membatik dengan motif Batik Rifaiyah Batang, maka di Pekalongan bisa belajar membatik khas Pekalongan sekaligus menambah wawasan tentang Batik. Dengan mengunjungi Museum Batik Pekalongan maka dijamin menambah wawasan tentang Batik mulai dari proses pembuatan Batik, alat dan bahan sampai koleksi berbagai Batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku sendiri mendapat pengalaman berharga dengan mnegunjungi Museum Batik Pekalongan  karena lebih tahu tentang Batik itu sendiri serta koleksi batiknya itu lucu-lucu dan warnanya juga menarik.

Mengunjungi Batik Museum Pekalongan ibarat kata jalan-jalan sambil belajar.

Kapan lagi mengisi waktu liburan yang bermanfaat?

Jadi gak ada salahnya ke Museum!

Lokasi Museum Batik Pekalongan

Jl. Jatayu No. 1, Kota Pekalongan
Jawa Tengah

Harga Tiket Museum Batik Pekalongan

Dewasa Rp5.000, Anak-anak Rp2.000,  Mancanegara Rp10.000

Jadwal Buka Museum Batik Pekalongan

Setiap hari jam 08:00 – 15:00 termasuk hari minggu dan besar

Tutup tahun baru, 17 Agustus, Lebaran Idul Fitri, Lebaran Idul Adha dan tahun baru islam

Baca juga perjalananku ke Museum Batik Pekalongan

3. Bermain Pantai di Pekalongan

Pekalongan

Pekalongan juga memiliki pilihan Pantai loh sehingga selain dapat Pegunungan, Curug maka bisa juga bermain di Pantai. Sayangnya waktu aku ke Pantai di Pekalongan hari sudah senja sehingga pupus harapan untuk melihat matahari terbenam. Bahkan ajakan dari seorang Bapak untuk melihat Lumba-lumba pun sirna karena keterbatasan waktu. Tapi semoga di lain kesempatan dapat menjelajah Pantai-pantai yang ada di Pekalongan.

Oh ya salah satu nama Pantai di Pekalongan adalah Pantai Pasir Kencana.

4. Kuliner di Pekalongan

Kuliner Pekalongan

Pekalongan dan Batang memiliki makanan khas tersendiri, sehingga kalau tidak mencoba kuliner khas daerah tersebut pas sudah di tempat rasanya ada yang hambar. Untuk makanan khas Pekalongan yang paling aku suka adalah tauto Pekalongan, semacam soto namun dengan rasa tauco. Kuahnya enak sehingga lahap pas makan! Selain itu bisa juga mencoba nasi Megono, kuliner khas Pekalongan.

Sudah pernah kuliner di Pekalongan?

5. Mencoba Teh Pagilaran di Kabupaten Batang

Berbagai jenis Teh Pagilaran, Batang

Pernah melihat proses langsung pembuatan teh di pabriknya? Kalau aku sih pernah 2x, sekali di Bogor dan kedua di Pagilaran,  Kabupaten Batang. Tidak hanya melihat proses pembuatan teh, di Pagilaran bisa juga Agrowisata mulai dari melihat kebuh teH sampai mencoba teh di Pagilaran. Teman-teman bisa juga menginap di area Agrowisata Pagilaran. Bagi yang ingin memanjakan mata dengan warna hijau-hijau maka ke Pagilaran menjadi salah satu daftar untuk dikunjungi di Batang.

Di Pagilaran aku belajar banyak tentang teh dari Pakarnya sambil icip-icip teh mana yang sesuai dengan selera setelah melihat proses produksi teh. Pelajaran dari berkunjung ke Pagilaran yang aku dapatkan adalah bagaimana mengetahui tingkat pewarna dalam teh khususnya teh yang sudah dikantong kecil. Caranya dengan menyiram teh dengan air dingin, kalau tehnya mengeluarkan warna maka pewarnanya itu banyak.  Lalu jika ingin memanaskan teh jangan pada suhu 100 derajat Celcius. Ilmu ini bisa dipraktekkan dalam memilih teh 🙂

Alamat Agrowisata PT. Pagilaran

Kantor Bagian Agrowisata Pagilaran

Kec. Baldo, Kabupaten Batang

Jawa Tengah

6. Mencoba Minuman Lawas Masa Kecil, Limun Oriental

Minuman Limun (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Untuk yang belum tahu limun, minuman yang sempat hits di era 70-90’an maka tidak ada salahnya mengunjungi Pekalongan tepatnya di Pabrik limun Oriental Pekalongan, tak jauh dari Museum Batik Pekalongan.

Selain dapat ilmu proses membuat limun, maka bisa icip langsung limun di tempat dengan harga Rp3000 saja tanpa botol. Variasi minumannya juga banyak jadi bisa bereksperimen rasa apa yang dirimu suka.

Aku sendiri paling suka rasa Mocca, dan tenang,…..gulanya pakai gula alami kok sehingga tidak membuat haus.

Jam Buka Pabrik Limun Pekalongam

Sabtu-Kamis: Jam 09.00-16:00

Jumat tutup

Alamat Pabrik Limun Pekalongan

Jl. Rajawali Timur No. 10

Panjang Wetan

Pekalongan Jawa Tengah

Baca juga terkenang dengan minum djadoel

7. Menyatu dengan Alam di Petungkriyono

Curug Bajing

Bagi yang suka alam dan ingin memanjakan diri dengan Air terjun/Curug hingga Sungai maka kawasan Petungkriyono menjadi pilihan. Paling tidak dalam satu kawasan Petungkriyono banyak pilihan wisatanya antara lain Curug Bajing, Curug Muncar, Curug Lawe, Curug Sibedug, Curug Telu dan Kedung Pitu, Curug Jepang, kebun strawberry sampai river tubing di Sungai Welo. Tidak hanya itu jika beruntung bisa melihat langsung binatang langka, Oa Jawa di Petungkriyono.

Aku sendiri sangat suka mengunjungi Petongkriyono karena bak berada di Amazone, hutan belantara dengan pemandangan indahnya. Sepanjang perjalanan ke Petungkriyono membuatku adem bahkan sepanjang perjalanan dari Pekalongan mudah mendapatkan spot photo cakep mulai dari air terjun, sungai sampai persawahan.

Lokasi Curug Bajing

Dusun Kambangan Desa Tlogopakis,

Kecamatan Petungkriyono

Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah

Harga tiket masuk ke Curug Bajing

Hari biasa dan hari libur Rp4000

Hari Libur Nasional Rp6000

Baca juga perjalanan ke Curug Bajing

8. Spot Photo Selfie Terbaik dengan Hutan Pinus

Hutan Pinus Petungkriyono

Bagi yang suka photo khususnya kamu si “Instagram mania” maka kudu banget dijadwalin ke Pekalongan dan Batang karena salah satu tempat photogenic itu berada di Kembang langit. Di kembang langit ada hutan pinus serta sudah dibuat khusus tempat untuk photo-photo. Bahkan hutan pinus ada payung lucu-lucu. Sayangnya karena hujan kami tidak sempat photo dengan payung ala Hutan pinus.

Selain di kembang langit, di daerah Petungkriyono juga terdapat hutan pinus.

Siap-siap serasa Bella-Edward jika berada di hutan pinus.

Gak nyangka yah ada hutan pinus di Batang!

9. Belanja Batik Murah di Pasar Setono Pekalongan

Pasar Batik Setono Pekalongan

Pernah kalap belanja gak?

Aku kalap belanja di Pasar Batik Setono, Pekalongan. Bukan apa-apa pas berkunjung ke Setono, lihat batik berwarna-warna dengan harga yang bisa ditawar pula membuatku beli Batik banyak sekali.

Disini keluar aura kewanitaanku 100% karena “suka shopping” hihi 😀

Di Setono memiliki banyak jenis Batik, dan harganya murah-murah lagi, bahkan ada Batik yang harganya Rp20,000 saja, asalkan pintar menawar!

Murah kan? Gimana gak kalap coba?

Saking kalapnya akulah orang terakhir ditunggu pas pulang saking asiknya belanja dari satu toko ke toko lainnya di Setono, Pekalongan. Walau habis uang namun aku bahagia, bahagia memborong Batik 🙂

Alamat Pasar Batik Setono Pekalongan

Karangmalang

Pekalongan

Jawa Tengah

Ternyata Pekalongan dan Kabupaten memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi bukan?

Nah yang berminat ingin ke Pekalongan caranya mudah kok bisa melalui via bus, kereta maupun pesawat. Waktu keberangkatan kami melalui pesawat dan pulangnya melalui kereta.

Bagi yang ingin ke Pekalongan dengan pesawat bisa melalui Semarang dan tak usah khawatir karena cari tiket pesawat murah sekarang ini mudah kok.

Jangan lupa mengunjungi Pekalongan ya dan beli tiketmu sekarang dan berjalan-jalanlah 😉

Salam

Winny

Pengalaman Belajar Membatik di Batang


New friends may be poems but old friends are alphabets. Don’t forget the alphabets because you will need them to read the poems.

By William Shakespeare

Batik Batang

Hello World!

Batang, 2017

Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk mencoba yang namanya membatik hingga ada kesempatan belajar membatik di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tentu saja pelajaran membatik ini menjadi pengalaman pertamaku, dulu pernah melihat workshop membatik di Museum Mandiri Kota Tua tanpa mencoba ngebatik. Waktu itu lebih mengenal aneka Batik dari berbagai daerah. Siapa sangka aku mendapatkan kesempatan untuk membatik di Batang bersama teman-teman Blogger dan rombongan Dinas Pariwisata. Kami mengunjungi Komunitas Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang yang tak jauh dari Pekalongan untuk belajar membatik secara langsung. Tentu saja tingkat keseruan membatik dengan tangan sendiri dapat memacu Hormon Dopamin.

Beruntung karena aku jadi lebih tahu bagaimana proses membatik!

Membatik di Kabupaten Batang

Tentang Batik Rifaiyah

Batik Rifaiyah merupakan Batik Pesisir memiliki kekhasan terutama dalam hal motif, dimana Batik Rifaiyah memiliki motif tumbuhan dan jarang menggunakan motif hewan maupun manusia. Sama halnya dengan kekhasan Batik di Indonesia, Batik Rifaiyah mengandung filospoi tersendiri serta pembatik Batang memegang teguh ajaran Islam karena memang mayoritas pembatik Batang adalah Muslim. Bahkan nama Batik Kabupaten Batang diambil dari nama Guru Besar Pondok Pesantren Batang, KH. Ahmad “Rifa’i”. Batik Rifaiyah yang merupakan gabungan Batik Klasik Solo dan Jogja memiliki 24 motif dasar yaitu , ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin,   pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrioromo gendong, jeruk no’i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Salah satu Batik Batang yang terkenal adalah Batik “Tiga Negeri yanga harganya paling murah sekitar 800ribua sampai 20 juta.

Sungguh harga yang cukup fantastis, namun melihat langsung lamanya membatik yang bisa mencapai 1 tahun dengan tingkat kerumitan seperti wajar saja. Belum lagi dalam pengerjaannya tergantung dari kegiatan si Pembatik. Kalau kata Bu Uting Batik Batang itu adalah “Batik Sambilan”, “sambil momong anak”, sambil masak”.

Membatik

Belajar Membatik di Kabupaten Batang

Kegiatan belajar membatik kami diajari oleh Ibu Uting. Ibu Uting ini adalah salah satu pembatik dari Komunitas Batik Rifaiyah, Kabupaten Batang. Beliau sudah belajar membatik dari orang tuanya sejak umur 10 tahun.

Sehingga kami belajar membatik dari sang ahli!!

Beliau sudah mendapat kabar tentang kedatangan kami jauh hari untuk kegiatan belajar membatik darinya. Kami disambut baik oleh Ibu Uting meskipun kami sempat tiba agak terlambat dari janji yang disepakati. Ibu Uting telah mempersiapkan alat-alat dan bahan membatik bagi kami hal ini terlihat jelas ketika si Ibu datang saat kami menunggu beliau. Tempat membatik kami di depan teras rumah Ibu Uting.

Membatik

Di depan teras rumah Ibu Uting sudah ada bangku kecil, kain yang sudah di pola dan yang belum diberi pola dengan pensil serta sudah ada kompor dan kuali kecil untuk memanaskan lilin (malam) dan canting.

Secara sederhana cara membatik ialah pertama mengambil lilin (malam) dengan menggunakan canting halus dari bambu yang sudah dipanaskan terlbeih dahulu diatas kompor lalu setalah panas lilin dimasukkan ke canting sambil ditiup kemudian lilin tersebut diukir pelan-pelan ke kain sesuai dengan motif yang ada. Menurut pendapat Bu Uting craa memanaskan lilin itu yang paling bagus adalah dengan bahan bakar minyak tanah. Sehingga terjawab sudah kenapa harga batik bisa mahal. Karena memanaskan lilin nya dengan minyak tanah. Nah lalu apa itu lilin (malam)? Itu adalah bahan untuk pembuatan batik.

Yudha sedang konsen membatik

Kesan pertamaku dalam membatik adalah “susah” karena aku bukan anak yang terlahir dengan bakat menggambar. Jadi pas membatik aku diberikan kain putih polos sehingga aku leluasa menggambar apa saja di kain tersebut namun yah mau gimana otakku dominan kiri sih. Sehingga gambar yang aku buat di kain katun putih itu ngasal. Padahal Ibu Unting sudah menyiapkan motif di kain putih tinggal mengikuti pola tersebut. Namun jangan salah, yang sudah ada motifnya saja tinggal mengikuti pola susahnya minta ampun apalagi yang tidak ada pola sama sekali, alhasil gambarku itu “berliku-liku” seperti percintaanku hihihhi 😀

Leoni dengan cermat membatik

Yang tak habis pikir adalah bagaimana Ibu Uting dengan piawai membatik, sungguh membuat iri.

Beliau tidak perlu mmebuat pola di kain itu dengan pensil, tangannya langsung piawai dalm menggambar dan hasilnya bagus. Memang bagi pembatik Batang motif itu sudah ada dipikiran mereka sementara karena kami masih proses belajar sehingga motifnya dicetak pensil dulu baru kami tinggal taruh lilin (malam). Namun jangan anggap remeh, karena beberapa kali meniup canting (alat untuk lilin) kadang malah kena ke tangan dan lumayan panas. Sebab lilin harus dipanaskan, terus kadang cantingnya meluber kemana-mana alhasil motif gambarku “ababil” alias “entah apa-apa” haha 😀

Aku, Wira dan Bu Yanti membatik (sok serius)
Bu kalau ada kontes calon menantu harus bisa membatik, 
saya gagal, begitu kataku ketika asik membatik.

Terus si Ibu berkata aku pasti bisa kalau tinggal di Batang minimal 6 bulan dan setiap hari membatik!

Jujur saja, tidak pernah terpikir olehku betapa membuat sebuah Batik itu membutuhkan kesabaran, keuletan, ketelitian yang cukup tinggi. Yah perjumpaan dengan Bu Uting mengingatkanku kembali akan pelajaran berharga dalam hidup terutama saat belajar membatik untuk “bersabar”.

Karena kesabaran adalah kunci utama dalam hidup 🙂

Ekspresi senang dalam membatik (Sumber photo: Wira Nurmansyah)

Ada yang lucu saat pengalaman membatik kami. Jadi karena hasil Bati Yudha yang kurang memuaskan, sehingga dia menyuruh Bu Uting memahat namanya di salah satu karya Bu Uting.  Temanku Yudha, sampai niat banget pencitraan dengan memakai hasil batik Bu Uting tapi seolah-olah miliknya karena punyanya gagal total. Kelakuannya ini sungguh membuat senyum kami merekah.

Dari belajar membatik dengan Bu Uting membuka mataku bahwa sebenarnya Indonesia mewariskan budaya yang sangat luhur yaitu “Batik” karena dengan membatik belajar yang namanya ketekunan dan kesabaran.

Hal yang sudah jarang dalam hidup!

Kami yang ngikutin pola saja kewalahan bahkan lilinnya sering jatuh eh si Ibu Uting malah santai dan hasilnya keren. Tak habis pikir bagiku keuletan dari para pembatik Bayang. Bayangkan saja para pembatik Batang ini membatik itu tergantung kesibukan masing-masing dan belajarnya pun otodidak namun hasilnya bagus sekali.

Menariknya bagi pembatik Rifaiyah, membatik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan sandang pangan saja tapi juga sudah berkembang menjadi mata pencaharian. Permintaan konsumennya bahkan sampai ke Luar Negeri, wajar “homemade” itu memang special.

Dan terakhir, please jangan diketawin hasil karya membatikku dengan penuh cinta!

Hasil Karya Batik Winny

Pelajaran yang saya petik dengan belajar membatik di Komunitas Batik Batang Rifaiyah selain proses membati, saya belajar tentang menahan emosi dan teliti.

Nah kalau ingin belajar manajemen emosi maka silahkan membatik dan datangi Kabupaten Batang di Jawa Tengah dan ukur sendiri tingkat kesabaranmu!

Ada yang sudah pernah belajar membatik?

Salam

Winny

Mengenang Masa kecil di Pabrik Limun Oriental


Love is an irresistible desire to be irresistibly desired.

Robert Frost

Hello World

Pekalongan, Mei 2017

Siang begitu terik di Kota Pekalongan kala kami meninggalkan Museum Batik. Dari Museum Batik kami beranjak menuju Pabrik minuman bersoda, tak jauh sekitar 50 km kearah Lapas Pekalongan. Sesampai di Lapas Pekalongan, di depannya terdapat sebuah rumah dengan gaya Vintage ala Tionghoa-Belanda. Di depan pagarnya terdapat Logo Nyonya berwarna biru sedang menggenggam minuman dengan latar belakang kuning dengan tulisan “Oriental”.

Tak lama-lama buatku untuk memasuki rumah tersebut. Di depan pintu rumah lagi-lagi ada tulisan “Oriental Cap Nyonya”.

Yah kami memasuki sebuah rumah yang sekaligus pabrik pembuatan limun

Iya Limun!!

Hayooo siapa yang tahu Limun?

Limun merupakan minuman dengan soda ringan. Bedanya dengan minuman soda zaman sekarang yang sering kita minum adalah di gulanya. Untuk Limun Oriental menggunakan gula asli sehingga manisnya pas dan tidak membuat haus.

Nah pas di Pekalongan ternyata ada sebuah pabrik yang masih menjual Limun. Alhasil pas masuk dan lihat segelas minuman celoteh pertamaku adalah “WOW LIMUN”.

Kalau yang tahu Limun dipastikan kamu adalah anak generasi 80’ 90’ karena memang ingat Limun, ingat masa kecil dimana masih polos-polosnya. Bahkan dulu waktu kecil suka banget beli Limun, bisa tuh minum 3x sehari. Ujung-ujungnya uang jajan habis buat minum doang. Alasannya klise, belinya karena warnanya warna warni dan rasanya juga enak.

Buatku mencoba limun di usia sekarang ibarat kata mengenang MASA Indah pas masih BOCAH hihi 😀

Kapan lagi mendapat kesempatan untuk icip minuman kesukaan masa kecil. Aku sendiri tidak menyangka kalau Pekalongan masih memiliki pabrik limun.

Aku malah tahunya Pabrik Limun Cap Badak, nah loh ketahuan kan Bataknya hihi 🙂

Lain Sumatera, lain Jawa, kalau di Siantar ada Cap Badak maka di Pekalongan ada Cap Oriental.

Jadi mengunjungi pabrik LIMUN di Pekalongan menjadi pengalaman tersendiri!

Nyicip Limun (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Pabrik limun Pekalongan sudah ada sejak 1910 dengan merk dagang Oriental Cap Nyonya.  Tidak hanya memproduksi limun, pabrik Oriental pernah juga memproduksi rokok Cap Della hingga tahun 70-an serta kopi dan teh cap Kapal.  Sayangnya untuk area pemasaran masih terbatas.

Yang menarik dari mengunjugi Pabrik Limun di Pekalongan adalah kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan limun serta melihat sejarah tentang limun Oriental di Pekalongan. Tidak hanya itu, aku sempat melihat logo Oriental dari waktu ke waktu di dinding rumah yang sekaligus Pabrik limun di Pekalongan. Logo ini menjadi bukti perubahan yang ada di Limun Oriental. Walau permintaan Limun tidak seperti era 80′ 90′ an namun aku terpana saja masih ada limun sejak sekarang. Bukannya apa-apa, tahu sendiri sekarang ini susahnya mencari Limun apalagi di supermarket ternama jarang yang menjual produk Indonesia padahal rasanya tidak kalah dengan produk luar, khususnya berbicara tentang limun ya!

Logo Oriental dari waktu ke waktu

Menariknya Limun Oriental ini sudah ada jauh sebelum Indonesia Merdeka artinya minuman ini sudah lebih dari seabad. Keunikan dari pembuatan Limun Pekalongan dari prosesnya yang masih mempertahankan cara dan resep dari leluhur Njoo Giok Lien dari tahun 1923.

Di dalam pabrik kami juga melihat langsung proses pembuatan limun mulai dari pembersihan gelas hingga gelas ditutup dengan tutup botol. Prosesnya memang sederhana namun seru mengamati langsung proses pembuatan Limun.

Jalan-jalan sambil dapat ilmu proses produksi limun!

Satu lagi yang menarik dari Pabrik ini adalah tingkat loyalitas dari karyawan, waktu itu aku sempat berbicara dengan seorang kakek yang sudah bekerja di Pabrik ini lebih dari 30 tahun! Hebat kan?

Salutnya!!

Selesai melihat proses pembuatan Limun maka kami pun  kembali  ke sebuah ruangan untuk mencoba minum Limun.

Limun Oriental

Di ruang yang memiliki perabot vintage mulai dari kursi, telepon tua, mesin tik hingga timbangan tua itulah kami icip-icip berbagai variasi dari Limun Oriental. Jangan tanya rasa apa yang kami coba, hampir semua rasa kami icip, namanya juga penjelajah rasa 🙂

Yah minuman yang dibuat dari racikan asam citrun dan kabondioksida ini memang memiliki rasa variatif mulai dari rasa nanas, moka, jeruk, sirsak, framboze, leci, anggur, dan air soda.

Namun kami hanya mencoba 5 rasa limun dan rasa yang paling aku suka adalah Rasa Mocca. Rsa mocca dengan warna cokelat gelap!

Walau tanpa es namun rasanya enak!

Manisnya pun pas!

Untuk harganya juga masih ramah di kantong. Harga satu botol minuman beserta botolnya Rp7000 saja namun jika ingin minum di tempat cukup membayar Rp3000 saja. Tidak hanya limun, di kedai sekaligus rumah dan pabrik Limun juga menjual kacang. Tapi itu serunya minum limun, bahkan saking senangnya dengan Limun rasa Mocca, Mbak Kristin membelikanku satu botol Oriental untuk dibawa pulang.

Iya dibawa pulang, niat benar kan aku bawa botol minuman dari Pekalongan sampai ke Ciwandan. Habis untuk mendapatkan minuman Oriental ini susah, jarang ditemukan, alhasil pas nemu bawa satu ke rumah.

Terus bahagia sekali, kapan lagi mengenang masa kecil?

Bisa dikatakan mengunjungi Pabrik Limun Oriental seperti mendapatkan durian runtuh, dapat jalan-jalannya dapat juga informasinya.

Nah buat teman-teman yang lagi butuh piknik dan ingin mengenang masa kecil maka tidak ada salahnya mengunjungi Pabrik Limun Oriental di Pekalongan.

Mencoba minum Limun sambil bersantai!

Karena kenangan manis itu tak lekang oleh waktu 🙂

 

Jam Buka Pabrik Limun Pekalongam

Sabtu-Kamis: Jam 09.00-16:00

Jumat tutup

Alamat Pabrik Limun Pekalongan

Jl. Rajawali Timur No. 10

Panjang Wetan

Pekalongan Jawa Tengah

Hayoo kapan terakhir kali kamu minum Limun?

Ada yang tidak tahu Limun?

Salam

Winny

 

Mencintai Batik di Museum Batik Pekalongan


Pekalongan Batik Museum has an important role in obtaining UNESCO’s certificate for Indonesia Batik as World intangible cultural heritage, as well as the collection of Pekalongan being one of the UNESCO Creative Cities network for craft and folk art. Pekalongan Batik Museum was inaugurated on july 12, 2006 by 6th President of Indonesia, Susilo Bambang Yudhono. This museum also has received Unesco certificate as an institution that conserving Batik culture through various training programs, especially for the students

By Museum Batik Pekalongan

Hello World!

Pekalongan, 2017

Tak lengkap rasanya jika ke Pekalongan tanpa mengunjungi Museum Batik karena Kota Pekalongan sangat identik dengan Batik, bahkan keberadaaan Batik Indonesia sudah terkenal diseluruh dunia. Sehingga ketika mendapat kesempatan mengunjungi Museum Batik merupakan suatu kehormatan bagiku. Kapan lagi coba bisa melihat kolksi Batik Indonesia jadi pas ke Pekalongan wajib hukumnya untuk mengunjungi Museum Batik.

Museum Batik Pekalongan cukup menarik untuk dikunjungi karena dari segi bangunan merupakan peninggalan Zaman Belanda sehingga dipastikan merupakan gedung tua yang dulunya sebagai Kantor keuangan pabrik gula. Museum Batik juga menyediakan informasi kepada pengunjung untuk menambah wawasan tentang Batik  dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya itu, akses ke Museum Batik pun cukuplah mudah karena berada persis disamping sebuah Masjid sehingga bagi yang pecinta wisata Heritage, Museum Batik harus masuk daftar kunjungan terus siap-siap napak tilas tentang warisan Indonesia, “batik”.

Aku sendiri merupakan salah satu orang yang suka dengan heritage jadi pas diajak jalan-jalan ke Museum aku sangat senang sekali apalagi melihat langsung pembuatan Batik, merupakan kesempatan langka bagiku. Yah aku merasa beruntung dapat mengunjungi Museum Batik di Pekalongan bersama teman-teman Blogger dan Dinas Pariwisata.

Museum Batik Pekalongan

Apa yang bisa dilakukan di Museum Batik Pekalongan ?

Di Museum Batik Pekalongan terdapat koleksi kain batik tradisional hingga kontemporer dari berbagai daerah Indonesia, bisa belajar membatik terus hasil batiknya bisa dibawa pulang. Selain itu Museum Batik Pekalongan bisa menjadi pusat penelitian mengenai batik.

Di Museum Batik ini aku banyak sekali belajar tentang Batik dan membuatku semakin jatuh cinta dengan Batik, kebanggaan Indonesia. Bahkan saking bangganya aku dengan Batik, setiap kali ngasih hadiah ke teman-temanku khusunya teman-teman yang berada di luar Negeri pasti aku kasih Batik.

Winny, why do you always give Batik as a gift to everyone?,
itulah pertanyaan Thimo kepadaku

Because Batik is identity of Indonesia, begitu jawabku
Hasil Batik Pengunjung di Museum Batik Pekalongan

Tentang Museum Batik Pekalongan

Museum Batik di Pekalongan sudah berdiri sejak tahun 1906 dan seiring waktu fungsinya berubah beberapa kali mulai dari Balai Kota hingga komplek perkantoran dan berakhir menjadi Museum Batik tahun 2006.

Saat aku dan rombongan mengunjungi Museum Batik kami diajak ke Ruang Pamer 1 yang beisi peralatan pembuatan Batik dan koleksi Batik.Pembuatan Batik itu sendiri menurutku ribet dan perlu kesabaran tingkat tinggi. Bahkan setelah belajar membatik di Batang sehari sebelum ke Museum Batik membuatku sadar betapa proses membuat Batik itu cukup menyita waktu. Sehingga semakin ribet motif dan makin banyak warnanya maka makin lamalah prosesnya. Jadi pas ke Museum Batik Pekalongan membuatku bangga menjadi orang Indonesia karena orang dulu mewariskan Batik, Mahakarya yang cukup menguji kesabaran.

Jadi yang ingin tahu seberapa dalam tingkat kesabarannya, maka membatiklah! 😉

Di Rung pamer 1 aku mengatahui kalau bahan batik pun beraneka ragam, dan begitu juga peralatan pembuatan Batik. Alat-alat pembuatan Batik seperti canting  dengan berbagai ukuran dan fungsi seperti canting kecil untuk motif kecil dan canting besar untuk motif besar serta tinta yang digunakan dalam pembuatan Batik disebut malam dan pewarna Batik mulai dari pewarna alami hingga kimia. Di Ruang Pamer 1 berisi koleksi Batik dari berbagai daerah dan motifnya lucu-lucu.

Puas dari Ruang pamer 1 kami pun masuk ke dalam ruang yang berisi koleksi Batik dari berbagai Nusantara mulai dari Batik Tasikmalaya, Cirebon, Banten, Garut, Solo, Yogyakarta hingga Baik Papuda dan Kalimantan. Coraknya dan warnanya juga kece sehingga lebih mengenal variasi dari Batik. Setelah itu kami pun ke Ruang yang berisi koleksi Batik Pekalongan mulai dari tahun 1900 hingga sekarang. Disinilah aku mengetahui sejarah Batik Pekalongan.

Membatik di Museum Batik Pekalongan

Pada dasarnya Batik Pekalongan terdiri dari 2 jenis yaitu Batik tradional (tahun 1900-1980an) dan Batik Modern (1990an-sekarang). Perbedaan antara Batik tradisonal Pekalongan dengan modern terdapat pada motif Batik itu sendiri. Kalau batik tradisonal itu khasnya pada ornament utama dan pengisi motif utama, misalnya motif utamanya berupa tumbuhan sedangakan untuk batik modern motifnya sudah bercampur dari berbagai motif dan tidak tumbuhan tok.

Oh ya satu hal yang mencuri perhatianku ketika melihat photo orang Belanda zaman dulu dengan Batik.

Menurutku itu klasik karena orang Belanda aja pakai Batik.

Bahan membatik

Selain bisa melihat koleksi Batik di Museum Pekalongan, bisa juga menonton film sejarah Batik di Ruang audio Visual dan jika ingin tahu gimana proses pembuatan Batik maka bisa belajar membuat Batik di Ruang Worksop.

Untuk membuat batikpun ada dua jenisnya yaitu Batik Cap di ruang workshop pertama dan ruang kedua untuk batik tulis. Proses pembuatan Batik Cap lebih singkat daripada batik tulis, kalau batik tulis menggunakan tangan sampai akhir dalam pengerjaannya serta motifnya rumit. Batik cap dalam mengisi ornament utama tidak harus detil dan menggunakan canting cap. Canting sendiri adalah alat untuk menaruh lilin (malam) pada kain putih.

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami tidak sempat membuat batik lagi di Museum Batik Pekalongan. Namun lumayan sih senang karena sudah pernah belajar ngebatik. Terus hikmah dari perjalanan ke Museum Pekalongan adalah bagaimana melatih kesabaran. Karena dalam proses pembuatan Batik itu waktunya lama bahkan ada yang sampai 1 tahun pengerjaan. Bayangkan dong 1 tahun, benar-benar belajar kesabaran. Patut bangga dengan ketekunan orang Indonesia!

Batik di Museum Batik Pekalongan

Kalau sudah pernah membatik dijamin bakalan jatuh cinta dan lebih menyayangi Batik karena untuk membuat Batik itu butuh serangkaian proses mulai dari membuat motif pada kain kemudian melekatkan lilin (malam) sesuai motif dengan canting hingga menghilangkan lilin dalam kain. Aku sendiri yang masih proses melekatkan lilin dari wadah penampung zat yang dipanaskan dengan kompor kecil atau disebut klerekan harus hati-hati sekali sehingga pas melihta Batik makin rumit polanya maka membuatku makin sayang.

Kadang memang dalam hidup baru menyadari sesuatu berharga jika sudah mengalami prosesnya, ternyata proses itu adalah pembelajaran. Pembalajaran untuk menghargai hasil kerja orang lain!

Sehingga mulai dari sekarang kita harus lebih mencintai Batik Indonesia!

Museum Batik Pekalongan

Harga Tiket Museum Batik Pekalongan

Dewasa Rp5.000

Anak-anak Rp2.000

 Mancanegara Rp10.000

Jadwal Buka Museum Batik Pekalongan

Setiap hari jam 08:00 – 15:00 termasuk hari minggu dan besar

Tutup tahun baru, 17 Agustus, Lebaran Idul Fitri, Lebaran Idul Adha dan tahun baru islam

Museum Batik Pekalongan

Fasilitas Museum Batik Pekalongan

Tiga ruang pamer, ruang audio visual, pelatihan batik, perpustakaan, ruang data, ruang simpan dan konservasi, aula, kedai, internet gratis, tempat penitipan, area parker, toilet.

Museum Batik Pekalongan

Lokasi Museum Batik Pekalongan

Jl. Jatayu No. 1

Kota Pekalongan
Jawa Tengah

Jadi bagi yang ingin mendapatkan informasi mengenai sejarah Batik khususnya Batik Pekalongan berupa tulis maupun cap serta proses pembuatannya maka mengunjungi Museum Batik Pekalongan itu wajib hukumnya.

Koleksi Batik Museum Pekalongan
Koleksi Batik Pekalongan

Sudah pernah ke Museum Batik?

Yuk ke museum Batik Pekalongan dan kenali Batik Indonesia lebih dalam!

Salam

Winny

Indahnya Curug Bajing di Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan


If you’re not making mistakes, you’re not experimenting. You’re not trying new approaches. You’re not going anywhere. They key thing is to make sure that you learn from the mistakes.

By Unknown

Hello World!

Pekalongan, 2017

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar Pekalongan?

Pasti Batik bukan?

Memang Pakalongan itu identuk banget dengan Batik. Padahal Pekalongan itu tidak melulu Batik loh! Bahkan Pekalongan memiliki banyak potensi wisata alam yang masih banyak belum di ketahui oleh orang wisatawan. Pekalongan yang masuk ke dalam UNESCO Creative Network memiliki banyak tujuan wisata yang masih alami yang tak boleh untuk dilewati.  Salah satu wisata yang patut dikunjungi di Pekalongan adalah kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan.

Curug Bajing Pekalongan

Pertama kali mengunjungi kawasan  Petungkriyono sempat membuatku tak percaya ada tempat indah dan segar di Pekalongan, karena wisata yang alam Petungkriyono begitu alami, hijau dan memanjakan mata.

Siapa sangka kalau Pekalongan yang identik dengan Batik memiliki keindahan alam yang ciamik!!

Beruntungnya aku bisa menjelajah dan mengunjungi wisata alami Pekalongan bersama Bu DR. Marlinda, S.E., M.Si, teman-teman Blogger termasuk Wira Nurmansyah, Leoni dan artis Instagram Yudha beserta teman media, Kak Kristin dan Kementrian Pariwisata. Bahkan dalam kunjungan ke Pekalongan kami disambut baik oleh Bapak Bupati Pekalonga, H Asip Kholbini, S.H., M.Si dan Dinas Pariwisata Pekalongan.

Kunjungan kami adalah menelusuri daerah kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan.

Terus apa yang menarik dari kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan?

Kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan merupakan kawasan hutan tempat Oa Jawa berada salah satu hewan langka sekaligus dilindungi. Tidak hanya itu kawasan Petungkriyono memiliki banyak sekali air terjun/Curug yang bisa di kunjungi sehingga sangat cocok bagi pecinta Curug atau sekedar bersantai baik sendiri maupun dengan keluarga. Tempatnya juga bersih serta Curugnya masih alami.

Dalam satu kawasan Petungkriyono memiliki beberapa pilihan wisata terdiri dari Curug Bajing, Curug Muncar, Curug Lawe, Curug Sibedug, Curug Telu dan Kedung Pitu, Curug Jepang, kebun strawberry sampai river tubing di Sungai Welo dan masih banyak lagi pilihan wisata menarik di Petung Kriyono.

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami hanya bisa mengunjungi Sibedug dan Curug Bajing. Padahal kami ingin juga ke Curug Muncar dan Jurug Lawe namun memang harus diagendakan untuk kembali lagi ke Pekalongan.

Curug Bajing Petungkriyono

Perjalanan kami dimulai dari Semarang menuju ke Petungkriyono. Perjalaan yang cukup memakan waktu, paling tidak kami yang sampai di Bandara jam 7 pagi sampai di Pekalongan baru jam 10 pagi kemudian dilanjutkan perjalanan ke Petungkriyono. Petungkriyono ini merupakan daerah Pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter dari atas permukaan laut sehingga tidak heran disebut sebagai Negeri diatas Awan.

Negeri diatas awan karena berada di ketinggian, bahkan kawasan Petungkriyono sebagian wilayahnya merupakan dataran tinggi Pegunungan Serayu Selatan dan disebelah Selatannya merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak heran jika dalam perjalanan kami melewati pemandangan hutan yang rupawan.

Hutan Pinus Pekalongan

Dalam perjalanan secara rombongan, ternyata rombongan Bapak dari Dinas Pekalongan beruntung dapat melihat Oa Jawa pas menuju ke Curug Bajing sementara kami tidak melihat si hewan langka ini karena memang kami fokus kepada pemandangan hutan sepanjang jalan. Kami sudah terlalu asik dengan pemandangan sungai, sawah, dan sebagainya dari kaca mobil kami sehingga lihat persawahan, hutan saja sudah membuat kami puas.

Sudah lama aku tidak bermain dengan alam, karena melihat keindahan alam sungguh membuat hati tentram. Aku menyadari memang bermain ke alam dapat mengobati rasa galau dan gundah gelana sehingga bagi orang-orang  khususnya yang mudah stress, lelah di kantor, jemu dengan rutinitas serta bosan akan sesuatu maka dianjurkan untuk sering-sering ke alam. Karena selain obatnya murah juga dapat menambah kecintaan terhadap Indonesia. Belum lagi biayanya cukup murah.

Bagi yang ke Jakarta yang ingin liburan pas Sabtu-minggu bisa tuh ke Pekalongan karena mudah diakses dari Jakarta dijamin pikiran akan fresh karena memang masih banyak potensi wisata Pekalongan yang dapat dijelajah serta tempat kece bagi pecinta foto.

Curug Sibedug

Kenapa aku begitu suka Curug Bajing karena perjalanannya itu menarik. Untuk menuju ke Curug Bajing mobil yang membawa kami harus melewati jalanan kecil dan menanjak yang sisi kanan-kirinya jurang dan jika berpapasan dengan mobil lain maka harus berhenti sebentar sehingga mesti hati-hati dalam berkendara.

Namun pemandangan hutannya sangat memukau loh!

Bahkan berkat pemandangan apik hutan membuat kami agak lupa rasanya di dalam mobil yang melewati jalanan agak rusak ke Petungkriyono. Sepanjang jalan aku, Leoni dan Yudha menikmati pemandangan sekitar kami mulai dari persawahan, hutan pinus sampai Sungai bersih.

Belum sampai ke tujuan wisata Curug Bajing, Kabupaten Pekalongan kami berhenti di Curug Sibedug, di Kayupuring. Keunikan dari Curug Sibedug pada lokasinya, terletak ditepi jalan sehingga terlihat jelas ketika melewati mobil.

Pak berhenti, kata kami kompak kepada Pak Supir

Padahal tujuan kami belum sampai tapi sudah singgah saja di Curug yang bernama Sibedug. Akhirnya karena cantiknya Curug Sibedug, kamipun singgah sebentar di Curug Sibedug lalu melanjutkan perjalanan kami ke Curug Bajing.

Curug Sibedug

Sesampai di Curug Bajing, mobil kami pun parkir. Lama perjalanan kami hampir sejam sehingga sampai di warung dekat Curug Bajing kami langsung makan siang dengan lauk berupa nasi Merah, Ikan bawal, sambal terasi, tumis teri tauco, tempe, kerupuk dan mendoan serta jahe hangat. Di warung ini pula kami disuguhkan Kopi khas pekalongan dengan aksi si abang yang membuat kopi.

Bang Kopi pake susu, begitu celotehku

Dengan cekatan si Babang membuat kopi susu sambil minum di warung yang mirip Gazebo itu, sambil mengisi perut yang sudah lapar demi persiapan ke Curug Bajing yang berada di belakang warung.

Jalan-jalan ke Pekalongan itu refreshing banget!!

Setelah kenyang barulah kami berjalan menuju ke Curug Bajing. Akses ke Curug Bajing tidak begitu sulit dari warung karena jalannya sudah bagus yang susah hanyalah menuju ke Curug Bajingnya. Jaraknya pun tak jauh hanya berkisar 300 meter saja,  trekkingnya hanya 15-25 menit saja sehingga mudah menuju ke Curug Bajing.

Tidak hanya itu Curug Bajing memiliki tempat spot bagi si tukang selfie karena ada Pohon Selfie sampai spot foto berbentuk hati. Namun saya lebih suka spot photo kayu biasa dengan latar belakang air terjun Bajing karena lebih alami. Yang menarik lagi dari Curug Bajing terdapat tempat sampah, hingga toilet dan Musholla serta cukup mudah untuk mandapatkan makanan dan kawasannya masih bersih.

Curug Bajing sendiri cukup tinggi karena awalnya aku mengira kecil ternyata  lumaya. Curugnya juga cakep karena masih alami dengan tebing serta pohon. Nama Curug sendiri diambil dari nama Bukit dibelakangnya “Bajing”.

Aku membayangkan mandi di Curug Bajing pastilah segar karena sisa kiri kanannya masih hutan, dan udaranya pun bersih sekali. Tapi sudahlah itu hanya angan-anganku saja!

Sayangnya pas kami berjalan mendekati ke Curug Bajing hujan turun deras sehingga belum sampai di Curug Bajing kami harus kembali, baru juga di jembatan, maklum takut air. Akhirnya malah mengambil langkah seribu kembali ke warung!

Curug Bajing

Lokasi Curug Bajing

Dusun Kambangan Desa Tlogopakis,

Kecamatan Petungkriyono

Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah

Harga tiket masuk ke Curug Bajing

Hari biasa dan hari libur Rp4000

Hari Libur Nasional Rp6000

Cara Akses ke Curug Bajing

Untuk transportasi umum bisa turun di Terminal Desa Doro lalu naik doplak namanya Anggun Paris dengan harga Rp100.000 (paketan termasuk tiket masuk dan makan siang), bagi yang wisata rombongan sebaiknya menyewa mobil dan bisa sharing cost.

Ada yang sudah ke Curug Bajing, kawasan PetungKriyono Kabupaten Pekalongan?

Yang ngaku pecinta Curug belum sah kalau belum ke Pekalongan!

Yuk ke Pekalongan 😉

Salam

Winny