Inle Lake dan Nelayan Myanmar


Focus on the journey, not the destination.

Joy is found not in finishing an activity but in doing it.

By Greg Anderson

Sunrise Inle Lake

Myanmar, Februari 2017

Hello World!

Perjalanan Yangoon-Inle dengan bus dimulai sore itu ketika Ade duduk disamping penduduk lokal Burma yang senang mengajaknya ngobrol seolah Ade mengerti Bahasanya sementara aku dan Melisa asik bersolek ria dengan thanaka (bedak dingin). Penggunaan thanaka di wajah sengaja kami buat agar membaur dengan warga lokal berharap dianggap sebagai warga lokal. Bus yang kami tumpangi lumayan bagus dari segi fasilitas dan harga tiket bus sebesar 15,000 MYK/orang, dengan harga segitu kami diberikan bantal, selimut, minuman serta stop kontak untuk mengisi baterai handphone kami. Sebelum berangkat, kami sudah ditandai dengan “turis” di daftar list penumpang dalam bus karena memang sebelumnya saat membeli tiket bus kami menyerahkan passpor sebagai identitas. Sepintas wajah kami hampir sama dengan warga lokal yang membedakan hanyalah kami tidak mengerti Bahasa Myanmar. Tidak hanya itu, penumpang dalam bus juga sadar betul kami turis karena percakapan kami dalam Bahasa Indonesia, yang tidak dimengerti mereka.

Dalam perjalanan menuju Inle, aku memilih menikmati pemandangan dari kaca mengamati aktivitas warga lokal serta menikmati senja di kala itu, sementara Melisa dan Ade mungkin saja tidur. Yang ku perhatikan dari warga lokal Myanmar adalah pemakaian bedak dingin di wajahnya baik laki-laki maupun perempuan dan itu biasa bahkan di jalanan dan tempat umum, mungkin sudah menjadi ciri khas orang Myanmar atau memang rahasia cantik alami atau sekedar menghalangi dari sinar matahari, entahlah!

Tidak lama aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan Yangoon-Inle hingga aku pun tertidur sampai dimana bus kami berhenti dan kami terbangun. Yah bus yang kami tumpangi berhenti untuk istirahat, tentu saja dalam pemberhentian dimanfaatkan penumpang untuk ke kamar mandi atau juga makan malam. Kami memilih untuk makan dan memilih tempat duduk paling ujung dalam restauran. Dalam restauran ini kami menjadi pusat perhatian bukan karena wajah kami yang mirip warga lokal namun lebih kepada Bahasa Inggris yang kami gunakan untuk memesan makanan karena memang dalam restoran itu hanya satu orang saja yang bisa berbahasa Inggris, itupun setelah dipanggil dari sebelah.  Setelah selesai memesan lalu dengan santai kami menunggu pesanan kami datang.

“Nya, gue ya takutnya pas sehari-hari saja diajak ngobrol pake Bahasa Myanmar karena dianggap orang lokal eh pas di tempat wisatanya aja kita dikenali orang asing. Gue sih masih berharap kita dianggap warga lokal biar tidak bayar uang masuk ke Inle”, kata Ade

Setelah percakapan kami bertiga yang berharap dapat tiket masuk gratis ke Inle dan perut sudah diisi karena selesai makan malam dalam pemberhentian bus kami, maka semua penumpang termasuk kami kembali naik ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan.

Memang kami sengaja dalam melakukan perjalanan malam dari Yangoon ke Inle, selain menghemat biaya penginapan serta keterbatasan waktu namun ingin memaksimalkan tempat wisata, kami juga ingin sampai di Inle sebelum fajar karena kami ingin melihat Sunrise dengan Nelayan Myanmar dengan gayanya yang iconic. Tujuan kami pun tercapai karena jam 4 pagi kami sudah sampai di Inle, namun sebelum memasuki Inle petugas Myanmar membangunkan kami untuk membayar uang masuk ke dalam Inle. Awalnya aku berpikir bahwa uang masuk itu dalam wisata Inlenya, namun aku salah ternyata bayarnya pas masuk ke dalam Kotanya alias TIKET MASUK KOTA. Paling tidak di Myanmar jika ingin masuk dua Kota yaitu Bagan dan Inle harus membayar uang masuk dengan tarif yang berbeda. Untuk harga masuk ke dalam Inle kami harus membayar $10/orang dan bisa dibayar dengan Dollar atau juga dengan mata uang Myanmar “Myanmar Kyat”. Waktu itu kami membayar dengan uang Dollar.

Setelah selesai pembayaran yang hanya kami bertiga saja karena yang lain orang lokal, akhirnya kami masuk ke dalam Inle dan turun dari bus. Udara dingin langsung menusuk tulang kami, karena pakaian kami yang ala kadarnya yang tidak bersahabat dengan udara sekitar.

Menurut kami Inle itu seperti Sibolangit, dan tujuan kami ke rumah Mr. Muh Kyi House karena disanalah kami menyewa boat seharian untuk menjelajah Danau Inle, Myanmar. Beberapa warga lokal menawarkan jasa dengan transportasi yang mirip becak/tuk-tuk namun berbeda atau mungkin lebih mirip mobil pick up dengan modifikasi. Si Bapak itu menawarkan harga 3000 MYK/3 orang ke rumah Mr. Muhi dengan tuk-tuk miliknya.

Jadi gimana kita naik tuk-tuk saja atau jalan kaki, 
tanya Ade kepadaku dan Melisa

Aku sih terserah, jalan kaki ayo naik tuk-tuk ayo, jawabku

Aku juga terserah, jawab Melisa
Cuma 3000 Kyat aja, Rp10.000 doang, kata Ade

Yaudah kita naik tuk-tuk saja, lanjut Ade

Awalnya ada ide untuk jalan kaki karena dianggap dekat namun setelah dipikir ulang karena 1000 Kyat perorang itu murah serta kami juga tidak tahu lokasinya dimana akhirnya kami memilih untuk naik tuk-tuk. Dan ternyata pilihan itu tepat karena dinginnya udara Inle benar-benar menusuk tulang sampai aku dan Melisa memakai selimut yang ada di dalam. Tak heran kenapa warga lokal memakai selimut karena saking dinginnya udara di Inle. Memasuki Inle ini mengingatkan kami dengan Danau Toba atau Brastagi atau bisa juga Sidikalang, karena dinginnya dan juga suasanya.

Bah, mirip di Sumatera Utara pula ini Myanmar, kata Melisa 
serta anggukkan setuju dariku dan Ade

Jam 4 pagi pulalah kami mengetok pintu rumah Mr. Muh Kyi. Sebenarnya Mr. Muh Kyi sudah meninggal dunia namun istrinya tetap memakai nama itu karena almarhum suaminyalah yang membuka jasa tour di Inle serta Ibu Muh Kyi bersedia dibangunkan di pagi buta berkat balas membalas email dengan Ade. Tentu informasi ini berkat usaha Ade yang super rajin dan membuat rincian perjalanan yang menakjubkan. Berkatnyalah kami tidak luntang-lantung di Inle subuh itu. Dan Mrs. Muh Kyi membolehkan kami masuk. Disinilah kami menyewa boat seharian keliling Inle dengan harga sewa Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang karena awalnya kami hendak melihat sunset di Danau Inle, kalau hanya setengah hari harganya jauh lebih murah. Tidak hanya itu kami juga membeli tiket bus kami ke Bagan dari Inle untuk jam 8 setelah puas dari Inle.

Setelah proses pembayaran, akhirnya dua bocah membawa kami ke dermaga untuk memulai tour Inle kami karena memang kami ingin mengejar sunrise dengan penampilan para Nelayan Myanmar. Di Dermaga, kami menaiki kapal dengan fasilitas life jacket dan selimut. Setelah selesai kami pun memulai perjalanan menelusuri Inle Lake seharian dengan perahu.

Lalu apa yang membuat kami segitu ngototnya ingin melihat Nelayan di Myanmar?

Jadi Inle Lake yang terletak di Township Nyaungshwe Kabupaten Shan State, Burma ini merupakan kawasan Danau air tawar yang luas dan memiliki beberapa attraksi utama yang menarik wisatawan, salah satunya aksi dari Nelayan Myanmar.  Nelayan Myanmar ini memiliki cara mendayung yang unik dan tidak ditemukan ditempat lainnya yaitu mendayung perahunya dengan satu kaki dengan posisi berdiri satu kaki di kapalnya sementara kaki lain di sisi dayung sedangkan tangannya memegang jala. Gaya tersebut memang sengaja dilakukan karena banyaknya tumbuh-tumbuhan air yang ada di Danau Inle sehingga Nelayan harus melakukan posisi miring di dalam perahunya. Gaya para nelayan inilah yang menjadi tujuan utama kami berburu sunrise di Danau Inle.

Dan beruntungnya kami ketika sampai di Inle kami dapat melihat attraksi Nelayan Myanmar, saat kami dekati si Bapak malah beraksi dengan senyum diwajahnya. Terlihat jelas mereka sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing, seolah paham betul apa yang kami mau dan kami lihat. Bahkan tidak hanya itu, Nelayan lainnya juga beraksi di depan kami.  Akhirnya ada dua Nelayan Myanmar yang mendatangi perahu kami. Bahkan kami bisa berphoto dengan dua nelayan Myanmar sekaligus dengan piawainya menjaga keseimbangan badan mereka di perahu. Bahkan aku sangat salut bagaimana Nelayan Myanmar bisa bergaya miring did alam perahu dengan satu kaki di ujung perahu dan kaki lainnya di jaringanya serta satu tangan dengan dayung ke dalam Danau tangan lainnya menggenggam jaring.

Nya, aku senang akhirnya bisa melihat langsung Nelayan, kata Ade
Gak sia-sia awak ke Inle, kata Melisa

Karena dua Nelayan yang baik hati membolehkan kami melihat atraksinya akhirnya kami memberikan tips kepada mereka. Yah perjalanan Inle kami baru saja dimulai dengan dibuka dengan performance Nelayan Burma. Sungguh pagi yang menyenangkan!

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 MYK/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 MYK/3 orang

Makan siang di Inle 8000 MYK/ 3 orang

Tips boat 1700 MYK/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 MYK/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Iklan

Cerita di Belanda


He must have known I’d want to leave you.”
“No, he must have known you would always want to come back.”
J.K. Rowling

Central Bus station amsterdam

Hello World!

Belanda, Maret 2017

Sesampainya di Bandara Udara Internasional Schiphol, Amsterdam Belanda terpaksa aku harus berpisah dengan Ibu Rika dan Dinar serta suaminya. Walau singkat, namun bersama mereka cukup berkesan, paling tidak kami mengikuti Doha Tour bersama. Artinya perjalanan seorang diriku pun dimulai. Perpisahan kamipun pas banget di hari Ulang Tahunku, begini rasanya merayakan Ulang Tahun bersama orang baru.

Setelah mendapatkan tiket ke Lelylaan seharga 3 Euro serta harga print tiket kertas seharga 1 euro dari hasil antrian di loket akhirnya kami bersama menuju tempat kereta di bawah tanah. Aku turun di Lelylaan, lebih dulu turun padahal belum sempat Cipika-Cipiki dengan Bu Rika sehingga hanya bisa Dadada saja dari luar kereta. Karena aku harus mencari penginapan di rumah orang alias menumpang. Aku tanya sana sini dimana alamat rumah hostku bak anak ayam kehilangan induk.

Dinginnya udara Belanda serta salah kostum karena membawa pakaian ala Tropis yang tak berlaku di musim semi Eropa membuatku harus menahan dingin, sekali kali aku menanyakan orang untuk menelpon hostku, tentu saja sebagai wanita banyak yang membantu sehingga akhirnya hostku pun datang menjemput menuju ke Apartemennya.

Hostku sangat baik sekali karena dia memberikan kamarnya untukku sementara dia tidur di ruang tamu, belum lagi ada wifi gratis sehingga pertanyaan pertama kali yang aku tanyakan dalam diriku ‘what am i doing here‘ sedikit hilang..

Bandara Udara Internasional Schiphol

Karena pengalaman sekali jalan dari Bandara dan mengetahui harga yang super mahal akhirnya aku tidak berani keluar untuk sekedar jalan-jalan. Hingga akhirnya temanku yang dulu aku kenal di Lombok, asli orang Belanda mengajak jumpa di Amsterdam Central Station.

What do you want to see in Amsterdam Winny, 
tanya Friso padaku

I wanna see Red District, jawabku dengan spontan 
dalam sebuah percakapan via whatsapp

Tentu saja Friso sangat senang menjumpaiku walaupun awalnya kami janji jumpa pas Sabtu namun karena mamanya Ultah akhirnya kami berjumpa di hari kedatanganku pertama di Belanda

Winny, can we meet in Amsterdam Central station?

I need 1,4 hour because i live in Eindhoven, katanya

Ok see you around 7 pm in Central Station, kataku

Akhirnya dengan hasil tanya hostku Bas dia menyarankan naik Tram ke Centra Station dengan membeli 1 hour pass. Tempat berjumpa kami dengan Friso di dekat piano dalam Stasiun.

Nah pas menuju tram, uangku kan pecahan 50 Euro sedangkan harga tiket pass sejam tram itu 2,9 Euro akhirnya dengan gaya turis kikuk di dalam tram, sang driver menyuruhku ke tengah menukarkan uang

Only this time, katanya dengan tegas kepadaku 
sambil dilihatin penumpang lain.

Sumpah aku merasa turis linglung banget terus menutupi rasa malu akhirnya dengan sok polos aku pura-pura melihat jendela.

Disinilah kelihatan aku turisnya.

Central Station Amsterdam

Pilihan membeli 1 hour pass tram padahal aku sudah tahu kalau bertemu pasti melebihi satu jam karena ada 1 day pass seharga lebih dari 7 Euro sementara aku hanya butuh tiket pulang pergi let say 6 Euro untuk tiket bolak-balik tram, kan masih hemat 1 Euro karena jam juga sudah jam 7 malam dan gak mungkin aku naik tram bolk balik sehingga membeli pass 1 jam pilihan terbaik.

Sesampai di Stasiun ternyata aku telat, akhirnya nyampenya jam 7:30 malam walau hari masih cerah dan membuatku begitu malu serta bersalah kepada Friso.

Untungnya Friso menungguku di McD kemudian jm 8 malam barulah kami berjumpa. Itupun dianya menyamperin ke dekat Piano, setelah 30 menit berdiri seorang diri.

Dengan cekatan si Friso langsung memelukku yang spontan membutku agak malu, walau si Friso in tidak doyan cewek 😀

Dengan Friso
Oh my God Winny, look at you, you come here

Do not you remember what did you say to me, 
tanyanya

You said you wanted visiting Europe 
and u made it, 

You are unbelievable, 
and your face changed to be mature, lanjutnya

Padahal sumpah aku sudah lupa apa yang aku katakan padanya di tahun 2010, yang pasti dia masih ingat tentang impianku mengunjungi Eropa sewaktu kuliah dulu.

Red Light Amsterdam

Bersama Friso akhirnya kami berjalan kaki mengelilingi Amsterdam di malam hari, sungguh kakiku panjang sekali padahal baru juga nyampe udah keliling Amsterdam, di malam hari pula, kan liar wkwkwk.

Aku juga tak habis pikir betapa baiknya temanku ini, coba bayangkan dapat dimana teman yang datang menjumpaimu sampai bela-belain 1,5 jam di kereta padahal kenalnya gak kenal amat hanya pernah jumpa di Lombok dan sama-sama trekking di Bukit Lawang itupun 7 tahun lalu selebihnya berteman via Facebook terus mengetahui datang ke Negaranya disamperin?

Friso, you are amazing, 
because far away come just to meet me 
and today is my brday anyway, kataku kepadanya

Well, you are my friend, katanya
Weed Museum

Terus langsung kami menuju ke Red Lightnya Amsterdam karena dulu aku pernah bercandain Friso untuk melihatnya.

Saat mengunjungi Red Light District Amsterdam, BELANDA begitu mengherankanku. Heran melihat betapa Amsterdam begitu free, bahkan dari etalase aku melihat wanita cantik yang berpakaian minim bak di Pantai. Agak geli sebenarnya melihat peralatan untuk orang dewasa dipajang disepanjang jalan bahkan ada juga museum narkotika yang membuatku tercengang.

Do you want to see them live?, 
tanya Friso dengan bercanda

Tentu saja aku lebih sayang uang, cukup tahu dari luar saja.

Lalu Friso menjelaskan kalau Belanda adalah negara yang melegalkan penggunaaan Narkotika serta s*x. Lucunya banyak turis yang datang kare penasaran namun kebanyakan sih hanya menonton atau sekedar lihat saja.

Palace in Nederland

Semua area Red Light District kami lalui dengan berjalan kaki sampai kami menuju ke sebuah Istana bersama Friso. Sepanjang perjalanan kami curhat, dimana dia curhat tentang pacar cowoknya sampai rencana perjalanan berikutnya.

Seru ternyata bersama orang asing di negara asing!

Amsterdam

Friso juga menjelaskan tentang tempat apa saja yang kami lalui sambil cerita banyak. Ternyata ketika bercerita tidak terasa kami itu sudah berjalan kaki lumayan, lumayan 2 jam.

What else do you want to see, Winny?, tanyanya

I want to see AMSTERDAM ICON, 
tanyaku dengan semangat

Can we go there?, tanyaku lagi sedikit ragu

Dan ternyata dia membawaku ke icon yang ada tulisan IMASTERDAM, kurang kayaknya kalau belum ke icon Belanda.

Iamsterdam icon

Sesampai di Icon itu meski sudah jam 9 malam masih ramai saja bahkan aku harus antri photo. Setelah photo barulah kami bercerita lagi sambil duduk kolam hingga akhirnya kami memutuskan untuk minum karena jam 10 Friso harus balik karena kereta sampai jam 11 paling lama ke tempatnya.

Akhirya kami berdua mencari tempat nongkrong hingga sampai disekitar Dam Square. Friso memesan bir sementara aku memesan teh, yang dikasih cookies. Agak sempat kaget mendapat cookies dengan teh yang ternyata sudah umum seperti itu di Belanda. Terus yang membuatku kaget lagi ternyata harga teh yang aku pesan itu seharga 2,6 Euro.

Eh tanpa diduga ternyata si Friso malah mentraktirku, ya ampun udahlah dia datang dari jauh ditrakir lagi, baik sekaliiiii!

Amsterdam

Begitulah ceritaku di Belanda, negara pertama dalam Europe tripku bertepatan di Ulang tahun dan melihat s*x toys, ga*nja, serta ditraktir teh oleh teman Belanda.

Salam

Winny

Trip Ultah ke Zaanse Schans, Desa Kincir Angin di Belanda


Nothing is ever called Welcome back without a Journey.

If you desire to get results, you work it out, rather than hoping and wishing

By Unknown

Hello World!

Belanda, 25 Maret 2017

Setelah sampai di Eropa barulah aku sadar ternyata kalau jalan-jalan ke Eropa itu sebackpacker-backpackernya tetap mahal. Ibarat kata shock dengan mata uangnya, apalagi impian 15 negara 10 juta 1 bulan, byee impian itu, coret saja. Belanda membuatu jadi rasional!

Jujur agak menakutkan jalan-jala tanpa persiapan apalagi kalau tipe seperti aku yang suka dengan rincian. Belum lagi tidak ada CC alias kartu kredit, untungnya aku menemukan Host yang super baik sehingga tertolong dalam biaya penginapan.

Kincir angin belanda
Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Hari pertama di Belanda dari Bandara Internasional Amsterdam Schiphol ke stasiun Lelylaan Amsterdam dengan kereta saja 4 Euro sekali jalan. Harga tiket hanya 3 Euro saja dan 1 Euro untuk harga kertas dan untungnya rumah Bas, CS di Amsterdam dekat ke Bandara. Sehingga pas hari kedua aku enggan kemana-mana paling hanya ingin melihat Tulip dan Kincir Angin saja.

Anggap saja hadiah ulang tahun buat diri sendiri.

Where are you going today Winny, tanya Bas kepadaku

Wanna see windmill, jawabku kepada Bas

 

Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Padahal aku juga gak tahu dimana bisa melihat Kincir angin di Belanda, yang aku tahu hanyalah Volendam tapi mengingat harga transport super mahal mending gak jadi deng.

Dengan cekatan Bas mengetik komputerya dan menyarankanku ke Zaanse Schans untuk melihat kincir angin.

Do you think should i pay tranport pass Bas, 
tanyaku kepadanya

No, it is not worth it Winny unless you have plenty time, 
katanya

Akhirnya mengikuti sarannya maka akupun pergi sendirian ke Zaanse Schans, Amsterdam dengan bantuan rute dari Bas. Baru kali ini merasakan berjalan sendirian mengikuti saran orang dan tanpa beban tanpa harus mengejar jam tayang harus ke sini kesitu, perjalananku ke Eropa jadi lebih menikmati waktu, satu wisata namun aku puas.

Belanda
Zaanse Schans, amsterdam

Rute ke kincir angin Zaanse Schans dari Lelylaan

Lelylaan-Sloterdjik transfer ke pltform 3 terus ganti kereta dengan tujuan  Uitgeest terus turun ke -Zaandjik Zaanse Schans.

Dari apartemen Bas aku berjalan ke stasiun terdekat, nah pas di stasiun aku mengalami kesulitan dalam membayar tiket kereta karena harus bayar pakai coin sementara uangku dalam pecahan kertas. Disinilah aku dibantu oleh orang Slovakia dengan temannya sampai mereka ngumpulin receh buatku karena uangku 20 Euro. Ah enaknya jadi cewek itu banyak yang bantuin apalagi yang bantu cowok ganteng hihihi..

Berkat merekalah aku bisa membeli tiket ke Zaanse Schans, demi kincir angin 🙂

 

Zaanse Schans, Amsterdam

Sesampai di Sloterdjik aku berkenalan dengan Jasmine, traveller asal Hong Kong dan bertemu beberapa orang Indonesia yang heran melihatku jalan sendirian di Eropa. Berani kata mereka, padahal sebenarnya aku ini wsa-was juga loh, was-was kehabisan uang hahahha ;D

Untung aku punya bakat SKSD tingkat tinggi sehingga aku mudah mendapatkan teman termasuk dengan Jasmine dan beberapa traveller dari Hong Kong.

Walaupun baru kenal dengan Jasmine namun aku bisa langsung klop kayak udah kenal lama. Semangat lagi karena tujuan kami sama ke kincir angin.

Tidak salah mengikuti saran Bas ke tempat turis suka 🙂

Di dalam kereta ke Zaanse Schans, aku dan Jasmine berdekatan dengan turis asal Hong Kong. Lucunya aku dan Jasmine mengikuti mereka turun di dua stasiun sebelum tujuan akhir kami sehingga membuat Jasmine berpisah dengan dua teman Chinesnya. Iya kami mengikuti orang yang salah sampai terlihat jelas kalau Jasmine merasa bersalah padaku karena mengikutinya. Namun dengan tenang aku berusaha meyakinkan dia aku baik saja, karena memang apa yang aku kejar? Orang tujuanku hanya melihat kincir angin Belanda saja terus masih lama lagi di Eropanya!

 

Zaanse Schans

Akhirnya berkat tanya petugas kami berdua pun menunggu kereta lain ke dua stasiun lagi ke Zaanse Schans, sebuah Desa untuk melihat kincir angin Belanda secara gratis tis tis.

Tahu sendiri aku paling suka sekali yang gratisan 😀

Tapi seakan ku menculik si Jasmine dari temannya, serunya kami berdua benar-benar menikmati waktu kami di Desa Kincir Angin Belanda.

Untuk ke Desa tempat kincir angin juga gampang, petunjuknya jelas dan yang paling membahagiakan ada yang motoin.

Tentu saja saran Bas ‘follow chines tourist‘ benar adanya, tak akan nyasar!

Sepanjang perjalanan ke kincir angin sangat menyenangkan, pohon yang bermekaran karena memang musim semi pas di Eropa dengan cuaca yang super dingin bagiku serta tentu saja pemandangan kincir angin.

Di  Zaanse Schans katanya ada 8 kincir angin yaitu De Huisman, De Gekronde Poelenburg, De Kat, Het Jonge Schaap, De Os, De Zoeker, Het Klaverblad dan De Bonte Hen. Tapi jangan tanya aku hitung ada 8 atau tidak karena pas sampai di jembatan dengan latar belakang kincir angin saja sudah membuatku lupa hitugan.

Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Bahkan yang pertama kali kami lakukan di Zaanse Schans, Desa Kincir Angin Amsterdam Belanda adalah membeli postcard dan prangko. Hampir aku membeli tiruan kincir angin tapi mengingat perjalanan masih panjang jadi aku puas saja dengan membeli postcard.

Desa  Zaanse Schans sangat indah menurutku karena rumahnya dari kayu, banyak kincir angin serta pepohannya itu.

Ah cakep pokoknya!

Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Berada di Zaanse Schans, Amsterdam serasa dapat feelnya di Belanda terus pas di dermaganya ada tulisan ‘Rederij de schans 1971’. Disekeliling terdapat beberapa tempat kopi dan penjual souvenir. Bahkan bisa naik ke kincir angin namun harus bayar lagi. Karena kami turis photo jadi lihat dari luar saja sudah memuaskan, photo cukup kok, kan sayang uang. 😛

Mau tahu gak berapa lama kami habiskan waktu di Zaanse Schans, Amsterdam demi photo?

‘5 jam’, hihi

Bersama Jasmine di Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Di Zaanse Schans, Amsterdam kami juga masuk ke dalam sebuah toko yang menjual berbagai rasa keju. Disini aku dan Jasmine mencoba keju gratisan karena ada tester tapi gak beli, pejalan kere sekali ya?

Nah selain itu ada juga penjual waffle yang harumnya begitu menggoda, intinya aku dan Jasmine mutar Zaanse Schans, Amsterdam tanpa membeli makanan, puas dengan pemandangannya, puas dengan jalan kakinya.

Peta Desa Kincir angin

Bagi yang suka gratisan maka aku sangat sarankan ke Zaanse Schans, Amsterdam karena selain gratis pemandangannya cakep membuat berlama-lama. Jika yang hanya sehari juga gampang langsung dari Bandara ke Sloterdjik terus ke Zaanse Schans saja.

Untuk tips transport kalau kakinya liar bisa jalan seharian maka bisa membeli trasnport pass seharga 18 Euro bisa keliling Amsterdam sampai ke Haarlem namun kalau cuma mau lihat kincir aja terus cus ke negara lain maka beli double ticket aja.

Zaanse Schans, Amsterdam

Belanda negara pertama dalam trip Eropaku sangat seru, walau salah kostum karena bawa baju tropis walau sepatu rusak walau kere namun bahagia!

Bahagiaku  sangat sederhana, sesederhana melihat kincir angin di Belanda 😉

Dapat kincir angin dan dapat teman baru juga!

Happy b’day for my self ^^

Zaanse Schans
Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Ada yang sudah ke Zaanse Schans, Amsterdam?

Salam

Winny